
Gugur Dedaunan di Persimpangan Jalan dan Sepotong Senja yang Menghampirinya dalam Sunyi
Gugurlah dedaunan di persimpangan jalan
seperti perkataan-perkataan yang kehilangan suaranya
namun tetap mencari wajah langit
sebagai rumah yang memberi terang
dalam menunaikan segala sembahyang
yang belum tuntas dirapalkan.
Aku berdiri di antara dedaunan itu
merenungi jejak-jejak yang terbaca
pada pundak batu-batu kecil dan debu jalanan
bahwa ke mana pun setiap tubuh yang tiada
selalu ada Engkau di balik pintu yang belum dibuka.
Dedaunan yang jatuh bukanlah kesalahan angin
sebab ia telah selesai menjadi kehidupan di dahan waktu
kemudian menyerahkan dirinya kepada tanah
seperti seorang mistikus yang akhirnya memahami:
bahwa pulang bukanlah kembali
melainkan lenyap dari segala yang bukan Dia.
Lalu datanglah senja
sepotong cahayanya berjalan perlahan
membawa keindahan di telapak langit
dan menghampiri dedaunan yang gugur
seolah hendak berkata:
“Jangan takut kepada jalan yang kehilangan arah
sebab setiap persimpangan
selalu menyimpan sebuah tempat rahasia;
dan setiap kehilangan adalah cara Tuhan
mengosongkan tangan agar kita belajar menerima.”
Senja pun duduk di antara dedaunan dan kesunyian.
Aku melihat cahaya terakhir mencium bumi
tanpa pernah mengaku sebagai matahari
di sanalah aku mengerti
bahwa Tuhan kadang tak datang
sebagai gemuruh wahyu
melainkan sebagai dedaunan yang jatuh tanpa suara
sebagai senja yang sebentar menghampiri luka
lalu menghilang: agar kita mencari-Nya
dengan seluruh sunyi.
Malam perlahan menutup jalan
namun di persimpangan jalan itu
sebuah daun masih bergetar
seperti mengingat perjalanan-perjalanan
yang belum selesai.
Senja yang telah pergi
meninggalkan sepotong cahaya
di dalam jiwaku:
bahwa yang gugur tak selalu kehilangan
dan yang pergi tak selalu meninggalkan
barangkali, keduanya sedang pulang
kepada Yang Maha Pulang.
Atambua-NTT, 29 Agustus 2026





