
Sertifikat Kehormatan Pak Aden
Aroma kayu tua dan bau kusam kertas LKS selalu menjadi teman setia Pak Aden di ruang guru SMA MULTI. Di usianya yang menginjak empat puluh delapan tahun, garis-garis halus di dahi dan sepasang mata yang mulai merabun menggambarkan perjalanan panjang dua dekade mengabdi sebagai guru honorer mata pelajaran Sejarah. Dengan gaji bulanan yang tak pernah cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga, pengabdian Pak Aden didorong oleh satu tekad yang bulat: mencerdaskan anak-anak desa.
Namun, di balik senyum ramahnya di depan kelas, ada kecemasan mendalam yang menghantuinya setiap malam. Kelulusan anak sulungnya ke perguruan tinggi dan kebutuhan sekolah si bungsu makin menghimpit ekonomi keluarga. Satu-satunya titik terang yang terus ia kejar selama bertahun-tahun adalah Tunjangan Profesi Guru atau sertifikasi. Bagi Pak Aden, tunjangan itu bukan sekadar tambahan angka di rekening, melainkan jaminan kelayakan hidup bagi keluarga kecilnya.
“Pak, apa tidak sebaiknya Bapak ikut bimbel persiapan PPG lagi tahun ini?” tanya Ningsih, istrinya, pada suatu malam di dapur yang remang. Tangannya sigap membungkus tempe mendoan untuk dijual ke warung tetangga esok subuh.
Pak Aden menghentikan pulpennya di atas tumpukan lembar jawaban siswa. Ia menatap istrinya dengan tatapan bersalah. “Bimbel berbayar mahal, Bu. Uang simpanan kita cuma cukup untuk bayar pendaftaran ulang kuliah Mas Rian. Biar Bapak belajar sendiri saja, manfaatkan materi gratis di internet”.
Perjuangan Pak Aden dimulai dari pembenahan data di sistem birokrasi pendidikan. Bertahun-tahun lamanya, jam mengajar Pak Aden di sekolah yayasan tempatnya bernaung dianggap belum memenuhi syarat minimal dua puluh empat jam tatap muka linier. Demi menutupi kekurangan itu, Pak Aden harus rela mengajar di dua sekolah lain. Setiap hari, ia menempuh perjalanan puluhan kilometer menggunakan sepeda motor tuanya yang kerap mogok di tengah jalan. Dari SMA MULTI di pagi hari, ia memacu motornya menembus terik menuju SMP swasta di pinggiran kabupaten, lalu mengajar kelas sore di madrasah aliyah.
Setiap malam, usai menuntaskan tugas sekolah dan membantu istri membungkus dagangan, Pak Aden duduk di meja belajar tua. Di bawah sinar lampu bohlam sepuluh watt, ia menatap layar monitor komputer jinjing rakitan bekas yang kipasnya berisik seperti mesin parut. Usia yang tak lagi muda membuat mata Pak Aden cepat lelah saat membaca modul-modul digital yang tebal. Jemarinya yang kaku perlahan mengklik latihan soal di Platform Merdeka Mengajar.
Tantangan terbesar hadir ketika ia harus melewati tahapan Seleksi Akademik atau Pretest PPG. Sebagai guru senior, kemajuan teknologi informasi menjadi tembok tinggi yang menyulitkannya. Ketika guru-guru muda dengan cepat menyelesaikan tes berbasis komputer, Pak Aden sering kali kebingungan dengan sistem navikasi soal, pengunggahan dokumen portofolio, hingga teknis perekaman video pembelajaran.
“Pak Aden, kalau butuh bantuan untuk bikin rekaman video modul ajar, panggil saya saja,” tawar Bayu, guru muda yang mengajar Geografi.
“Terima kasih banyak, Mas Bayu. Saya ini gagap teknologi, kalau tidak dibantu anak-anak muda, rasanya sulit sekali mengejar ketertinggalan,” jawab Pak Aden tulus, menyapu peluh di dahinya.
Pengorbanan itu makin terasa berat saat proses Pendidikan Profesi Guru resmi dimulai secara daring selama beberapa bulan. Jam tidurnya berkurang drastis. Ia harus membagi fokus antara kewajiban mengajar murid-muridnya di tiga sekolah, mendampingi ujian siswa, dan menyelesaikan belasan tugas kaji ulang, pembuatan rencana aksi, serta unggahan video praktek mengajar sebelum tenggat waktu tengah malam.
Sering kali, di tengah malam yang dingin, jaringan internet di desanya putus tiba-tiba. Pak Aden yang panik terpaksa mengayuh sepeda motor ke balai desa yang berjarak tiga kilometer demi mendapatkan koneksi Wi-Fi publik, berdiri di bawah naungan pohon randu sambil memangku komputer jinjingnya hingga unggahan tugas berhasil seratus persen.
Suatu hari, ujian berat menghampirinya. Di tengah persiapan Uji Kinerja dan Uji Pengetahuan sebagai tahapan akhir sertifikasi, sepeda motor tua yang menjadi satu-satunya sarana transportasinya mengalami kerusakan parah pada bagian mesin. Di saat yang sama, Pak Aden harus membayar biaya tes kesehatan dan administrasi pendaftaran ujian.
“Bu, apa kita punya simpanan lebih?” tanya Pak Aden pelan di ruang tamu.
Ningsih menghela napas panjang, lalu berjalan ke kamar dan kembali membawa sebuah kotak kaleng bekas roti. Di dalamnya tersimpan beberapa lembar uang kertas lusuh hasil jualan mendoan selama berbulan-bulan. “Ini ada sedikit, Pak. Pakai saja dulu untuk perbaiki motor dan urus syarat ujian. Jangan sampai perjuangan Bapak bertahun-tahun berhenti di tengah jalan hanya karena uang”.
Air mata Pak Aden menetes. Ia menggenggam erat tangan istrinya yang makin kasar. Keikhlasan sang istri menjadi bahan bakar utama yang membakar kembali semangatnya yang hampir padam.
Hari Uji Pengetahuan berbasis komputer pun tiba. Pak Aden mengenakan kemeja putih terbaiknya satu-satunya kemeja yang warnanya belum terlalu kusam dan celana kain hitam. Di dalam ruang ujian pusat perguruan tinggi yang berpendingin udara dingin, tubuh Pak Aden sempat menggigil. Bukan hanya karena pendingin ruangan, melainkan rasa cemas yang membuncah. Ia memandang layar monitor, membayangkan senyum istrinya, wajah anak-anaknya, dan harapan murid-murid di sekolah.
Jemarinya yang tremor mulai memegang mouse. Soal demi soal pedagogik, profesional Sejarah, hingga analisis kasus pembelajaran ia selesaikan dengan teliti dan penuh kehati-hatian. Setiap kali menemukan soal yang rumit, Pak Aden memejamkan mata sejenak, memohon kemudahan kepada Sang Pencipta.
Setelah ujian berakhir, masa penantian terasa bagaikan siksaan lambat. Berbulan-bulan Pak Aden menunggu hasil pengumuman dengan dada yang selalu berdebar setiap kali membuka portal resmi kementerian.
Hingga pada suatu sore di penghujung bulan, hujan deras mengguyur desa. Angin kencang membuat suasana makin mencekam. Pak Aden duduk di teras rumah, menggenggam ponsel pintarnya dengan jemari yang gemetar. Ditemani Ningsih yang berdiri tepat di sampingnya, Pak Aden memasukkan nomor peserta dan tanggal lahirnya ke halaman pengumuman Kelulusan PPG.
Layar ponsel itu menampilkan ikon berputar selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Garis pemuat berjalan pelan. Lalu, sebuah kotak berwarna hijau cerah muncul di bagian tengah layar:
SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS UJIAN KOMPETENSI MAHASISWA PENDIDIKAN PROFESI GURU (UKMPPG)
Seketika itu juga, pertahanan batin Pak Aden runtuh. Ponsel dalam genggamannya hampir terjatuh. Ia bersujud di atas lantai semen teras rumahnya yang dingin, menangis sesenggukan. Ningsih langsung berlutut dan memeluk suaminya, ikut menumpahkan air mata kebahagiaan yang selama ini tertahan.
Rasa lelah bertahun-tahun, malam-malam tanpa tidur di balai desa, hinaan keterbatasan teknologi, hingga dinginnya hujan saat menembus jalanan antar-sekolah, lunas terbayar dalam satu detik itu.
Beberapa bulan kemudian, lembaran Sertifikat Pendidik resmi berada di genggamannya, disusul dengan cairnya Tunjangan Profesi Guru. Kehidupan keluarga kecil Pak Aden mulai membaik. Kebutuhan kuliah anaknya terjamin, dan dapur rumahnya tak lagi sesak oleh kecemasan esok hari.
Sore itu, Pak Aden kembali berdiri di depan kelas SMA MULTI. Sinar matahari keemasan menembus jendela kayu, menyinari papan tulis hitam tempat ia menggoreskan sejarah. Dengan senyum penuh kebanggaan dan dedikasi yang makin membara, Pak Aden memegang kapur tulisnya. Ia tahu, sertifikasi ini bukan sekadar pencapaian materi, melainkan pengakuan atas kehormatan dan perjuangan seorang guru sejati yang tak pernah menyerah pada keadaan”.






