
Di Rumah yang Bernama Kenangan
Aku kembali ke tempat itu setelah bertahun-tahun berlalu.
Bangkunya masih sama, pohon itu masih berdiri, dan angin masih membawa aroma sore yang pernah kita kenal.
Hanya kita yang tidak lagi berada di sana.
Aneh, bukan?
Sebuah tempat dapat menyimpan begitu banyak suara yang sebenarnya sudah lama hilang.
Tawa kita, percakapan kecil, tatapan yang dulu sederhana semuanya seperti hidup kembali ketika aku menutup mata.
Barangkali kenangan memang tidak pernah benar-benar mati.
Ia hanya tidur di sudut paling sunyi dalam hati, lalu terbangun setiap kali sesuatu mengembalikan kita kepadanya.
Dan malam itu aku mengerti
yang paling menyakitkan dari kehilangan bukan ketika seseorang pergi, melainkan ketika kita sadar bahwa kebahagiaan yang pernah ada tidak akan pernah terjadi dengan cara yang sama lagi.






