
Satu Saf di Balik Kabut
Jejak yang Tertinggal
Udara di sekretariat Mapala siang itu terasa pengap oleh aroma sepatu bot lembap dan tumpukan tali kernmantle yang baru saja dibersihkan. Di pojok ruangan, Gendis sedang sibuk menata kotak P3K. Sebagai mahasiswi kedokteran semester lima, ia adalah aset berharga bagi tim ekspedisi Gunung Slamet kali ini. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali matanya menangkap sosok Satria yang sedang memeriksa daftar logistik di meja tengah.
Satria adalah anomali di antara para pendaki yang gemar berteriak lantang. Ia tenang, gerakannya efisien, dan sorot matanya selalu tampak seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Baginya, gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipelajari. Ketenangan itulah yang membuat Gendis jatuh hati, sekaligus merasa terintimidasi.
“Gendis, pastikan stok obat dekstrosa dan pembalut darurat dilebihkan. Cuaca di Slamet sedang tidak bersahabat,” suara itu datang dari Clarissa, sang Ketua Mapala.
Clarissa berdiri dengan tangan bersedekap, menatap Gendis dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sejarah yang tidak tertulis di ruangan itu; semua orang tahu bahwa Clarissa dan Satria pernah menjadi pasangan impian di organisasi ini sebelum akhirnya hubungan itu kandas setahun lalu. Sejak saat itu, setiap kali Gendis berada dekat dengan Satria, suasana di sekretariat mendadak berubah menjadi medan magnet yang penuh tegangan.
“Sudah, Kak. Semua sudah sesuai prosedur,” jawab Gendis berusaha tetap profesional, meski ia tahu Clarissa sedang memberinya tugas-tugas administratif yang paling membosankan agar ia tidak punya waktu untuk mengobrol dengan Satria.
Dua hari kemudian, perjalanan dimulai. Bus tua yang membawa rombongan tiba di basecamp Bambangan saat kabut mulai turun menyelimuti perkebunan warga. Udara dingin Jawa Tengah segera meresap ke dalam jaket, membawa aroma tanah basah yang khas. Di sana, di bawah lampu neon yang berkedip di pelataran basecamp, Satria menghampiri Gendis yang sedang kesulitan mengatur beban di dalam tas kerilnya.
“Sini, biar aku bantu atur center of gravity-nya,” ujar Satria tanpa diminta. Tangannya yang kasar namun cekatan mulai membongkar isi tas Gendis, meletakkan barang-barang berat sedekat mungkin dengan punggung.
Gendis terpaku, menatap profil samping Satria yang diterangi cahaya remang. “Terima kasih, Kak. Seharusnya aku bisa sendiri.”
Satria mendongak, matanya bertemu dengan mata Gendis. “Di gunung, tidak ada yang benar-benar bisa sendiri, Gendis. Kita hanya punya satu sama lain.”
Kalimat itu sederhana, tapi bagi Gendis, itu terdengar seperti sebuah janji. Namun, momen itu segera pecah saat suara peluit Clarissa melengking keras, memanggil semua anggota untuk berkumpul. Clarissa menatap mereka berdua dari kejauhan dengan rahang yang mengeras, sebelum akhirnya memberikan instruksi pembagian saf.
“Satria, kamu sweeper paling belakang. Gendis, kamu di saf depan tepat di belakang navigator. Kita jalan dalam lima menit!” perintah Clarissa tegas.
Gendis menghela napas. Clarissa sengaja memisahkan mereka dengan jarak barisan yang jauh. Saat langkah pertama menapaki jalur pendakian yang licin, Gendis menoleh ke belakang. Di ujung barisan, Satria berdiri tenang dengan senter kepala yang sudah menyala, memberikan jempol kecil ke arahnya. Di situlah petualangan sebenarnya dimulai sebuah perjalanan yang bukan hanya mendaki ketinggian, tapi juga menempuh jarak di antara hati yang terpendam.
Batas Sabar di Jalur Merayap
Jalur pendakian menuju Pos 3 mulai menunjukkan taringnya. Akar-akar besar pohon tua melintang seperti rintangan yang tak habis-habis, memaksa setiap pendaki untuk mengangkat kaki lebih tinggi di tengah napas yang mulai tersengal. Udara yang semakin tipis mulai memakan stamina Gendis. Sebagai tim medis di saf depan, ia harus tetap terlihat tangguh, meski beban di pundaknya terasa seolah bertambah dua kali lipat setiap jamnya.
“Langkahmu melambat, Gendis. Jangan jadi penghambat ritme tim,” suara Clarissa terdengar tajam dari posisi navigator di depan.
Gendis hanya menyeka keringat di dahinya dengan lengan jaket. Ia tidak menjawab. Ia tahu, setiap kali ia menunjukkan kelemahan, itu akan menjadi amunisi bagi Clarissa untuk meremehkannya. Dari posisi paling belakang, sesekali terdengar suara peluit pendek dari Satria sebuah kode bahwa barisan belakang masih aman, namun Gendis tahu Satria sedang memantau kondisinya dari jauh.
Saat mereka tiba di sebuah tanjakan terjal yang berlumpur, malapetaka kecil terjadi. Kaki Gendis terpeleset akar yang licin, membuatnya jatuh terduduk dengan beban keril yang menarik tubuhnya ke belakang. Rasa nyeri menjalar di pergelangan kakinya.
“Berhenti!” teriak Satria dari belakang, suaranya menggema di keheningan hutan. Ia bergerak cepat, menyalip anggota lain dengan kelincahan yang luar biasa hingga tiba di samping Gendis. “Kamu tidak apa-apa?”
“Hanya lecet sedikit, Kak,” bisik Gendis, berusaha menahan malu karena diperhatikan seluruh tim.
Satria berlutut, memeriksa posisi kaki Gendis dengan saksama. Namun, sebelum ia sempat melakukan sesuatu, Clarissa sudah berdiri di depan mereka dengan tangan berkacak pinggang. “Hanya jatuh biasa, Sat. Jangan berlebihan. Gendis, berdiri. Kita harus sampai di Pos 4 sebelum gelap. Badai diprediksi turun sore ini.”
“Dia butuh istirahat lima menit, Cla. Nafasnya tidak stabil,” potong Satria dengan nada dingin yang membuat anggota lain terdiam.
Clarissa tertawa getir, sebuah tawa yang penuh dengan sindiran. “Oh, jadi sekarang kamu lebih peduli pada satu orang daripada keselamatan seluruh tim? Kita ini Mapala, bukan sedang piknik romantis. Kalau dia tidak kuat, seharusnya dia tetap di sekretariat saja menyusun berkas.”
Kata-kata Clarissa menusuk tepat di ulu hati Gendis. Ia memaksa diri berdiri meskipun kakinya berdenyut. “Saya kuat, Kak. Kita lanjut.”
Pendakian berlanjut dengan atmosfer yang jauh lebih dingin daripada suhu udara Slamet. Langit yang semula abu-abu kini berubah menjadi jelaga. Hutan yang tadinya riuh oleh suara burung mendadak senyap, menyisakan suara gesekan dahan yang saling beradu ditiup angin kencang. Kabut mulai merayap naik, tebal dan putih, perlahan menelan punggung pendaki di depan mata.
“Gunakan jas hujan sekarang!” perintah Clarissa.
Di tengah kesibukan memakai perlengkapan, Satria mendekati Gendis yang sedang berjuang dengan raincover tasnya yang tersangkut. Tanpa sepatah kata pun, Satria membantu memasangkannya. Saat tangan mereka bersentuhan, Satria menyelipkan sebuah cokelat batang kecil ke dalam saku jaket Gendis.
“Makan ini diam-diam. Simpan tenagamu. Badai di depan akan lebih buruk dari ocehan Clarissa,” bisik Satria tepat di telinga Gendis.
Gendis menatap mata Satria. Di balik kabut yang kian pekat, ia melihat kekhawatiran yang tulus, sebuah perasaan yang Satria sembunyikan dari semua orang kecuali darinya. Namun, kehangatan itu hanya sekejap. Kilat pertama menyambar di kejauhan, diikuti dentum guntur yang menggetarkan tanah. Di bawah perintah Clarissa yang keras kepala, mereka terus bergerak masuk ke dalam “mulut” badai yang sudah menunggu di atas sana.
Amukan Slamet
Langit pecah. Hujan tidak lagi jatuh dalam bentuk butiran, melainkan seperti tirai air yang dihantamkan angin ke wajah mereka. Jalur pendakian yang tadi hanya licin, kini berubah menjadi perosotan lumpur yang mematikan. Suara angin melolong di sela-sela pohon besar, menenggelamkan teriakan instruksi Clarissa yang mulai terdengar panik.
“Rapatkan barisan! Jangan ada jarak!” teriak Clarissa, suaranya parau melawan gemuruh petir.
Gendis merasa dunianya berputar. Hipotermia mulai merayap, membuat jemarinya kaku dan sulit mencengkeram dahan untuk tumpuan. Di depannya, Clarissa terus memaksa langkah menanjak, mencoba mencari perlindungan di balik ceruk batu besar. Namun, malapetaka datang tanpa peringatan.
Tepat saat Gendis melangkahi sebuah akar pohon yang tampak kokoh, tanah di bawahnya menyerah. Gubrak! Tanah longsor kecil terjadi akibat debit air yang terlalu tinggi. Gendis kehilangan pijakan. Tubuhnya terseret ke samping, meluncur menuju bibir jurang yang tersembunyi di balik kabut tebal.
“GENDIS!” Satria meraung.
Jeritan itu adalah suara paling mengerikan yang pernah didengar tim. Satria, yang berada lima meter di belakang, melepaskan tas keril beratnya tanpa ragu. Ia melompat, meluncur di atas lumpur dengan tangan terjulur. Gendis berhasil menangkap sebatang akar cantigi, namun akar itu berderit, mulai tercabut dari tanah yang gembur.
“Satria, jangan! Tanah itu labil!” Clarissa berteriak, mencoba meraih jaket Satria untuk menahannya, tapi Satria mengibaskan tangan mantan kekasihnya itu dengan kemarahan yang meluap.
“Diam, Cla! Kamu yang membawa kami ke neraka ini!” bentak Satria.
Satria merayap di tepi jurang yang terus runtuh. Di bawahnya, Gendis bergantung dengan napas tersengal, menatap kegelapan jurang yang seolah siap menelannya. Detik itu, akar cantigi itu patah. Gendis terpekik, tubuhnya mulai terjatuh, namun dengan kecepatan yang mustahil, tangan Satria menyambar pergelangan tangan Gendis.
Krak! Bahu kiri Satria menghantam batu tajam saat ia menyentak tubuh Gendis. Bunyi tulang yang bergeser terdengar jelas di antara deru hujan. Satria mengerang hebat, wajahnya memerah menahan sakit yang luar biasa, namun genggamannya pada Gendis tidak mengendur sedikit pun.
“Pegang tanganku yang satu lagi, Dis! Cepat!” perintah Satria dengan gigi bergemeletuk.
Gendis menangis, mencoba mencari pegangan di lengan Satria yang basah dan licin oleh lumpur. Di atas mereka, Clarissa hanya bisa terpaku melihat lelaki yang pernah ia cintai sedang mempertaruhkan nyawa demi gadis lain. Rasa bersalah dan cemburu bercampur aduk, namun ia segera tersadar.
“Tali! Lempar tali webbing ke Satria!” perintah Clarissa pada anggota lain.
Tali dilemparkan, namun angin kencang membuatnya sulit dijangkau. Satria harus bertahan hanya dengan satu tangan yang sehat dan kaki yang menumpu pada tanah yang terus tergerus. “Dengarkan aku, Gendis,” bisik Satria di tengah badai, matanya menatap dalam ke mata Gendis yang ketakutan. “Aku tidak akan membiarkanmu jatuh. Kita pulang bersama, atau kita tetap di sini bersama.”
Dengan satu sentakan terakhir yang menghabiskan seluruh sisa tenaganya, dan dibantu tarikan tali dari tim di atas, Satria berhasil mengangkat tubuh Gendis hingga tangan gadis itu diraih oleh anggota lain. Saat Gendis sudah aman di jalur, Satria ambruk di atas lumpur, memegangi bahunya yang dislokasi dengan napas yang sisa satu-satu.
Badai belum reda, namun di tengah kegelapan itu, Gendis merangkak menghampiri Satria, memeluknya erat di bawah guyuran hujan es. Di sana, di antara maut yang baru saja lewat, Clarissa berdiri mematung. Ia sadar, ia tidak hanya kalah dari alam, tapi ia telah benar-benar kehilangan Satria sejak lama bukan karena jarak, tapi karena Satria telah menemukan seseorang yang layak ia perjuangkan hingga ujung nyawa.
Di Bawah Langit yang Sama
Malam itu, Gunung Slamet memberikan kedamaian yang dingin. Tim terpaksa mendirikan tenda darurat di area yang sedikit terlindungi. Di dalam tenda medis yang sempit, Gendis dengan tangan gemetar mencoba mereposisi bahu Satria yang dislokasi. Suasana sunyi, hanya ada suara rintik hujan sisa badai yang memukul kain tenda.
“Tahan sebentar, Kak. Satu… dua…” Gendis menarik lengan Satria dengan teknik yang ia pelajari di kampus.
Klik. Satria menggeram rendah, peluh dingin membanjiri keningnya. Setelah rasa sakit yang tajam itu mereda, ia menyandarkan kepalanya ke dinding tenda, menatap Gendis yang kini sedang membebat bahunya dengan kain mitela. Gendis tidak bisa menahan tangisnya lagi; air mata jatuh membasahi tangannya sendiri.
“Jangan menangis. Aku masih di sini,” bisik Satria lembut.
“Kenapa Kakak sebodoh itu? Kalau tadi talinya putus, Kakak bisa mati,” isak Gendis.
Satria meraih tangan Gendis dengan tangannya yang sehat, menggenggamnya erat. “Ada hal-hal yang lebih berharga daripada keselamatan diri sendiri, Dis. Bagiku, memastikan kamu tetap melihat matahari besok adalah misi utamaku.”
Di luar tenda, Clarissa berdiri mematung memegang dua gelas cokelat hangat. Ia mendengar percakapan itu. Perlahan, ia menarik napas panjang, membuang semua ego dan amarah yang selama ini menyesakkan dadanya. Ia menyibak pintu tenda, masuk dengan wajah yang jauh lebih tenang wajah yang tidak lagi memendam dendam.
“Ini, minumlah,” ujar Clarissa sambil meletakkan gelas itu. Ia menatap Satria, lalu beralih ke Gendis. “Gendis, maafkan keputusanku di jalur tadi. Aku terlalu terobsesi pada target hingga buta pada kondisi tim. Dan Satria… kamu benar. Dia memang tangguh.”
Clarissa memberikan senyum tipis sebuah senyum tulus yang sudah lama tidak terlihat. Ia kemudian keluar, memberikan ruang bagi keduanya, menyadari bahwa perannya dalam cerita Satria memang sudah selesai sejak lama.
Keesokan paginya, mereka turun gunung saat matahari terbit dengan gagah. Langit Slamet yang tadinya murka, kini berwarna biru jernih seolah meminta maaf. Di basecamp Bambangan, sebelum mereka naik ke bus untuk pulang ke kampus, Satria menarik Gendis menjauh dari keramaian.
Ia mengambil sebuah simpul prusik pendek dari sakunya, lalu melingkarkannya ke pergelangan tangan Gendis. “Ini bukan cincin emas, tapi ini simpul yang tidak akan pernah lepas jika ditarik beban seberat apa pun. Sama seperti perasaanku semalam di ujung jurang itu.”
Gendis menatap gelang simpul itu, lalu menatap mata Satria yang kini terlihat sangat teduh. Di antara debu basecamp dan lelah yang mendera, Gendis menyadari satu hal: gunung tidak hanya memberinya pemandangan yang indah, tapi juga memberinya seorang lelaki yang bersedia menjadi “saf paling belakang” dalam hidupnya yang tidak akan pernah membiarkannya berjalan atau jatuh sendirian.
Bus mulai melaju meninggalkan kaki gunung. Gendis menyandarkan kepalanya di bahu Satria yang masih dibebat, sementara di luar jendela, puncak Slamet perlahan menghilang ditelan kabut. Mereka pulang tidak hanya membawa cerita tentang badai, tapi membawa cinta yang telah lulus uji dari amukan alam.





