Andai Waktu Bisa di Pinjam

ANDAI WAKTU BISA DIPINJAM

Lince Made Leny

Aku adalah seorang pendidik. Tapi kali ini, aku tidak ingin bercerita tentang ruang kelas, papan tulis, seabrek administrasi atau siswa-siswa atau teman seprofesi, yang biasanya memenuhi hari-hariku. Aku ingin bercerita tentang diriku sendiri, tentang perjalanan yang sering luput kuperhatikan, tentang waktu yang diam-diam berlalu tanpa sempat kusapa dengan utuh. Hari-hariku selalu dimulai lebih cepat dari kebanyakan orang. Pagi yang masih dingin, jalanan yang belum ramai, dan pikiranku yang sudah penuh dengan rencana. Aku terbiasa bergerak cepat, seolah waktu adalah sesuatu yang harus selalu dikejar. Tanpa sadar, aku jarang berhenti untuk sekadar bertanya: bagaimana kabarku hari ini ? Apakah tubuhku sehat?

Aku terlalu sibuk menjadi “seorang pendidik” hingga lupa menjadi “diriku sendiri”. Ada masa di mana aku begitu bersemangat. Setiap langkah terasa ringan, setiap rencana terasa mungkin. Aku menikmati proses belajar, membaca, dan mengembangkan diri. Aku percaya bahwa menjadi pendidik adalah panggilan yang tidak hanya tentang memberi, tetapi juga terus bertumbuh. Namun, seiring waktu, semuanya berubah perlahan. Rutinitas mulai terasa berat. Tanggung jawab semakin banyak. Harapan dari berbagai arah datang silih berganti. Aku tetap berjalan, tetap melakukan semua yang harus kulakukan, tapi di dalam hati, ada sesuatu yang mulai terasa kosong.

Aku mulai lelah,capek, Bukan lelah fisik semata, tetapi lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan. Lelah karena harus selalu kuat, selalu siap, dan selalu terlihat mampu. Aku jarang memberi ruang untuk diriku sendiri, merasa rapuh. “Aku baik-baik saja,” begitu yang selalu kukatakan. Padahal, tidak selalu begitu. Ada malam-malam di mana aku duduk sendiri, sepi, memandang waktu yang terus berjalan tanpa henti. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku benar-benar beristirahat, bukan hanya tubuhku, tetapi juga pikiranku.

Dan di situlah pertanyaan itu muncul.”Andai waktu bisa dipinjam” Aku ingin meminjam waktu untuk kembali ke diriku yang dulu. Yang lebih ringan, lebih tulus menikmati proses, dan tidak terlalu keras pada diri sendiri. Aku ingin meminjam waktu untuk berhenti sejenak,beristirahat sekejap tanpa rasa bersalah. Untuk tidak selalu merasa harus produktif, harus kuat, harus kerja keras atau harus sempurna.

Aku ingin meminjam waktu untuk memperbaiki hubungan dengan diriku sendiri. Selama ini, aku terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain. Aku belajar, bekerja, dan berusaha menjadi yang terbaik. Tapi dalam proses itu, aku sering lupa bertanya: apakah aku bahagia?  Aku mulai menyadari bahwa aku sering menunda hal-hal kecil untuk diriku sendiri. Menunda istirahat. Menunda menikmati hal sederhana. Menunda mendengarkan suara hatiku sendiri. Aku selalu berpikir, “nanti saja, kalau sudah tidak sibuk.”

Namun, kesibukan itu tidak pernah benar-benar selesai. Hari demi hari berlalu, dan aku tetap berada dalam lingkaran yang sama. Sampai suatu hari, aku merasa benar-benar lelah, benar-benar capek.  Bukan hanya lelah, tetapi kosong. Hari itu, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Bukan berhenti dari tanggung jawabku, tetapi berhenti dari cara pandangku yang selama ini terlalu keras. Aku duduk sendiri, tanpa melakukan apa pun. Tidak membuka pekerjaan, tidak memikirkan rencana. Hanya duduk dan mencoba hadir.

Awalnya terasa aneh. Seolah aku sedang membuang waktu. Tapi perlahan, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Aku mulai mendengar pikiranku sendiri. Aku mulai menyadari bahwa aku tidak harus selalu berlari berkejaran dengan waktu. Bahwa tidak apa-apa jika sesekali berjalan pelan, bahkan berhenti sejenak. Aku tidak benar-benar bisa meminjam waktu. Aku tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua yang sudah terlewat. Tapi aku bisa melakukan sesuatu yang lebih penting. Aku bisa menggunakan waktu yang ada sekarang dengan lebih sadar.

Sejak saat itu, aku mulai berubah perlahan, tidak drastis. Aku mulai memberi waktu untuk diriku sendiri. Bukan waktu yang besar, hanya momen-momen kecil. Aku belajar menikmati pagi tanpa tergesa.  Aku belajar beristirahat tanpa rasa bersalah.
Aku belajar menerima bahwa aku tidak harus sempurna. Aku juga mulai berdamai dengan masa lalu, Dengan semua yang pernah terjadi. Dengan semua keputusan yang mungkin tidak ideal. Dengan semua momen yang terlewat. Dengan semua versi diriku yang pernah berjuang sekuat yang ia bisa.

Aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar gagal. Aku hanya belajar, dengan caraku sendiri. Dan waktu, meski tidak bisa dipinjam, ternyata tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Ia selalu ada dalam setiap detik yang kupilih untuk benar-benar hadir. Kini, aku tidak lagi berharap bisa meminjam waktu. Aku tidak lagi ingin kembali ke masa lalu. Karena aku mulai memahami bahwa yang terpenting bukanlah berapa banyak waktu yang kumiliki, tetapi bagaimana aku menjalaninya, bagaimana aku bisa menikmati setiap moment yang terjadi.

Sebagai seorang pendidik, aku akan tetap menjalani tanggung jawabku. Aku akan tetap belajar, bekerja, dan berusaha menjadi lebih baik. Namun kali ini, aku tidak akan melupakan diriku sendiri. Aku akan memberi ruang untuk lelahku. Aku akan memberi waktu untuk pulih kembali. Aku akan memberi kesempatan untuk menjadi manusia yang bebas, bukan hanya peran. Dan jika suatu hari aku kembali merasa kehilangan arah, aku tahu harus kembali ke  mana. Bukan ke masa lalu. Bukan ke waktu yang ingin kupinjam. Tetapi kembali ke  tempat di mana aku benar-benar hidup. Karena pada akhirnya, andai waktu bisa dipinjam, yang paling aku butuhkan bukanlah tambahan waktu, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak dan benar-benar hadir untuk diriku sendiri.Top of Form

Bottom of Form

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *