resensi buku #5 Lupa Endonesa

Judul buku : Lupa Endonesa

Penulis : Sujiwo Tejo

Penerbit : Bentang Pustaka

Tak malu korupsi? Tak malu berperilaku buruk?”

“Tak malu mencederai bangsa sendiri? Atau mungkin malu tak lagi menjadi tren?”

Itulah kalimat blurp yang terdapat di cover belakang buku ini. Tampaknya buku ini bisa dibaca kembali untuk kita melihat dan mengingat peristiwa memalukan apa yang terjadi pada bangsa Indonesia.

Penulis dikenal sebagai seorang budayawan, dalang dan penulis serba bisa. Penulis menempatkan dirinya sebagai pengamat sosial dan penyampai pesan moral yang kritis terhadap penguasa.

Buku ini ditulis dalam bentuk pewayangan dan menampilkan Ponokawan (Punakawan) sebagai tokoh utama, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Penulis menganggap buku ini sebagai Wayang Durangpo, singkatan dari Wayang nglinDUR bAreNG POnokawan. Nglindur atau mengingau apa saja menjadi tak mustahil dikata-katakan.

Ada beberapa kalimat petikan yang bisa saya ambil setelah membaca buku ini,

“… kalau nanti ternyata menteri-menteri yang diangkat oleh raja itu… ternyata… wujudnya saja yang manusia, tapi esensinya belum menjadi manusia.” (hlm. 47)

“… semakin hitam dan kelam kelakuan petinggi, semakin bagus topong atau mahkotanya.” (hlm.59)

“… kalau pejabat lebih lucu daripada kita… terus yang nonton kita nanti siapa…?” (hlm.61)

Sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai akal budi untuk berinteraksi dengan sesama dan lingkungan. Dengan akal dan kesadarannya, manusia mampu menciptakan nilai, norma dan pengetahuan serta bertanggung jawab atas perbuatannya.

Pertanyaannya, sudahkah kita sebagai manusia Indonesia bertanggung jawab atas segala nilai moral yang tidak baik terhadap sesama? Sudahkah kita mengakui kesalahan dan meminta maaf atas segala perbuatan melanggar nilai moral yang baik? Sudahkah kita memperbaiki hidup kita menjadi manusia yang bermartabat baik?

Buku ini menceritakan banyak kasus memalukan terjadi di negeri ini yang mungkin telah dilupakan. Beberapa kalimat dalam buku ini menggunakan kata-kata bahasa Jawa yang dapat membuat bingung ketika membacanya dan harus mengulangi kembali membaca beberapa kalimat untuk dapat mengerti. Kata-kata bahasa Jawa itu disertai dengan catatan kaki yang memudahkan saya untuk memahami.

Buku ini dapat dibaca oleh siapapun. Buku ini memberikan pesan tersirat untuk kita mengubah cara berpikir, berperilaku, dan mengambil keputusan dalam berbangsa di masa mendatang.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *