Bunyi Token dan Azan

Jangan jadi guru kalau mengharapkan hasil yang besar. Sebuah kutipan yang kubaca dari akun media sosial. Aku sempat berpikir, mengapa guru yang pekerjaannya banyak dan tanggung jawabnya besar, hanya digaji ratusan ribu? Boro-boro untuk bisa membeli barang mewah, buat makan sehari-hari saja tidak mencukupi. Umurku kini dua puluh delapan tahun, sejak wisuda lima tahun yang lalu. Sebenarnya aku pernah ditawari oleh paman yang bekerja sebagai sipir, niatnya aku disuruh menggantikan posisinya yang pensiun. Tapi, aku menolak dengan hormat. Aku ingin mengabdikan diri sebagai guru minimal satu tahun. Setelah jadi guru ini yang aku rasakan. Aku melamun dan menatap langit-langit kantor. Tiba-tiba anak murid berada di depanku minta tolong.

“Pak Guru, bukakan jajan.” 

Aku dengan sigap membukakan kemasan jajan untuk anak murid. 10 detik kemudian, datang lagi muridku. 

“Pak Guru, kebelet pipis.” 

Aku membukakan kancing celananya dan mengantarkannya ke toilet. Lima menit kemudian, belum sempat duduk datang lagi murid. 

“Pak Guru, Haikal nakal.” 

Aku menanggapinya dengan mengucapkan, “Haikal, jangan nakal. Main-main saja. Jangan bertengkar.” Lalu aku kembali duduk di kantor, kunyalakan kipas angin karena hawanya panas. 

“Pak Guru, kapan pulang?”

“Masih lama ya nak, kita pulang jam empat sore. Sekarang masih jam dua belas siang, istirahat dulu sana bermain sama teman-teman.”

Aku memposting foto kegiatan hari ini di akun media sosial Instagram dengan keterangan, hari ini cukup melelahkan, bolak-balik mengurus anak murid. Lagi asyik menggulirkan media sosial terdengar bunyi token listrik. Tit-tit. Aku mendekati sumber bunyi token yang habis, segera mengisi ulang token kembali. 5 detik kemudian, terdengar suara azan yang berkumandang dari masjid. Allahu Akbar, Allahu Akbar

Aku bergumam, kenapa dengar bunyi token aku langsung terburu-buru gerak mengisi ulang, seolah takut kegelapan. Pas dengar azan kok nggak langsung berangkat ke masjid ya. Kuambil kunci, kunyalakan sepeda motor lalu berangkat ke masjid. 

“Pak Guru, mau ke mana?”

“Mau salat ke Masjid, Nak.”

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *