
Bumi Yang Terluka
Nyanyian Bumi yang Terluka
Di ufuk timur surya terbangun malu, Menyapa embun di pucuk daun hijau, Udara segar berhembus perlahan syahdu, Membawa kabar dari rimba yang berkilau.
Dahulu sungai mengalir sebening kaca, Ikan-ikan menari di balik batu kali, Hutan rimbun menjadi rumah semesta, Tempat bernaung satwa yang bebas berlari.
Namun kini wajah bumi kian berubah, Warna hijau mulai pudar ditelan beton, Hutan merintih, batangnya rebah berkuah, Digantikan asap dan bising mesin yang monoton.
Lihatlah langit yang tak lagi biru cerah, Tersumbat polusi, kelabu menutup pandang, Burung-burung terbang dengan sayap lelah, Mencari dahan di antara puing yang gersang.
Sungai yang jernih kini menjadi keruh, Beban sampah menyumbat nadinya yang lesu, Manusia membuang sisa tanpa rasa luh, Hingga air kehidupan berubah jadi empedu.
Gunung-gunung digali, perutnya diperas, Mencari permata namun meninggalkan luka, Tanah yang dulu subur kini mengeras, Menangis pedih saat hujan membawa petaka.
Banjir datang menyapa di setiap musim, Menelan rumah dan tawa anak manusia, Alam membalas dendam dengan cara ekstrem, Atas segala ego yang melampaui rahasia.
Panas mentari kini terasa membakar kulit, Es di kutub mencair, lautan mulai naik, Bumi sedang demam, nafasnya makin sulit, Menunggu uluran tangan yang berniat baik.
Jangan tanya mengapa badai sering datang, Jangan heran jika bunga enggan mekar lagi, Jika kita terus bersikap layaknya pemenang, Padahal kita hanyalah tamu di bumi ini.
Masihkah ada sisa cinta di dalam dada? Untuk sekadar menanam sebatang pohon kecil, Atau berhenti membuang plastik seenaknya, Langkah yang nyata meski tampak begitu kutil.
Mari kita dengar kembali bisikan angin, Yang merayu kita untuk kembali menjaga, Hentikan serakah, ubah niat dan batin, Sebelum seluruh pusaka alam jadi hampa.
Ajarkan pada anak cucu tentang makna, Bahwa selembar daun adalah nyawa berharga, Bahwa menjaga hutan bukanlah sebuah hina, Melainkan warisan yang lebih mulia dari harta.
Biarlah akar kembali mengikat tanah, Biarlah mata air kembali memancar tulus, Kita adalah penjaga, bukanlah penjajah, Yang harus memastikan rantai takkan terputus.
Dunia ini bukan milik kita seorang, Tapi titipan bagi mereka yang akan lahir, Jangan biarkan mereka melihat alam yang gersang, Atau meminum air dari telaga yang kikir.
Bangkitlah sekarang wahai penghuni bumi, Satukan langkah dalam satu harmoni hijau, Pulihkan luka, rawatlah dengan kasih murni, Agar esok pagi, alam kembali bersinar silau.
Simfoni yang Memudar
Di bawah langit yang memikul beban jelaga, Tanah retak bercerita tentang dahaga yang lama, Akar-akar tua merayap mencari sisa nyawa, Di antara riuh kota yang lupa akan asalnya.
Dulu, angin adalah kurir aroma melati, Membawa pesan sejuk dari pegunungan tinggi, Kini ia membawa debu dan sesak di hati, Mengetuk jendela rumah yang tertutup sepi.
Hutan bukan lagi benteng hijau yang perkasa, Ia hanya barisan tunggul yang meratapi nasib, Kicau murai berganti deru gergaji baja, Menghilangkan melodi dalam sunyi yang gaib.
Kita membangun istana dari tulang belulang rimba, Menghias dinding dengan kulit satwa yang tiada, Merasa bangga di atas takhta yang fana, Tanpa sadar rumah sendiri sedang binasa.
Lihatlah ke muara tempat segala limbah bermuara, Lautan membiru kini menyimpan racun dalam rahimnya, Terumbu karang memutih, kehilangan warna, Menjadi saksi bisu atas khianat manusia.
Hujan tak lagi jatuh sebagai rahmat yang suci, Ia datang membawa amarah dan lumpur hitam, Menyapu harapan yang baru saja bersemi, Meninggalkan duka dalam pelukan malam yang kelam.
Es di ujung dunia sedang menangis dalam diam, Tetesannya menaikkan nisan di pesisir pantai, Bumi sedang menggigil di balik panas yang tajam, Menanti kita bangun dari tidur yang terlampau santai.
Plastik-plastik abadi menjerat leher samudra, Menjadi santapan pahit bagi penghuni kedalaman, Kita menabung bencana dalam bungkus yang indah, Menyisakan sampah sebagai satu-satunya peninggalan.
Masihkah ada ruang untuk sebuah penyesalan? Di tengah deru pembangunan yang tak kenal henti, Atau kita lebih memilih hidup dalam kepalsuan, Sambil melihat satu demi satu spesies mati?
Marilah kita kembali menyentuh tanah dengan rendah, Merasakan denyut nadi bumi yang kian melemah, Satu bibit yang tertanam adalah doa yang indah, Untuk menebus segala dosa dan salah yang melimpah.
Jangan biarkan sungai hanya menjadi saluran duka, Biarkan ia kembali bernyanyi menuju muara jati, Bersihkan setiap aliran dari noda dan luka, Agar kehidupan kembali mengalir di nadi ini.
Cukuplah kita menjadi saksi atas keruntuhan, Kini saatnya menjadi arsitek bagi pemulihan, Bukan dengan kata-kata manis penuh impian, Tapi dengan tangan yang kotor demi penghijauan.
Ajari jemari kecil itu untuk mencintai kelopak, Bukan sekadar memetik namun merawatnya tumbuh, Biar mereka paham bahwa setiap langkah yang dipijak, Adalah tanggung jawab atas alam yang sedang rapuh.
Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang, Kita hanya meminjamnya dari anak cucu kita nanti, Jangan kembalikan pinjaman dalam bentuk yang gersang, Hingga mereka tak punya tempat untuk berdiri.
Jadilah pelindung bagi setiap jengkal kehidupan, Sebelum sunyi benar-benar menjadi raja di semesta, Pulihkan dunia dengan cinta dan kesungguhan, Agar hijau kembali menjadi warna yang paling nyata.
Elegi Akar dan Awan
Di rahim tanah yang kini terasa semakin hangat, Cacing-cacing gelisah mencari liang perlindungan, Manusia sibuk mengejar dunia dengan sangat, Hingga lupa pada pijakan yang memberi kehidupan.
Awan tak lagi menyimpan rindu yang murni, Ia sarat akan partikel sisa pembakaran yang pekat, Menunggu waktu untuk jatuh membasahi bumi, Namun membawa asam yang membuat daun berkarat.
Dahulu, rimba adalah kitab yang tak habis dibaca, Setiap pohon punya cerita, setiap bunga punya nama, Sekarang halaman-halamannya koyak dibakar paksa, Menjadi abu yang terbang tanpa arah dan makna.
Sungai-sungai kecil kini kehilangan suara gemericik, Terkubur di bawah aspal dan semen yang kaku, Nafasnya tersumbat oleh ego yang picik, Meninggalkan aroma busuk di sela-sela waktu.
Gunung-gunung berdiri dengan luka menganga di pundak, Kulit hijaunya dikupas demi bebatuan dan mineral, Hutan yang dulu lebat kini perlahan retak, Menghadapi kehancuran yang dianggap hal normal.
Kita adalah penghuni yang paling sering lupa, Bahwa oksigen tak bisa dibeli di pasar modal, Bahwa kesejukan tak lahir dari mesin-mesin rupa, Tapi dari rindang dahan yang kini tinggal sejarah fatal.
Jangan biarkan kicau terakhir burung menjadi sunyi, Di antara tiang-tiang besi yang mencakar langit, Sebab tanpa mereka, pagi takkan lagi berseri, Hanya ada keheningan yang terasa sangat pahit.
Lautan mulai memuntahkan apa yang bukan miliknya, Ribuan ton sampah yang kita lempar tanpa dosa, Ikan-ikan mati dengan perut penuh rahasia, Tentang plastik yang kita ciptakan sepanjang masa.
Bumi sedang berbicara lewat badai dan kemarau, Sebuah bahasa peringatan yang sering kita abaikan, Alam tak butuh kita untuk tetap memukau, Tapi kitalah yang butuh alam untuk bertahan.
Genggamlah sekepal tanah dan rasakan getarnya, Ada kehidupan yang memohon untuk tetap ada, Ada harapan yang terselip di antara akar-akarnya, Menunggu tangan manusia untuk kembali menyapa.
Mulailah dari halaman kecil di depan pintu, Tanamlah satu doa dalam wujud pucuk yang hijau, Biarkan ia tumbuh menjadi pelindung waktu, Penghalau panas yang membuat hidup kian kacau.
Kurangi jejak hitam yang kita tinggalkan di jalan, Berilah ruang bagi rumput untuk kembali bernafas, Sebab setiap jengkal alam adalah keajaiban, Bukan sekadar komoditas yang bisa diperas.
Warisi anak-anakmu dengan mata air yang jernih, Bukan air mata yang tumpah karena kekeringan, Biarkan mereka mengenal hutan tanpa rasa sedih, Melihat dunia yang utuh dalam dekapan perlindungan.
Waktu terus berjalan menuju titik yang rawan, Pilihannya ada di tangan kita yang memegang kendali, Menjadi penghancur yang akan dilupakan zaman, Atau menjadi penyelamat yang mencintai bumi kembali.
Sebelum senja benar-benar menutup cakrawala, Mari kita berjanji pada sisa-sisa hutan yang ada, Bahwa hijau akan tetap menjadi warna semesta, Dan kehidupan akan terus tumbuh dengan rida-Nya.
Mandat untuk Tanah dan Air
Di jantung rimba yang kini detaknya kian lirih, Pohon-pohon raksasa tumbang dalam satu malam, Tanah yang dulu lembap kini mengerang perih, Menyaksikan hijaunya hilang ditelan bayang kelam.
Langit tak lagi jujur menunjukkan warnanya, Tertutup tirai abu yang menyesakkan dada, Udara yang kita hirup kini penuh rahasia, Tentang jelaga yang merampas nafas tanpa jeda.
Sungai adalah urat nadi yang kini tersumbat, Mengalirkan duka berwarna pekat dan berbusa, Ikan-ikan hanyut dalam takdir yang sekarat, Terjerat limbah dari tangan yang penuh dosa.
Lihatlah karang-karang yang mulai memutih pucat, Kehilangan warna di dasar laut yang menghangat, Siklus kehidupan kini perlahan mulai cacat, Sebab suhu bumi naik membawa amarah yang sangat.
Gunung tak lagi gagah menyangga cakrawala, Perutnya dikuras habis hingga kering kerontang, Kita menukar emas dengan bencana yang membara, Lalu heran saat tanah longsor datang menerjang.
Pesisir meratap saat air laut mulai naik, Menelan dermaga dan kenangan yang tersisa, Iklim berubah haluan tak lagi bisa dibilik, Menantang manusia yang merasa paling kuasa.
Bumi bukan lagi panggung yang abadi, Ia adalah raga yang lebam penuh sayatan, Ditinggalkan sendiri dalam sunyi yang abadi, Jika kita terus buta oleh nafsu pembangunan.
Namun, di sela batu masih ada tunas yang menyembul, Mencari celah cahaya untuk sekadar bertahan, Sebuah tanda bahwa harapan belum benar-benar tumpul, Masih ada waktu untuk memulai sebuah perbaikan.
Mari kita letakkan sejenak parang dan gergaji, Lalu ambil cangkul untuk menanam bibit cinta, Biarkan akar-akar baru saling berjanji, Mengikat tanah agar tak lagi hanyut dalam air mata.
Biarkan air kembali mengalir dalam kemurnian, Tanpa plastik yang menjerat setiap alirannya, Kembalikan sungai pada fitrah kesucian, Menjadi cermin bagi langit dan seisinya.
Hentikan asap yang mencuri biru dari awan, Gantilah dengan nafas hutan yang menenangkan, Setiap lembar daun adalah prajurit kawan, Yang setia menyaring racun dari lingkungan.
Ajari generasi baru untuk memegang tanah, Bukan sekadar menggenggam gawai dan layar kaca, Biar mereka tahu betapa berharganya sebongkah gabah, Dan betapa sucinya air yang mengalir di desa.
Jangan wariskan mereka gurun yang membara, Atau udara yang harus dibeli dengan harga mahal, Berikan mereka alam yang penuh dengan suara, Kicau burung dan deru angin yang masih normal.
Dunia ini hanyalah sebuah titipan yang singkat, Bukan milik kita untuk dirusak sesuka hati, Pulihkanlah sekarang sebelum waktu kian mengikat, Dan kita terjebak dalam penyesalan yang abadi.
Bangunlah simfoni baru bersama alam semesta, Di mana manusia dan pohon hidup dalam harmoni, Rawatlah bumi ini dengan segenap jiwa dan doa, Agar esok pagi surya masih menyapa dengan asri.
Narasi Hijau yang Tersisa
Di altar bumi yang mulai retak dan menua, Kita berpijak di atas luka yang tak bersuara, Menghirup sisa oksigen di antara debu dunia, Sambil berpura-pura semua baik-baik saja.
Dahulu, rimba adalah katedral tanpa dinding, Tempat angin berbisik pada rimbunnya jati, Kini yang tersisa hanyalah sunyi yang meruncing, Sebab pohon-pohon telah rebah dan mati.
Langit tak lagi melukis biru dengan tulus, Warna kelabu kini menjadi jubah sang awan, Nafas kota terasa sesak dan kian haus, Tercekik asap dari mesin-mesin sang lawan.
Sungai yang dulu bening meliuk bak naga, Kini menyeret bangkai sampah di nadinya, Airnya hitam, kehilangan rupa dan karsa, Menanggung beban dari tangan yang buta egonya.
Di pesisir, laut mulai naik dengan amarah, Menagih ruang yang selama ini kita jarah, Es di kutub menangis, cairannya menumpah, Menandakan suhu bumi kian gawat dan parah.
Gunung-gunung digali hingga ke tulang sumsum, Diperas demi kilau emas dan batu bara, Alam yang dulu memberi kita senyum, Kini hanya menyisakan lubang penuh lara.
Kita sering lupa bahwa tanah punya batas, Ia bukan sekadar alas untuk beton menjulang, Jika setiap jengkal hijau terus kita pangkas, Lalu di mana lagi burung-burung akan pulang?
Badai datang membawa pesan yang mencekam, Banjir bertamu tanpa mengetuk pintu lagi, Itulah cara alam bicara dalam lebam, Meminta kita berhenti menyakiti diri sendiri.
Lihatlah plastik yang kini abadi di perut ikan, Menjadi hiasan pahit di dasar samudra biru, Kita menabung racun dalam setiap kemasan, Mewariskan petaka bagi generasi yang baru.
Masihkah ada nurani di balik megah gedung? Untuk menyisakan ruang bagi akar bernafas, Sebab tanpa pohon yang setia memayung, Kehidupan akan layu dan hilang dengan lekas.
Mari kita mulai membasuh luka pertiwi, Dengan tangan-tangan yang siap menanam, Bukan sekadar kata yang terbang lalu mati, Tapi aksi nyata yang tertanam dengan dalam.
Biarkan satu bibit tumbuh menjadi saksi, Bahwa kita masih peduli pada hari esok, Memulihkan hutan dari segala degradasi, Hingga udara tak lagi terasa menusuk dan sesak.
Kurangi jejak hitam di atas tanah ini, Pilihlah cara hidup yang selaras dengan alam, Biarkan sungai kembali bernyanyi pagi ini, Membawa kesegaran hingga ke waktu malam.
Jangan biarkan anak cucu kita kelak, Hanya melihat hijau dari buku sejarah, Biarkan mereka merasakan tanah yang lunak, Dan menghirup udara tanpa rasa resah.
Sebab bumi hanyalah satu, tak ada gantinya, Rumah besar bagi segala rupa nyawa, Jagalah ia selagi masih ada detaknya, Agar kehidupan tetap abadi dalam harmoni mulia.






