
Ternyata Aku Seberuntung Ini
Malam semakin larut dengan alunan suara sayup-sayup terdengar suara jangkrik, memecah keheningan malamku, malam terasa dingin, langit cerah dihiasi bintang yang bertebaran menemani gagahnya raja malam yang bersinar menebar cahaya berkilauan, terasa hawa kantuk mata ini mulai menyelimuti, ku tengok sebentar jam di meja belajarku, Astagfirullah, sudah jam 1 malam lebih, segera kurapikan buku ku setelah belajar, lalu kumatikan televisi dan kurapikan playstation ku yang kumainkan sebelum belajar tadi. Aku segera tidur. Aku jatuhkan badanku ke tempat tidur, dan tidak lama itu. Akupun tertidur.
Tak terasa sudah pagi, Aku merasakan badanku di goncang-goncangkan , Aku yakin itu pasti ibuku, karena hanya ibuku yang biasa membangunkan , kubuka sedikit mataku ini yang masih sangat mengantuk, ternyata benar jika itu Ibuku.
“Bangun, nak. Kamu harus sekolah, nanti kesiangan lho. Kamu bisa terlambat”, bujuk ibu penuh dengan suara lembut. “iya bu lima menit lagi. Masih ngantuk banget, Jawabku malas dengan bola mata yang masih terpejam”.
Rasanya ingin tertidur kembali dibalik selimut, rengkuhan selimut sedikit membuatku bermalas-malasan. “Bangun nak ini waktunya sekolah, nanti kamu bisa terlambat” bujuk ibu dengan penuh kesabaran.
“Ibu, hari ini aku libur”. “Libur???? Dalam rangka apa?” Tanya ibu heran.
“Hari ini tanggal merah” kataku sambil menunjuk kearah kalender di kamarku
“Tanggal merah?” kata ibu
Kalendermu ini tanggal merah semua nak? Kalau begitu, kamu libur setiap hari”, kata ibu terkejut dan kedengaran agak kesal dengan ulahku ini.
Aku tersenyum kecil karena kalender nya yang aslinya berwarna hitam, ku kasih warna pakai spidol merah.
Kamu bandel ya nak. Cepat bangun, kamu harus sekolah atau memang kamu sudah tidak mau lagi?” suara ibu mulai meninggi. Ibu diam sejenak. “Atau kamu ingin ibu kirim ke rumah om Doni, supaya kamu bisa diawasi dan homeschooling disana” Ibu mengancam, tetapi dengan suara yang kembali melembut.
“Aku berfikir sejenak, kalau aku tidak sekolah, Aku tidak dapat uang saku, aku tidak bisa jajan. Jika aku dikirim ke om doni, Oh Tidak…………Om doni adalah adik bapakku. Dia orangnya sangat tegas dan disiplin. “Telat bangun saja pasti berat nih hukumannya. Aku pasti tidak akan betah, AH, lebih baik sekolah aja, daripada harus dikirim ke Om Doni yang mengerikan”.
“Engga Bu, irwan sekolah kok, lagian kalender Cuma iseng aja Bu”.
“Ya sudah, cepat mandi sana! Kemudian Sholat jangan lupa!, setelah itu sarapan!. Kata Ibu dan lalu meninggalkanku.
Aku segera bangun, mandi dan setelah itu sarapan. Sesuai perintah Ibu, selesai mandi kemudian ku berjalan menuju kamar untuk beribadah, karena alunan adzan sudah menggema dari tadi.
Setelah itu aku sarapan, aku ingat padahal hari ini “OMG AH MENYEBALKAN Aku belum mengerjakan tugas dan juga belum belajar untuk ulangan nanti. Gurunya galak pula, kalau begini Aku tidak bisa menyontek, mau bolos, tetapi takut ketahuan. Ya sudahlah, yang penting berangkat sekolah”.
Aku pun sampai sekolah. Aku duduk di kelas 2 SMP. bel sekolah berbunyi Ibu Guru pu masuk ke dalam kelas. Tanpa basa-basi, Ibu Guru langsung membagikan lembar soal dan lembar jawaban. Waduh, Aku harus bagaimana ini jawabnya, jawab sebisanya sajalah. Daripada menyontek ketahuan, lalu nilaiku menjadi nol. Bisa bisa Ibu ku tambah marah sama Aku.
Dengan kebingungan Aku mengerjakan soal ulangan. Setelah itu bel tanda jam berganti berbunyi, soal dan jawaban dikumpulkan . Aku mengumpulkan jawaban ulanganku dengan pasrah.
Jam pelajaran berganti. Kali ini masalah tugas, karena tidak membuat tugas, Aku di hukum Ibu Guru, berdiri di depan kelas sampai jam berakhir, kakiku benar-benar pegal, BETAPA MALANG NASIBKU INI .
Akhirnya yang Aku tunggu-tunggu datang, bel pulang sekolah berbunyi. Aku sangat senang, Aku bergegas pulang ke rumah. Sampai dirumah Aku terkejut, karena Bapak ku sudah ada di rumah. Ini tidak biasa nya, karena biasa nya pulang nya sore , tetapi sekarang siang sudah pulang.
“Sini dulu nak , ini bapak belikan baju untukmu, dan kerudung ini untuk ibu mu juga”
“Makasih ya pak” irwan mau kekamar dulu, mau tidur.
Lalu ku berjalan melewati bapak dan ibu untuk masuk kamar.
Tiba-tiba Bapakku menahan aku “ irwan sini dulu nak, duduk disini sama Bapak dan Ibu”. Kata Bapak lembut sambil melambaikan tangannya. Aku mengikuti perintah Bapak. Akupun duduk diantara Bapak dan Ibu.
“Sudah makan. wan? “Tanya Bapak.
“Belum pak” kataku tenang
“ kebetulan ayo kita makan di luar, kamu cepat ganti baju , Bapak tunggu disini”.
“Iya pak” . Aku lalu pergi menuju kamarku dan mengganti baju seragamku dengan kaos dan celana jeans pendek. Leganya aku. Aku kira Bapak dan Ibu akan memarahiku. Ternyata tidak . malah mengajak ku makan.
Setelah selesai mengganti baju, aku segera keluar dari kamarku menemui orang tuaku. Kamipun segera berangkat. Di perjalanan karena aku sangat lelah , akupun tertidur didalam mobil. Ibuku membangunkan ku karena kami telah sampai di restoran. Ketika kami memasuki restoran itu. Tiba-tiba Bapak berhenti “ Anak-Anak sini “ kata bapak pada 3 pengamen tersebut.. Aku bingung dengan yang dilakukan bapak.” Ada apa Om?” kata salah satu pengamen kecil itu. Pakaian mereka kelihatan sangat lusuh dan kelihatan kotor.
“Kalian suka?” (sambil bapak memberikan baju baru) “kata bapak ramah”.
“Iya Om terima kasih”. Kata pengamen kecil itu serempak.
“Kalian sudah makan?” Tanya bapak”.
“Belum Om”, kata mereka serempak.
“Ayo ikut Om dan keluarga makan, tetapi kalian ganti baju dulu ya dengan baju baru yang di belikan Om”.
“Bapak, kenapa mereka diajak? “tanyaku bingung”.
“Nanti kamu akan tahu”, Kata bapak sambil mengelus kepala.
Mereka kembali dengan memakai baju baru mereka yang tadi diberikan Bapak ku tadi. Kami pun masuk terlebih dahulu ke restoran , sambil menunggu pengamen-pengamen kecil lagi mengganti baju nya dengan baju baru. Lalu si pengamen-pengamen tadi akhirnya datang.
Kami pun memesan makanan. Silahkan mau pesan apa anak-anak????? “ kata Bapak”.
“Ini aja Om”. Kata mereka serempak.
Bapak membuka pembicaraan.
“Kalian itu mengamen?”. Tanya bapak.
“Iya Om”, jawab seorang anak yang memakai baju biru.
“Oh iya, Om sama Tante belum tahu nama kalian?” Tanya ibu”.
“Nama saya Budi, Om Tante” jawab anak yang memakai baju biru.
“Nama saya Juki, Om Tante” jawab anak yang memakai baju merah.
“Nama saya Agung, Om Tante” jawab anak yang memakai baju putih.
“Ini anak Om, nama nya Irwan”, kata Ibu.
Aku hanya tersenyum
Orang tua kalian kerja apa? “Tanya Bapak”.
Orang tua kami semua bekerja sebagai pemulung Om Tante. Kecuali Agung, bapaknya sebagai tukang bangunan.
“Tukang bangunan Om. Kerjaan juga tidak tentu, kadang bekerja , kadang tidak”. Jawab Agung polos.
“Lalu kalian makannya gimana? “Tanya ibu”.
“Kami makan dari hasil mengamen. “Jawab Budi”.
“Kalian sekolah? “tanyaku.
“Tidak”. Mereka semua menggeleng.
“Apa cita-cita kalian? “ Tanya bapak”.
“Jadi orang kaya, Om”jawab Budi.
“Iya, Om, benar jadi orang kaya”. Tambah Juki
“Kenapa kalian ingin jadi orang kaya? “Tanya Ibu.
“Supaya kami bisa makan enak setiap hari dan sekolah lagi tante.” Jawab Budi.”
“Sekolah lagi??? Kalian pernah sekolah?”. Tanyaku.
“Iya pernah, tetapi Cuma sampai kelas 4 saja. Kami ini satu kelas dulunya. “ jawab Budi”.
“Kenapa berhenti sekolah? “ tanyaku”.
“Tidak ada biaya kak Irwan”, jawab Budi. Aku hanya diam mendengar jawaban Budi.
Betapa bodohnya diriku selama ini, orang tua ku mampu membiayaiku aku sekolah sampai sekarang ini, tetapi aku bermalasan tidak pernah rajin belajar. Padahal hanya itu yang diinginkan orang tuaku sekarang ini. Selama ini aku menyepelekan sekolah, aku belum serius
sekolah.
Aku benar menyesal YA ALLAH, maafkan Aku,Bapak, Ibu maafkan aku. Harusnya dari dulu aku sadar, ternyata aku lebih beruntung. Jika aku jadi mereka belum tentu aku bisa sekuat mereka. Bodohnya Aku selama ini. Aku harus berubah. Berubah menjadi orang yang lebih baik lagi agar Bapak dan Ibu bahagia dan bisa bangga denganku agar aku tidak selalu mendapatkan nilai jelek dalam ulangan. Aku harus bisa mensyukuri semuanya.
“nak kamu kenapa nak? Tanya Ibu”sambil menggoyangkan tubuhku.
“Tidak apa Bu”. Jawabku.
“Kamu kenapa? Ayo makan dulu” Kata Ibu.
“Engga apa-apa Bu”, Aku terkejut saat aku melihat makanan sudah datang dari tadi.
Aku melihat Budi,Joko dan Agung makan dengan lahap. Aku senang melihat mereka hari ini. Akupun mendapat pelajaran berharga dari mereka. Kamipun makan bersama-sama dengan perasaan bahagia. Seusai makan, bapak memberi uang saku kepada mereka. Aku pun pulang dengan Bapak dan Ibu. Tersimpan rasa bahagia di hatiku.
Keesokan hari nya, aku mencoba berubah. Pertama dari bangun sendiri tanpa Ibu. Kedua Aku mempersiapkan diri dengan belajar untuk ulangan hari ini. Semalam Aku sudah belajar dan juga sudah mengerjakan tugas rumah. Ketiga Aku mencoba untuk menahan diriku untuk bermain playstation di hari sekolah. Dan semalam aku berhasil. Semoga hari berikutnya juga berhasil.
Di sekolah ternyata Aku bisa mengerjakan soal ulangan dengan cukup baik. Ternyata Aku bisa jika Aku belajar. Kenapa tidak sejak dulu YA ALLAH, terima kasih kau telahmenyadarkanku. Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk kedua orang tuaku dan untuk semuanya.





