Rinai Yang Tak Kunjung Pulang

Rinai yang Tak Kunjung Pulang

By: Lince Made Leny

Langit telah lama menatap bumi,
dengan mata yang kering dan sunyi.
Awan datang hanya membawa bayang,
lalu pergi tanpa meninggalkan kenang.

Tanah mulai retak di antara doa,
daun-daun menunduk kehilangan warna.
Sungai mengecil, mata air pun diam,
seolah hujan lupa jalan untuk pulang.

Rinai, mengapa tak kunjung pulang
Bumi telah lama menunggumu datang.
Di setiap senja, ada doa yang dipanjatkan,
di setiap pagi, ada harapan yang dipertahankan.

Petani masih menatap langit,
menyimpan sabar di balik wajah yang letih.
Benih-benih kecil menunggu kehidupan,
meski kemarau menguji ketabahan.

Barangkali hujan sedang tersesat,
mencari jalan melewati langit yang pekat.
Barangkali Tuhan sedang mengajarkan,
bahwa menunggu pun adalah sebuah keteguhan.

Maka biarlah bumi terus berharap,
meski retaknya semakin tampak jelas.
Sebab setelah kemarau yang panjang,
selalu ada kemungkinan langit menurunkan terang.

Dan ketika suatu hari rinai kembali,
jatuh perlahan membasahi bumi,
biarlah setiap tetesnya menjadi saksi
bahwa penantian yang panjang
tak pernah sia-sia bagi hati yang tetap percaya.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *