
Variabel Tak Terduga di Meja Plh
Layar ponsel di atas meja belajar menggetarkan permukaan kayu mahoni. Pukul 05.15 WIB. Cahaya fajar belum sepenuhnya mengusir kehitaman di langit Subang, tetapi pesan singkat di grup WhatsApp sekolah sudah menumpuk bagaikan antrean kendaraan di gerbang tol.
Pak Hadi, seorang guru matematika di SMA MULTI, menarik napas panjang. Di usianya yang baru menginjak 29 tahun, ia harus memikul beban ganda. Selain mengajar 24 jam pelajaran matematik per minggu, sudah dua bulan ini ia memegang mandat tambahan sebagai Pelaksana Harian (Plh) Kepala Sekolah. Kepala sekolah definitif, Pak Pono, sedang menjalani ibadah umrah yang dilanjutkan perawatan medis di luar kota.
Sebagai Plh, Pak Hadi memegang kendali operasional harian sekolah. Jabatan yang di atas kertas tampak bergengsi bagi guru muda berusia akhir belasan menuju tiga puluh, tetapi pada kenyataannya adalah sebuah ujian ketahanan fisik dan mental yang luar biasa.
Ia meminum sisa kopi hitamnya yang mulai dingin, lalu bergegas merapikan kemeja dan mengikat tali sepatu. Pertempuran harinya resmi dimulai.
Pukul 06.45 WIB, Pak Hadi sudah berdiri tegak di depan gerbang utama sekolah. Mengamati siswa-siswi yang berdatangan, menyapa dengan senyum ramah, sembari sesekali menegur murid yang kancing kemejanya lepas atau memakai kaus kaki berwarna tak sesuai aturan.
“Pagi, Pak Plh!” sapa Pak Danu, guru Olahraga senior, sembari melempar senyum penuh makna.
Pak Hadi hanya terkekeh pelan. Panggilan ‘Pak Plh’ itu lebih sering terdengar sebagai kelakar bernada simpati dari rekan-rekan sejawatnya. Mereka tahu betapa rumitnya posisi Pak Hadi di usia 29 tahun ini: harus mengambil keputusan cepat tanpa memiliki kewenangan penuh seperti kepala sekolah definitif, seraya memimpin guru-guru senior yang usianya jauh di atasnya.
Baru saja ia hendak melangkah menuju ruang guru, Bu Siska, bendahara sekolah, mencegatnya dengan tumpukan berkas di dada.
“Pak Hadi, maaf mengganggu pagi-pagi. Kertas HVS untuk cetak soal penilaian tengah semester habis. Vendor belum mau ngirim barang baru kalau lembar verifikasi pembayaran belum ditandatangani Plh. Terus, dispenser di ruang guru bocor dari kemarin, airnya meluber ke mana-mana”.
“Awal yang hangat untuk hari Selasa,” batin Pak Hadi.
Ia mengambil pulpen dari saku kemejanya, memeriksa dokumen secara kilat, dan membubuhi tanda tangan. “Untuk dispenser, tolong panggilkan Pak Maman ya, Bu. Biar dicek seal-nya”.
Sebelum Bu Siska berlalu, pesan darurat kembali masuk. Guru piket melaporkan bahwa Bu Indah, guru Biologi kelas XII, mendadak berhalangan hadir karena anaknya demam tinggi. Kelas XII A kosong di jam pertama dan kedua.
Sebagai Plh, Pak Hadi harus memastikan roda sekolah tetap berputar tanpa hambatan. Ia segera menyusun jadwal substitusi kilat, membagi tugas materi mandiri untuk kelas tersebut, sebelum akhirnya ia sendiri harus berlari menuju kelas XI A kelas matematika tempat ia bertugas sebagai pengajar sejati.
“Baik, anak-anak. Buka buku halaman 84. Hari ini kita membedah konsep fungsi komposisi dan invers,” ujar Pak Hadi seraya mengambil spidol putih.
Di depan papan tulis, Pak Hadi merasakan sedikit kebebasan. Matematika adalah dunia yang pasti. Ada aturan yang jelas, ada langkah-langkah sistematis, dan jika prosesnya benar, jawabannya akan selalu konsisten. Berbeda jauh dengan tugas Plh yang penuh dengan variabel tak terduga, argumen tanpa logika pasti, dan persamaan yang sering kali tak memiliki jawaban sempurna.
“Pak Hadi,” panggil Farhan, siswa di barisan depan. “Kenapa rumusnya harus dibalik kalau mencari fungsi invers? Bukannya makin rumit?”
Pak Hadi tersenyum. Ia selalu menyukai pertanyaan intuitif seperti itu. “Sama seperti kehidupan, Farhan. Kadang kita harus memutar balik langkah kita untuk mengetahui dari mana asal semua masalah ini. Dalam matematika, invers itu cuma cara kita melihat perjalanan dari sudut pandang akhir”.
Belum sempat Pak Hadi melipatgandakan penjelasannya dengan contoh soal kedua, pintu kelas diketuk dengan cukup keras.
Pak Maman, staf tata usaha, berdiri di ambang pintu dengan wajah panik. “Pak Plh, mohon maaf menyela. Ada sidak dari pengawas pembina dinas pendidikan di ruang kepala sekolah. Beliau minta laporan presensi guru dan dokumen evaluasi kurikulum bulan ini sekarang juga”.
Pak Hadi menghela napas. Kehidupan sebagai Plh adalah tentang interupsi.
Ia menatap murid-muridnya yang tampak bingung. “Kerjakan latihan nomor 1 sampai 5. Diskusi dengan teman sebangku, jangan ribut. Bapak ditinggal sebentar”.
Pak Hadi berjalan cepat menelusuri koridor. Di ruang kepala sekolah, Pengawas Pembina, seorang pria paruh baya berseragam PNS rapi, sudah duduk menanti. Selama satu setengah jam berikutnya, Pak Hadi harus berganti peran secara drastis dari seorang pendidik muda yang ramah menjadi pejabat manajerial yang harus mempertahankan akuntabilitas sekolah.
Ia memaparkan data, menunjukkan grafik kehadiran guru, dan menjelaskan penyesuaian kurikulum yang telah diterapkan. Pengalaman belajarnya di bidang matematika sangat membantu di sini. Ia menyajikan data dalam bentuk tabel terstruktur yang rapi, membuat pengawas manggut-manggut terkesan.
Duka terbesar menjadi seorang Plh muda berusia 29 tahun bukan terletak pada tumpukan berkas atau kelelahan fisik, melainkan perasaan ‘terjepit’ di antara dua sisi.
Sore harinya, setelah bel pulang berbunyi pada pukul 15.30 WIB, Pak Hadi mengumpulkan para guru senior dalam rapat terbatas terkait persiapan ajang seni tahunan.
“Rekan-rekan sekalian, berdasarkan alokasi anggaran sementara, kita perlu mengefisiensikan anggaran dekorasi dan panggung pementasan”, buka Pak Hadi secara hati-hati.
Bu Heni, guru Seni Budaya yang sudah mengajar selama 25 tahun di sekolah itu, menyilangkan tangan di dada. Matanya menajam menatap sang Plh muda.
“Pak Hadi, pentas seni ini adalah wajah sekolah kita. Kalau panggungnya seadanya, anak-anak bakal kecewa. Dulu waktu Pak Ruslan masih aktif, anggaran seni tidak pernah dipotong”.
Rasa dingin merayap di tengkuk Pak Hadi. Kalimat ‘Waktu Pak Ruslan masih ada…’ adalah kalimat paling beracun bagi seorang Plh. Di usianya yang baru 29 tahun, ia kerap dianggap terlalu hijau dan terburu-buru mengambil keputusan sepihak, padahal ia bertindak atas dasar batasan wewenang keuangan seorang Plh yang terikat aturan ketat dari dinas.
“Saya sangat memahami hal itu, Bu Heni”, jawab Pak Hadi tenang, mencoba mengontrol emosinya. “Namun, posisi saya sebagai Plh memiliki batas kewenangan dalam pengeluaran dana tak terduga di atas nominal tertentu tanpa persetujuan tertulis kepala sekolah definitif. Kita tidak memotong semangat acaranya, melainkan mengalihkan fokus ke kreativitas siswa, bukan kemewahan fisik panggung”.
Rapat berakhir dengan atmosfer yang agak tegang. Pak Hadi kembali ke mejanya di ruang kerja Plh saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sekolah sudah sepi. Keheningan mulai merayap, hanya menyisakan derum samar angin sore yang menerobos lewat celah jendela.
Pak Hadi menyandarkan punggungnya pada kursi kulit. Kepala terasa berat, dan matanya berdenyut nyeri. Di atas meja, dua tumpukan dokumen menantinya: tumpukan kiri adalah lembar jawaban ujian matematika siswa kelas XI yang belum dikoreksi, dan tumpukan kanan adalah laporan pertanggungjawaban operasional sekolah untuk minggu depan.
Ia memejamkan mata sejenak. Di saat-saat seperti inilah rasa lelah dan kesepian memuncak. Menjadi pimpinan sementara berarti tidak memiliki tempat bersandar. Ia tidak bisa mengeluh kepada rekan guru karena harus menjaga moral, dan ia tidak bisa berlari ke kepala sekolah yang sedang berfokus pada penyembuhan.
Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar di pintu kayu yang terbuka separuh.
Farhan, siswa yang tadi pagi bertanya di kelas XI B, berdiri di sana membawa sebuah kertas buram.
“Belum pulang, Farhan?” tanya Pak Hadi lembut.
“Belum, Pak. Tadi saya ikutan ekskul KIR dulu. Anu… Pak, saya mau ngumpulin jawaban nomor 5 yang tadi pagi belum sempat Bapak bahas di kelas. Saya coba pakai konsep invers yang Bapak jelasin, dan ternyata ketemu jawabannya”.
Farhan menyodorkan kertas itu. Di atas kertas bergaris tersebut, terukir deretan persamaan matematika yang rapi, lengkap dengan garis bawahi ganda pada jawaban akhir yang tepat.
Pak Hadi menatap kertas itu, lalu menatap wajah muridnya yang berbinar bangga. Seketika, rasa lelah yang menggunung di pundaknya seolah menguap.
Inilah “suka” dari ribuan “duka” yang ia jalani. Di balik kerumitan stempel Plh, kewajiban manajerial yang menyita waktu, dan tekanan dari berbagai pihak, ia sadar bahwa identitas terbesarnya adalah seorang guru. Melihat seorang anak memahami sebuah konsep dan menemukan jalan keluar dari ketidaktahuannya adalah hadiah terbesar yang tidak bisa dinilai dengan tunjangan jabatan apa pun.
“Pekerjaan yang bagus, Farhan,” kata Pak Hadi dengan senyum tulus yang terpancar dari matanya. “Langkahnya runtut, logikanya masuk. Kamu berhasil”.
“Makasih ya, Pak Plh! Eh… Pak Hadi!” ujar Farhan tertawa kecil sebelum berpamitan pulang.
Pak Hadi melihat jam dinding. Pukul 17.30 WIB. Ia mengambil pulpen merahnya, menarik tumpukan lembar ujian matematika siswa, lalu mulai mengoreksi satu per satu.
Di usia 29 tahun, menjadi Plh Kepala Sekolah sekaligus guru matematika memang seperti menyelesaikan persamaan kalkulus tingkat tinggi penuh tantangan, rumit, dan melelahkan. Namun, Pak Hadi tahu, setiap variabel yang ia perjuangkan hari ini sedang membentuk grafik masa depan yang lebih baik, baik bagi sekolahnya maupun bagi dirinya sendiri.





