
AKADEMIK TIDAK SERUMIT MEMBANGUN KARAKTER
“PELIK”, itulah gambaran dari seorang pendidik yang menjelajah di dunia pendidikan selama 27 tahun.
saya bisa membuat anak hafal perkalian dalam seminggu tetapi saya butuh bertahun-tahun, bahkan gagal untuk membuat satu anak berhenti berbohong. saya sulit untuk membebaskan lingkungan dari sampa, botol minuman mineral, plastik-plastik bekas makanan ringan, dan banyak lagi jenis sampah yang menjadi pemandangan di halaman sekolah. padahal di pojok-pojok sekolah sudah banyak banner himbauan tentang kebersihan misalnya:
“Buanglah Sampah pada tempatnya!”.
“Bersih itu indah!”.
“Membuang sampah sembarangan? Malu donk!”
Namun banner-banner itu tidak membawa dampak yang signifikan. Di sana-sini lingkungan tidak pernah bebas dari sampah.Di lain hal, saya juga pernah menjadi Kepala perpustakaan selama dua periode. Di awal saya menduduki posisi tersebut, saya bangga begitu masuk di ruang perpustakaan dengan kondisi buku tertata rapi, tempat baca yang didesain menarik, dan dinding-dinding perpustakaan yang semarak dengan slogan-slogan untuk memotivasi minat baca Seperti :
” Buku jendela dunia ”
” Hari ini membaca, besok bisa ”
” Ayo membaca! ”
Dalam bayangan saya, perpustakaan sekolah akan menjadi favorit anak-anak untuk membaca karena sarana baca yang cukup lengkap, bersih, dan nyaman. Namun apa yang terjadi? Harapan tidak berbanding lurus dengan kenyataan. Hari-hari saya bertugas di perpustakaan saya amati data kunjungan anak ke perpus. Ternyata kondisi perpustakaan yang menarik berhias slogan- slogan motivasi,tidak secara otomatis direspon oleh anak-anak. Kunjungan anak untuk membaca minim. Saat istirahat yang ramai justru kantin sekolah,perpustakaan dan pondok literasi yang memfasilitasi anak untuk membaca tidak seindah yang saya bayangkan.
Dari dua fakta yang terjadi di sekolah tersebut, yaitu lingkungan yang tidak pernah selesai dengan sampah dan minimnya aktivitas anak membaca, menjadi renungan saya untuk menelisik akar permasalahan yang menjadi penyebabnya, Slogan, himbauan tentang kebersihan itu sudah dipasang di sudut-sudut sekolah, dan waktu upacara bendera, melalui amanat pembina upacara, sudah berulang kali ditegaskan untuk tidak membuang sampah sembarangan, berbagai slogan motivasi membaca sudah marak di perpustakaan. Namun kedua ikhtiar tersebut tidak berdampak secara signifikan terhadap pembiasaan positif anak-anak di sekolah. Sekolah tidak pernah terbebas dari sampah, minat baca sangat minim. Lalu di mana permasalahannya? inilah yang menjadi PR besar bagi kita sebagai pendidik.
Kalau kita sejenak menoleh ke negara-negara berpendidikan maju dengan karakter pembiasaan murid yang luar biasa, baik dalam menjaga kebersihan sekolah dan minat baca, faktor fundamental yang mereka terapkan adalah “membangun karakter di usia pendidikan dini”, sejak PAUD, TK, SD. Jepang dan Finlandia misalnya, di negara tersebut, dari pendidikan usia dini hingga kelas 3 Sekolah dasar hanya fokus membangun karakter, sedangkan akademik diberikan kemudian. Sejak pendidikan dini, tidak ada akademik, tidak ada hafalan, tidak rangking, yang ada bagaimana mereka mencintai lingkungan, bagaimana mereka menghargai teman, bagaimana mereka memahami budaya antre dan yang paling urgen bagaimana mereka bisa familiar dengan buku dalam rangka menciptakan budaya literasi.
Inilah yang kontradiktif dengan sistem pendidikan kita. Sistem pendidikan kita terlalu asyik dengan akademik sejak usia dini. Pendidikan kita terlalu sibuk dengan hafalan, perkalian, dan ranking, mengabaikan sistem untuk bangun karakter di usia dini. Dampaknya apa yg kita rasakan saat ini? lingkungan sekolah dan masyarakat kita tidak pernah selesai dengan sampah, minat baca kita termasuk terendah se- ASIA, bahkan di tingkat dunia, kita di posisi yang memprihatinkan.
Yang lebih memprihatinkan, UNESCO masih memberi predikat rendah mutu terhadap pendidikan kita, padahal kita sudah gonta-ganti kurikulum, pelatihan dengan metodologi pembelajaran, sudah sering kita lakukan. Lalu pertanyaannya mengapa kita masih rendah mutu? ini yang menurut penulis tidak terlepas dari sistem pendidikan kita yang kurang fokus terhadap pendidikan karakter di usia dini, seperti yang dilakukan negara-negara yang berpendidikan maju misalnya Finlandia, Jepang, dan China. Faktor fundamental dalam mencetak pendidikan bermutu adalah membangun karakter di usia dini dengan partisipasi orang tua, peran pemerintah dan sekolah. Bagaimana pendidikan bisa maju di tengah anak malas membaca, bagaimana lingkungan sekolah bisa bersih di tengah anak yang tidak peduli dengan lingkungan, itu semua harus dijawab dengan “membangun karakter” di pendidikan usia dini.
Pada akhirnya, setelah 27 tahun menjadi guru saya sadar membangun karakter itu hanyalah seberkas cahaya yg terabaikan di kelas-kelas kita, yang selama ini silau oleh angka angka hafalan dan ranking.Kita terlalu fokus secara akademik tetapi rapuh secara karakter dan kerapuhan itulah yang hari ini menjadi masalah besar bangsa, khususnya dalam dunia pendidikan yang masih berstatus rendah mutu. Maka saya berharap dari tulisan kecil saya, Semoga sistem pendidikan dini kita segera bergerak ke arah pendidikan berbasis karakter, bukan hanya mengejar angka, hafalan, dan ranking dalam menyiapkan Generasi Emas 2045 yang jujur, kuat iman, dan bertakwa kepada Tuhan YME.





