
GURU DI MUSIM YANG PARAU Karya Bukamaruddin
Kemarau
menaruh debu
di setiap kata
Di antara kerongkongan
dan langit yang kosong
guru tetap bersuara,
serak —
menanam kelak di tanah retak
yang tinggal di setiap kepala
Hari masih memanjang tanpa hujan
sebuah kata
harus menjadi akar
meski musim mengeringkan
nama-nama daun
Bertahan,
hingga akhirnya dahan-dahan teduh. Tumbuh
berbunga, berbuah
dan kicau menjadi suara musim berikutnya
Jeneponto, 7 September 2026






