Pantaskah Aku Digugu dan Ditiru?

Pantaskah Aku Digugu dan Ditiru?
Firman Zaelani

Langkah awalku sebagai guru bermula dari ragu yang berpadu dengan pilu,
pintu menjadi saksi bisu perjalananku dengan profesi baru.
Pukul satu, semuanya nampak kelabu, anak-anak sedang mengantuk,
aku tak terburu-buru sebab ragu masih mengganggu.

Kuhela napas, kuucap basmalah di depan mereka,
lalu kutanya diriku: pantaskah aku digugu dan ditiru?
Kutatap murid-muridku, adakah mereka percaya padaku?
Kututup dengan salam agar aku tak gugup.

Tak pernah ada bayangan tentang jalan ini,
aku datang tanpa peta, tanpa tahu harus bagaimana.
Kukira guru hanya berdiri dan mengajar,
ternyata ia juga penjaga, pendengar, dan penenang.

Di antara kelas, tugas, dan waktu yang tak pernah cukup,
kutanya diriku: ini takdir atau aku terjebak?
Pertanyaan itu ikut pulang bersamaku,
duduk diam di sisi lelah yang belum juga reda.

Kini aku belum jadi guru yang sempurna,
belum pula yakin sepenuhnya profesional.
Tapi tiap kali kuhela napas dan kuucap basmalah,
aku tahu, aku guru yang masih belajar.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan