Bukan Tentang Seberapa Cepat, tetapi Seberapa Kuat Bertahan

Bukan Tentang Seberapa Cepat, tetapi Seberapa Kuat Bertahan

Lince Made Leny

Ada perjalanan yang tidak bisa diukur hanya dengan jarak. Ada perjuangan yang tidak dapat dinilai hanya dari seberapa cepat seseorang mencapai tujuan. Demikian pula perjalanan menempuh pendidikan doktoral. S3 bukan sekadar tentang mengejar sebuah gelar, melainkan tentang perjalanan panjang untuk belajar bertahan, belajar percaya, dan belajar menerima bahwa tidak semua proses berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Ketika pertama kali memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral, mungkin yang terbayang adalah sebuah cita-cita besar untuk bisa  menjadi seorang doktor, dapat menyelesaikan disertasi, dan mengenakan toga di hari wisuda. Namun, di balik bayangan indah itu, terdapat proses panjang yang penuh tantangan. Ada hari-hari ketika semangat begitu tinggi, tetapi ada pula hari ketika ingin membuka laptop saja terasa berat karena pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan.

Apakah penelitian ini akan selesai? Apakah saya mampu melewati semua proses ini?
Apakah perjuangan yang saya jalani akan sampai pada titik yang saya impikan? Apakah Jurnal-jurnal saya nantinya akan terbit ? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang terus bersiliweran muncul di pikiran. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin pernah hadir dalam perjalanan banyak mahasiswa doktoral. Sebab S3 bukan hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga menguji kesabaran, ketekunan, kedisiplinan, dan kekuatan hati.

Menempuh pendidikan doktoral sering kali terlihat sederhana dari luar. Orang mungkin hanya melihat seseorang pergi kuliah, melakukan penelitian, menulis disertasi, mengikuti seminar, kemudian menyelesaikannya.Bahkan mungkin sebagian orang ada yang tidak tahu bahwa seseorang itu sedang menyelesaikan pendidikan S3 nya, karena terlihat sibuk dengan pekerjaan sehari-hari. Kegiatan social bahkan seabrek pekerjaan rumah, sehingga tidak terlihat bahwa ada lelah yang selalu tidak terlihat.  Namun, di balik semua itu ada waktu yang dikorbankan. Ada malam-malam yang dihabiskan untuk membaca berbagai referensi. Ada halaman demi halaman yang ditulis, diperbaiki, kemudian ditulis kembali. Ada masukan dari promotor dan co promotor yang terkadang membuat kita harus mengulang pekerjaan yang telah dikerjakan berhari-hari.

Ada pula rasa kecewa ketika sesuatu yang sudah dianggap baik ternyata masih harus diperbaiki. Pada titik tertentu, kita belajar bahwa dalam perjalanan akademik, tidak semua usaha langsung menghasilkan hasil yang kita inginkan. Ada proses mencoba, salah, memperbaiki, mencoba lagi, lalu kembali belajar. Dan yang paling sangat membuat lelah dan kecewa adalah ketika sudah berjam-jam menunggu untuk pembimbingan, tiba-tiba menerima informasi pembimbing berhalangan, tapi ternyata  di sanalah sesungguhnya ketangguhan dibentuk.

 

Dalam perjalanan S3, kita sering tanpa sadar membandingkan diri dengan orang lain. Ada yang lebih cepat menyelesaikan penelitian. Ada yang lebih dahulu mengikuti ujian. Ada yang lebih cepat menyelesaikan disertasi dan akhirnya berdiri di panggung wisuda. Sementara kita masih berada di tengah perjalanan. Pada saat seperti itu, mudah sekali merasa tertinggal. Namun, perjalanan setiap orang memiliki cerita yang berbeda. Kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan yang harus dilewati seseorang untuk sampai ke garis akhir. Karena itu, perjalanan S3 bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat. Yang lebih penting adalah bagaimana kita tetap berjalan meskipun langkah terkadang lambat, karena tidak semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama.

Sebab lambat bukan berarti gagal. Berhenti sejenak untuk mengatur napas bukan berarti menyerah. Mengulang penelitian bukan berarti kita tidak mampu. Memerlukan waktu lebih panjang bukan berarti kita kurang hebat. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing, Karena setiap proses yang di lewati adalah sebuah pembelajaran untuk pengembangan diri.

Disertasi mungkin hanya sebuah karya ilmiah jika dilihat dari luar. Tetapi bagi orang yang menjalaninya, disertasi adalah kumpulan dari begitu banyak proses  membaca, berpikir, berdiskusi, meneliti, menulis, memperbaiki, dan kembali memperbaiki. Di dalamnya ada waktu, tenaga, pikiran, bahkan emosi yang tidak sedikit. Namun, justru melalui proses itulah kita belajar bahwa sesuatu yang bernilai membutuhkan ketekunan. Kita belajar bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini. Tidak semua masalah harus selesai dalam satu malam. Kadang-kadang kita hanya perlu menyelesaikan satu halaman, satu bagian, atau satu langkah kecil terlebih dahulu. Kemudian langkah kecil itu menjadi langkah berikutnya.   Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tanpa disadari, perjalanan panjang itu semakin mendekati tujuan, karena disertasi sebenarnya mengajarkan tentang kesabaran.

Perjuangan pendidikan juga bukan hanya tentang kemampuan diri sendiri. Ada doa orang tua, keluarga, anak, sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang dengan tulus memberikan dukungan. Ada pesan sederhana yang terkadang menjadi kekuatan: “Semangat, sebentar lagi selesai.” Ada doa yang mungkin tidak pernah kita dengar, tetapi terus dipanjatkan oleh orang-orang yang mencintai kita. Karena itu, ketika suatu hari kita merasa lelah, mungkin kita perlu mengingat kembali alasan mengapa kita memulai, “Bukan hanya demi gelar” “Bukan hanya demi sebuah gelar doktor yang tertulis di depan nama. Tetapi demi sebuah perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih mampu memberikan sesuatu bagi orang lain, Dan di balik semua itu ada doa yang terpanjatkan di balik setiap langkah.

Ada kalanya kita merasa bahwa pencapaian terbesar adalah ketika akhirnya dinyatakan lulus. Namun, jika direnungkan lebih dalam, mungkin kemenangan itu sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum hari wisuda.  Kemenangan itu terjadi ketika kita memilih membuka kembali laptop setelah merasa lelah. Ketika kita kembali membaca setelah merasa bosan. Ketika kita memperbaiki tulisan setelah menerima banyak koreksi. Ketika kita tetap datang ke kampus meskipun semangat sedang tidak sempurna. Dan ketika kita berkata kepada diri sendiri: “Saya belum selesai, tetapi saya tidak akan menyerah.”Dan bertahan adalah sebuah kemenangan hakiki. Kalimat sederhana itu mungkin menjadi bahan bakar terbesar dalam perjalanan panjang.

Suatu hari nanti, ketika perjalanan S3 itu telah selesai, mungkin kita akan melihat kembali semua yang pernah dilalui. Malam-malam panjang. Tumpukan buku dan jurnal. Halaman disertasi yang berkali-kali diperbaiki. Ada rasa lelah, ada kekhawatiran, bahkan ada kegagalan kecil. Dan berbagai doa yang pernah dipanjatkan. Semua itu akan menjadi bagian dari sebuah cerita. Cerita tentang seseorang yang pernah hampir menyerah, tetapi memilih bertahan. Sebab pada akhirnya, perjalanan menuju gelar doktor bukanlah tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang seberapa kuat kita bertahan ketika perjalanan terasa begitu panjang. Tidak perlu merasa kalah hanya karena langkah kita lebih lambat, Tidak perlu malu karena perjalanan kita membutuhkan waktu lebih lama., Teruslah berjalan, satu halaman demi satu halaman, satu langkah demi satu langkah. Karena setiap perjuangan memiliki waktunya sendiri untuk menemukan akhir yang indah.

Dan ketika akhirnya sampai di titik itu, kita akan menyadari bahwa yang paling berharga bukan hanya gelar yang berhasil diraih, tetapi diri kita yang telah ditempa oleh perjalanan panjang untuk sampai ke sana. Sebab gelar doktor mungkin menjadi tanda keberhasilan, tetapi ketangguhan untuk terus bertahanlah yang menjadi cerita paling berharga di baliknya, Karena pada akhirnya, gelar doktor hanyalah satu titik dalam perjalanan kehidupan. Yang akan terus tinggal adalah kisah tentang bagaimana kita melewati setiap keraguan, menghadapi setiap kesulitan, dan tetap percaya bahwa perjuangan yang dilakukan dengan ketulusan tidak pernah benar-benar sia-sia.

Dan jika toga itu akhirnya dikenakan, biarlah ia bukan hanya menjadi simbol sebuah gelar, tetapi menjadi saksi bahwa pernah ada seseorang yang berjalan begitu jauh, bahkan pernah jatuh berkali-kali, menangis dalam diam, namun memilih untuk tidak menyerah. Dan ketika sampai di garis akhir, mungkin kita akan tersenyum sambil berkata kepada diri sendiri: “Ternyata aku bukan tidak mampu. Aku hanya sedang ditempa untuk menjadi lebih kuat.”

 

 

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *