Di Luar Garis Takdir dan Ruang Hening

Di Luar Garis Takdir dan Ruang Hening
Karya: Monica Deslintia, S.Sos

Di umur dua puluh enam aku mulai melangkah
membawa ijazah yang bukan dari jurusan pendidikan.
Tapi takdir malah membawaku ke jalan ini
menghubungkan hatiku dengan pekerjaan yang mulia.

Dua tahun sudah berlalu aku jalani
mengajar kebaikan dan menjaga harapan mereka.
Memang tidak mudah menjalani hari demi hari
tapi rasanya selalu membahagiakan.

Di gerbang sekolah yang terbuka lebar
aku menyambut senyum dan sapaan polos anak-anak.
Melihat harapan baru mulai tumbuh di diri mereka
terasa segar seperti udara di pagi hari.

Di ruang BK yang tenang dan nyaman
pintuku selalu terbuka untuk mendengar cerita mereka.
Tempat mereka berbagi rahasia
tempat menumpahkan air mata hingga rasa cemas hilang.

Kami mengobrol bersama dan mengusir rasa ragu
mencari jalan keluar agar hati kembali tenang.
Canda dan tawa pun terdengar lepas
menghilangkan semua rasa lelah yang ada.

Mengajar itu bukan cuma memberi pelajaran
tapi juga menyentuh hati dan membentuk karakter.
Setiap kesedihan mereka jadi perhatianku
dan setiap senyuman mereka adalah hadiah terbaik bagiku.

Dua tahun ini mengajarkanku pentingnya benar-benar ada untuk mereka
menjadi pendengar yang baik saat keadaan terasa berat.
Walau tantangan di depan masih sulit
pilihan menjadi guru ini terasa sangat menenangkan.
Membuatku merasa berarti sebagai seorang pengajar
yang membimbing anak-anak meraih masa depan mereka.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan