
Arah Pulang
Tiga ratus enam puluh derajat bumi berotasi
membawa arah ke sana dan kemari
Dua puluh empat jam terus berganti
menyimpan waktu bagi setiap insan untuk kembali.
Tenang bagi mereka,
yang tahu ke mana harus pulang
lega bagi mereka,
yang telah menemukan arah rumah
Tak peduli sejauh apa kaki melangkah
tak peduli selelah apa perjalanan
sebab selalu ada tempat untuk kembali menenangkan diri.
Lalu, bagaimana dengan kita
yang tak pernah benar-benar tahu
di mana arah itu berada?
Ke sana kemari tanpa tujuan,
menyusuri jalan yang tak bernama,
dengan separuh harapan
dan sepenuh hati yang masih menunggu.
Namun, rumah itu tak kunjung ditemu
Barangkali ia bukan tentang dinding
yang melindungi dari hujan
bukan pula tentang atap
yang menaungi kepala.
Sebab semegah apa pun sebuah rumah
ia tetap tak akan terasa pulang
jika jiwa yang berada di dalamnya
tak kunjung menemukan ketenangan.
Mungkin rumah yang selama ini kita cari
bukanlah sebuah tempat,
melainkan sebuah rasa—
tempat hati tak lagi bertanya, ke mana harus kembali.
Tempat lelah boleh beristirahat,
tempat air mata tak perlu disembunyikan,
dan tempat kita akhirnya mengerti:
pulang bukan tentang ke mana kita pergi,
melainkan kepada siapa
jiwa kita menemukan tenang.






