Berbalut Asa “Tentang Mimpi yang Tak Mengenal Usia”

Cerpen

Jarum jam di dinding menunjukkan sudah pukul sepuluh malam, dan suasana rumah nampak sunyi. Di kamar paling belakang, Selva duduk bersila di dalam lemari pakaian yang pintunya separuh terbuka. Di sekelilingnya, terlihat selimut tebal tergantung seadanya sebagai peredam suara. Di depannya juga berdiri sebuah mikrofon kecil yang ia beli dengan menyisihkan uang belanja selama tiga bulan.

“Selamat malam, adik-adik. Hari ini Kancil akan bercerita tentang seekor buaya yang sombong…”

Suaranya dapat berubah-ubah. Sesaat ia menjadi Kancil yang cerdik, lalu berubah menjadi buaya yang berat dan serak, kemudian menjadi burung kecil yang cempreng. Ia pun tersenyum sendiri. Pada saat seperti itu pula, ia merasa menjadi dirinya sendiri.

Ketika waktu pagi hingga sore hari, Selva Arina menjalankan profesinya sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Malang. Usianya saat ini sudah menginjak angka empat puluh tahun. Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari benar-benar naik dengan ditemani sepeda motor Scoopy warna pink, juga mengoreksi tumpukan buku tugas murid –  muridnya di sela-sela jam istirahat, lalu pulang saat azan Asar hampir berkumandang. Ketika dirumah, ia adalah istri dari Bagas Pramodya, seorang pegawai BUMN yang sabar, dan ibu dari Zuma, anak perempuan satu-satunya yang kini duduk di bangku kelas enam SD.

Hidupnya terlihat lengkap. Namun jauh di lubuk hatinya, ada satu ruangan kecil yang masih menyala.

Suara yang Disimpan

Selva jatuh cinta pada dunia sulih suara sejak masih Sekolah. Ia suka menirukan suara tokoh kartun, iklan di TV, penyiar radio, bahkan suara nenek-nenek di sinetron. Teman-temannya dulu sering berkata, “Sel, suaramu itu bagus lho. Kamu cocok banget jadi pengisi suara!”

Namun takdir membawanya ke arah lain. Ia lulus kuliah, lalu diterima menjadi guru, menikah, dan memiliki anak. Impian itu pelan-pelan ia lipat rapi dan ia simpan di sudut paling dalam. Ia hanya menyalurkannya di kelas, ketika membacakan cerpen dengan suara yang berbeda untuk setiap tokoh. Kemudian, murid-muridnya selalu bersorak.

“Bu Selva, lagi dong! Yang suara raksasa!”

Pada saat itulah Selva merasa asanya masih hidup.

Sebuah Pengumuman

Suatu malam, ketika sedang scrolling ponsel, matanya berhenti pada sebuah unggahan di Instagram. “Dibuka audisi pengisi suara untuk proyek audiobook dongeng anak. Terbuka untuk umum, semua usia. Kirimkan contoh suara Anda.”

Jantung Selva berdegup kencang. Jarinya sempat bergerak untuk menutup unggahan itu, tetapi ia berhenti.

“Huuufftt.. Umurku sudah empat puluh,” gumamnya. “Siapa yang mau mendengarkan suara ibu-ibu sepertiku?”

Keraguan datang bertubi-tubi. Bagaimana kalau aku ditertawakan? Bagaimana kalau suaraku tidak sebagus yang kukira? Bagaimana kalau semua ini hanya buang-buang waktu dan uang?

Bagas yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya termenung dengan ponsel di tangan.

“Kenapa, Bu?”

Selva ragu sejenak, lalu menyodorkan ponselnya. Bagas membacanya pelan, kemudian tersenyum.

“Terus, kenapa belum dikirim?”

“Aku sudah tua, Mas. Itu pasti peluangnya untuk anak-anak yang masih muda.”

“Hmm.. Tapi di situ tertulis untuk semua usia,” jawab suaminya lembut. “Impian tidak punya batas umur, Bu. Yang punya batas itu cuma kesempatan, dan kesempatan itu sedang ada di depanmu sekarang.”

Dari balik pintu, Zuma ikut menyela. “Ibu, aku mau ikut bantu rekaman! Aku yang pegang ponselnya, ya!”

Selva tertawa kecil, matanya berkaca-kaca. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tak sendirian membawa mimpinya.

Malam-Malam Latihan

Sejak saat itu, lemari pakaian berubah menjadi studio rekaman. Setiap malam, setelah pekerjaan rumah selesai dan tugas murid selesai dikoreksi, Selva berlatih. Ia mengulang satu kalimat belasan kali hanya untuk mendapatkan intonasi yang pas. Kadang suaranya serak karena terlalu lelah. Kadang ia ingin menyerah karena merasa rekamannya biasa saja.

“Ibu, yang tadi bagus banget lho,” kata Zuma suatu malam sambil memeluk lengan ibunya. “Waktu jadi buaya, aku sampai merinding.”

Kalimat polos itu membuat Selva bertahan.

Akhirnya, setelah seminggu penuh berlatih, ia mengirimkan contoh suaranya. Jarinya gemetar ketika menekan tombol kirim. Setelah itu ia hanya bisa menunggu.

Satu minggu berlalu. Tidak ada kabar.

Dua minggu berlalu. Masih sunyi.

Selva mulai berpikir bahwa mungkin memang bukan jalannya. Ia kembali mengajar seperti biasa dan tersenyum seperti biasa. Namun setiap kali ponselnya berbunyi, hatinya tetap melonjak, lalu mengecil lagi ketika yang muncul hanya pesan dari grup guru.

Suatu sore, ketika ia sedang menjemur pakaian, ponselnya bergetar. Sebuah surel masuk.

“Selamat sore, Ibu Selva. Kami sangat terkesan dengan contoh suara Ibu. Karakter yang Ibu bawakan terasa hidup dan hangat. Kami ingin mengundang Ibu untuk sesi rekaman uji coba…”

Selva terdiam. Jemuran di tangannya sampai jatuh ke lantai. Ia membaca surel itu sekali, dua kali, lalu tiga kali, memastikan matanya tidak salah.

“Mas! Zuma!” teriaknya sambil berlari ke dalam rumah. “Mereka… mereka mau Ibu rekaman!”

Zuma melompat kegirangan. Mas Bagas memeluk istrinya erat. Air mata Selva jatuh tanpa bisa ditahan, bukan karena sedih, tetapi karena lega dan bahagia yang bercampur menjadi satu.

Berbalut Asa

Sesi rekaman itu belum berarti segalanya. Selva tahu prosesnya masih panjang. Ia masih harus belajar banyak, masih harus membagi waktu antara sekolah, keluarga, dan mimpinya. Mungkin tidak semua proyek akan berhasil, dan mungkin akan ada banyak penolakan di depan sana.

Namun malam itu, ketika ia kembali duduk di dalam lemari pakaiannya yang kini terasa seperti rumah kedua, ia menatap mikrofon kecil di hadapannya dan tersenyum.

Ia sadar bahwa usia empat puluh bukanlah akhir dari mimpi, melainkan awal dari keberanian untuk memulainya. Ia adalah guru, istri, ibu, sekaligus seorang pengisi suara yang sedang tumbuh. Semua peran itu tidak saling menghapus, tetapi saling melengkapi.

“Selamat malam, adik-adik,” ucapnya lirih, dengan suara yang kini lebih mantap. “Malam ini, kita akan mulai sebuah cerita baru.”

Di luar jendela, bulan bersinar tenang. Dan di dalam dada seorang wanita empat puluh tahun, harapan itu masih menyala, hangat, dan berbalut asa.

TAMAT

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan