Ujung Tombak Generasi
UJUNG TOMBAK GENERASI
Dr. Lince Leny,SH.M.Pd
Namaku adalah Adelin, aku lahir di sebuah daerah yang menurut orang-orang bahwa daerahku ini adalah bagaikan kepingan surga yang jatuh ke bumi. Aku lahir dari keluarga yang sederhana. Tetapi dalam kehidupan keluarga kami, Orang tua betul-betul memprioritaskan pendidikan, sehingga dengan kerja keras mereka, mampu menyekolahkan kami berempat sampai menyelesaikan pendidikan sarjana.
Singkat cerita setelah aku menyelesaikan pendidikan S1 di salah satu ibukota propinsi, akupun kembali ke kotaku berharap ilmu yang kudapatkan selama 3 tahun 8 bulan sesegera mungkin dapat aku aplikasikan di tengah-tengah masyarakat. Tetapi ternyata harapan yang ku angan-angankan tidak menjadi realita untuk bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Tetapi hal itu tidak menyurutkan langkahku untuk terus bisa berusaha. Sehingga seiring berjalannya waktu aku pun mulai bekerja di sebuah kantor koperasi yayasan.
Tetapi karena hasrat untuk bisa kembali berdiri di depan kelas terus menggebu-gebu seperti pada masa kuliah yang kadang menjadi asisten dosen memaksaku untuk kembali melanjutkan pendidikan Akta IV di sebuah universitas di kotaku. Setahun aku belajar teknik-teknik mengajar, dan setelah itu aku dengan penuh percaya diri melamar di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri sebagai guru honorer. Dan mulailah aku mengajar di sekolah tersebut. Tahun pertama aku mendaftar menjadi CPNS tetapi belum berhasil sampai pada tahun kedua. Tahun ke tiga akupun kembali mendaftar, dan bersyukur namaku tertera di sebuah koran pengumuman bahwa lulus untuk menjadi CPNS profesi guru.
Mengaplikasikan ilmu yang di miliki yang di dapatkan selama pendidikan sarjana dan teknik mengajar tidaklah cukup untuk bisa maksimal dalam menuntun siswa menjadi manusia seutuhnya, Tahap demi tahap harus di lalui, agar apa yang di harapkan bisa maksimal, menuntun dan membimbing anak – anak menjadi manusia seutuhnya.
Sebagai seorang guru yang berangkat dari universitas (S1) yang tidak spesifik menghasilkan calon guru, membuat pandangan lingkungan sekitar menjadi ragu, tetapi dari pandangan itu menjadi cambuk untuk bisa menjadi pembimbing dan penuntun bagi siswa-siswanya, karena idealisnya bahwa betapa bahagianya menjadi seorang guru yang tampil penuh kharisma di hadapan siswanya, Sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya di segani, tutur katanya ditaati, dan kepergiannya ditangisi. memaksaku untuk kembali melanjutkan pendidikan strata dua agar kemampuan membimbing dan menuntun semakin maksimal, Karena pendidikan sejatinya adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya agar memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”. (UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1)
Untuk menjadi guru sebagai sosok yang pantas digugu dan ditiru, akupun berpikir bahwa sangat penting menempuh pendekatan yang disertai dengan kelembutan terhadap anak didik sehingga tantangan yang di hadapi anak-anak didiknya perlahan akan menemui jalan keluar. Karena sejatinya menurut mas mentri bahwa semua tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru. Karena selama ini dengan mulai meredupnya nuansa kasih sayang dalam interaksi antara guru dengan siswa telah melahirkan sikap guru yang lebih suka menghukum daripada tersenyum. Guru lebih suka menghardik daripada bersikap empati. Guru yang baik adalah guru yang melandasi interaksinya dengan siswa diatas nilai-nilai cinta dan kasih sayang. Karena dengan cintalah akan lahir keharmonisan. Apalagi di era globalisasi yang selalu mengedepankan emosi di sisi hati, ditengah mewabahnya kekeringan sosial dan krisis kesantunan moral, maka sebuah keniscayaan bagi guru untuk merevitalisasi penanaman sikap santun dan keramahan di sekolah sebagai lembaga rekayasa sosial. Seperti yang katakan oleh pakar pendidikan kita Arif Rahman bahwa diera reformasi yang serba kebablasan ini guru harus mengajar muridnya dengan hati (cinta dan kasih sayang) bukan emosi.
Asa yang gemilang yang akan di raih oleh anak-anak yang di bimbingnya tentunya menjadi harapan dalam benakku. Berharap bahwa goresan pena, rangkaian kalimat yang menggema dalam ruang yang terbatas itu akan menghantarkan sebuah harap untuk sebuah nilai yang tak tertandingi. Karena torehan ilmu itu akan menghasilkan insan-insan yang mampu bangkit dari ketidaktahuan, mampu berdiri di atas kakinya sendiri dan itu akan di godok oleh hati seorang guru yang kreatif dan profesional agar dunia mereka tidak kosong, tidak hanya warna hampa, gelap tak bisa apa-apa, tak bisa ke mana-mana. Tapi kini hadirku, dunia mereka penuh warna, goresan garis-garis dan juga kata yang dulu hanya mimpi itu telah ku ajarkan, tentang warna yang indah tentang garis yang harus di lukis juga tentang kata yang harus di baca.
Ah….perjuangan yang tak akan berhenti, menanti hasil dari setiap perjuangan yang terus berlanjut .Berjuanglah terus, mereka akan mengenangmu dalam memori perjalanan hidup mereka.
Bumi Toraja
