Harapan

Laju sepeda ontel terayun selaras dengan kaki bu septi yang menekan pedal sepedanya dengan tekanan yang keras. Lenguhan penat keluar dari bibir manisnya, yang tersapu dengan aliran tetes air peluh dari keringat yang  bersumber dari dahinya. Gurat guratan otot kakinya menyembul dibalik rok span yang dia pakai. Tangannya memerah berpendar di sebalik licin mulus kulit pucatnya. Angin panas berhembus keras meniup diri dan sepedanya sehingga dalam beberapa sekian detik, dia oleng kekanan dan kekiri. Namun dia tetap teguh mengayuh dan terus mengayuh sepedanya tanpa memedulikan batas kemampuan dari perintah otaknya. Sepedanya tetap melaju sejauh tujuan yang dia tuju.
Siang itu, bu septi baru saja pulang dari sekolah yang sudah menjadi tempat temuan jati dirinya selama 10 tahun terakhir. Sekolah itu juga menjadi tempat bertempa hidupnya, Tempat pahit getirnya, tempat asam manisnya, tempat setiap tetesan cucuran air matanya, tempat setiap aliran peluh keringatnya, tempat bunga-bunga keindahan hidup melingkupi tubuhnya. Ia ssendiri tahu, lebih banyak kepahitan hidup berada di sekolah itu daripada harum manisnya momen yang bisa dia hitung. Namun ia tahu bahwa ia terlalu skeptis menganggap bahwa akan ada hari yang indah untuknya akan datang suatu hari nanti. Ia tidak peduli. Selama tidak merepotkan siapapun, ia tidak akan pergi dari pancaran pancaran rona keindahan wajah anak-anak ynag tidak berdosa yang menjadi alunan lagu indan yang merasuk pelan ke telinganya.
“bu septi, bu septi..”
“bu septi, aku sayang sama bu septi, bu septi ga usah menikah aja ya, bu septi jadi ibuku aja” penggalan kalimat lucu polos yang keluar dari mulut anak kecil itu meluncur mengagetkan hati sanubarinya. Dia memutar bola matanya sambil tersenyum kecut berkata.
“ga bisa nak, alwi kan sudah punya ibu yang baik, ga boleh begitu yaa” jawabnya sambil mempertahankan senmyum manisnya.
“yaaah ibu, ibuku itu jahat buu… suka bentak-bentak aku. Aku tidak pernah dipeluknya..” alwi merengek memohon sambil menangkupkan kedua tangannya.
“maaf yaa alwi sayang..” katanya
Putaran momen itu lewat begitu saja di memori kepalanya tanpa ia minta. Pikiran konyolnya merasuk. Masa’ ia harus menjadi selingkuhan supaya mendapatkan jodoh?, ia sudah lama tidak memerdulikan hal tersebut. Tapi kok bisa ia teringat lagi ?.
Ia mengindahkan ingatan konyolnnya tersebut dan beralih ke dunia nyata dimana ia mendapati bahwa langit semakin meninggi. Sinar mentari semakin terik , peluhnya semakin berkeringat membasahi tubuhnya. Ia ingin cepat sampai pulang ke rumah.
Sesaat sampai dirumah, ia masuk dan menata sepatunya didepan pintu dan masuk kerumah sambil berucap salam. Dihadapannya, , tidak ada seorang pun.
Ia sendirian
Ia kesepian.
Seorang diri tinggal disebuah rumah tidaklah buruk namun kurang menyenangkan juga. Bu septi sudah 2 tahun kehilangan ibunya. Tidak ada yang bisa ia jadikan sandaran selama ia hidup. Ia hanya bersandar kepada diirinya sendiri.
Ia bergerak mendekati sofa ruang tamu dan duduk disana bersanadar di sandaran sofa panjang. Dirumahnya tak ada yang bisa ia lihat dan dijadikan hiburan, televisi ia jual, motor ia jual, almari baju sudah ia jual dan barang-barang yang sekiranya tidak terlalu ia butuhkan ia jual. Ia hanya punya handphone, baju 5 stel dan sepeda ontel miliknya yang ia gunakan pergi mengajar di sebuah SD. Untungnya halaman samping rumahnya adalah sebuah kebun yang ditumbuhi banyak sekali tanaman-tanaman domestic, sehingga ia tidak perlu pusing-pusing untuk mencari makan.
Selama ini ia merasa hidupnya cukup.
Cukup sekali.
Sampai suatu masa, ia rindu.
Ia bukan merindukan almh ibunya.
Atau  bahkan ayahnya.
Atau bahkan saudaranya.
Malah ia tidak punya saudara.
Ia betul- betul sendirian.
Ia rindu,
Ia rindu disayang oleh seseorang, ia merindukan seseorang memanggilnya dengan penuh kehangatan. Air matanya jatuh. Ia bukan menginginkannya. Ia membutuhkannya.
Sebagai seorang wanita, seorang guru, sebatang kara, berusia 30 tahun. Bu septi tersadar, bahwa ia membutuhkan seorang laki-;laki untuk mengisi jiwanya yang hampa. Ia membutuhkannya.
Bu septi beranjak bangkit dan menutup pintu, mengunci dan menutup jendela. Ia tidak ingin keluar rumah wwalaupun saat itu hari sabtu. Ia menutup diri di rumahnya dengan bergelut pada tulisan-tulisan novelnya yang tak kunjung usai.
Ia duduk di meja belajar dan menuliskan guratan pena nya tanpa tujuan.
“Tuhanku, aku hampa ditengah-tengah hutan keputus asaanku.
Aku terbujur, tergolek, terpaku oleh tamparan duniaku.
Aku membutuhkanmu. Hati ini kosong tuhanku.
Tidak layakkah bagiku bersanding dengan seorang makhluk terindah pilihan-MU?”

Pagi menjelang, suara kokok ayam bersahut-sahutan. Sinar mentari pagi merobek merayap di sela-sela lubang jendela di sebelah rumah. Pintu belakang terbuka. Bu septi baru saja masuk membawa daun singkong yang baru ia petik di kebun samping rumah. Ia menata daun singkong tersebut di bak cucian seraya mendongak menajamkan telinganya karena tak jauh dari sana ia seperti mendengar suara motor yang agak asing di telinganya.
Suara Motor tersebut berhenti tepat di depan rumahnya. Ia mengernyitkan dahi bertanya-tanya siapakah yang tak punya kerjaan pergi mengunjungi rumahnya. Anehnya orang itu tidak mengetuk pintu, tetapi hanya berdiri saja di depan pintu. Bu septi bisa melihat dengan jelas siluet orang itu sela pintu bawah. Selama 1 menit selanjutnya orang itu tidak juga mengetuk pintu. Bu septi mulai ketakutan. Ia mengambil sapu untuk berjaga-jaga apabila dia bermaksud jahat, bu septi akan memukulnya.
Begitu bu septi mendekati pintu, orang itu akhirnya mengetuk.
“tok, tok, tok, ,assalamu’alaikum” orang itu memberi salam. Laki-laki. Suaranya agak berat tetapi masih sopan masuk ke telinganya bu septi.
Seraya tetap memegang sapu, bu septi memutar kunci, memutar gagang pintu, dan membuka pintu. Bu septi terkejut ternganga luar biasa karena dihadapannya ternyata pak yusuf bertamu. Dia bersama anak perempuannya yang berusia 6 tahun yang sedang berdiri diam konsentrasi karena mainannya.

“maaf bu, pagi-pagi sekali saya bertamu”
“tidak apa-apa pak, oh iya silahkan masuk pak” bu septi mempersilahkan duduk.
Pak yusuf masuk menggandeng tangan putrinya, putrinya masih diam memperhatikan mainannya. Menoleh sebentar ke ayahnya terus ke bu septi lalu focus lagi ke mainannya. Hal itu  membuat bu septi gemas pingiin mengganggunya.
“aini, pipinya lucu gemes deh” canda bu septi sambil meremas pipi anak itu yang sontak dibalas dengan pekikan olehnya
“iiiiiihhh,,, aaahhh,,, ayah, tante itu loohh” cemberutnya merengek ke ayahnya. Ayahnya hanya senyum manis dan bersikap kikuk menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
“oh iya, ada perlu apa pak?” pupil mata bu septi membesar penassaran.
pak yusuf berpikir sebentar
“saya mau itu buu,, anuu..” belum selesai pak yusuf bicara, aini, putrinya merengek
“ayaaaahhhh… mau eskriiiimmm” pak yusuf tepuk jidat. Bu septi tertawa pelan. Akhirnya pak yusuf membulatkan hati dan mantab berkata
“bu septi wulandari, maukah kamu menjadi istriku, menjadi ibu dari aini anindiya.”

….

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan