Memotret dari Belakang

Pada 2023, saya berdiri di depan kelas SMP sebagai guru IPA berusia 23 tahun yang belum pernah mengajar sehari pun. Gugup? Tentu. Tetapi murid-murid tidak memberi saya waktu untuk larut di dalamnya. Kedatangan guru baru yang masih muda rupanya terlalu menarik untuk dibiarkan. Mereka menyerbu saya dengan pertanyaan: siapa nama saya, berapa umur saya, kuliah di mana, jurusan apa, seperti apa rasanya kuliah. Lalu datang pertanyaan tentang status pernikahan. Saya, guru baru yang masih mencari pijakan, mendadak ditanyai urusan hati di depan seisi kelas, dan saya tertawa. Ketika mereka tahu saya lulusan salah satu universitas ternama di Jawa Timur, giliran pipi saya yang memerah. Gugup itu runtuh, dibantu keyakinan pada kemampuan saya dan antusiasme mereka yang menular. Mungkin itulah pelajaran pertama saya sebagai guru: murid ternyata bisa menolong gurunya.
Sejak itu saya mengajar IPA untuk kelas 8 dan 9. Mengajar ternyata tidak sesederhana berdiri dan menjelaskan, apalagi ketika pekerjaan saya berlipat dua: guru kelas reguler sekaligus pembina lomba IPA. Itu berarti dua tumpuk bahan ajar. Kalau pembinaan jatuh pada hari Selasa, Senin malam saya habiskan di rumah untuk menyiapkan bahan kelas reguler. Selasa pagi saya mengajar. Setelah itu jadwal saya kosong sampai siang, dan di jam itulah saya duduk di ruang kelas, menyiapkan bahan pembinaan untuk disampaikan sepulang sekolah. Lelah itu sering terasa berat. Tetapi saya tidak pernah meragukan cara saya mengajar. Terbatas, iya. Salah, saya rasa tidak.
Ahmad, murid kelas 8, ada di kedua dunia itu. Ia murid reguler saya sekaligus peserta binaan untuk lomba sains tingkat nasional di Bogor. Dua kali ia ikut lomba itu, dua kali pula ia pulang tanpa gelar juara. Sejak Agustus, kami berlatih di ruang kelas setiap pulang sekolah, pukul 15.30 sampai 16.30. Ahmad selalu melakukan hal yang sama: mendengarkan, menulis, memahami, lalu menjelaskan kembali ketika saya bertanya. Waktu itu tidak ada sorak dan tidak ada kamera, hanya ruang kelas selepas jam pulang dan seorang murid yang mencatat dengan sungguh-sungguh.
Satu hari sebelum lomba, panitia membagikan latihan soal babak final, dan Ahmad langsung membacanya detik itu juga. Di dalam bus menuju hotel, ia masih menunduk ke layar ponsel, menelusuri soal demi soal. Saya heran dan bertanya langsung, “Apa kamu tidak pusing membaca itu ketika di bus seperti ini?” Bus terus melaju, tetapi ia tidak tampak pusing sedikit pun. Di hotel, ia membuka lembar soal itu lagi dan mencari jawabannya satu per satu. Saat makan bersama, soal itu tetap ada di tangannya, sementara tangan yang lain menyuapkan makanan.
Pada 18 Oktober 2026, saya duduk di sebelah Ahmad menunggu pengumuman. Soal final boleh dibawa peserta, jadi saya menyarankannya menerka nilainya dari jawaban yang masih ia ingat. Kami menghitungnya bersama. Hasilnya sekitar 90 lebih. “Kamu pasti juara,” kata saya, “terutama medali emas.” Tentang peserta terbaik, kami belum sampai memikirkannya.
Menjelang pengumuman kelas 8, kami sama-sama panas dingin dan berdebar. Lalu nama Ahmad muncul di layar pada kategori Medali Emas. Ia bereaksi seperti meledak, penuh semangat dan kegembiraan, lalu berjalan ke podium. Sekembalinya, ia langsung melakukan panggilan video dengan orang tuanya, yang sebelum berangkat berharap sekali anaknya pulang membawa gelar. Setahu saya, mereka menangis terharu di seberang layar, melihat anak mereka akhirnya membawa pulang apa yang mereka harapkan.
Beberapa pengumuman kemudian, tibalah giliran peserta terbaik. Ahmad masih sibuk berbincang dengan orang tuanya lewat panggilan video. Saya memanggilnya, siapa tahu, sebab saya percaya pada angka-angka tadi. Hanya satu nama muncul untuk peserta terbaik kelas 8 SMP di antara 160 peserta dari berbagai daerah, dan nama itu Ahmad.
Ia menyalami dan mencium tangan saya. Kami berpelukan sebentar. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulut kami. Kami sama-sama tidak menyangka, dan rasa senang itu terlalu besar untuk diucapkan. Lalu ia menuju podium untuk kedua kalinya. Tangan yang ia cium itu milik guru yang tiga tahun lalu masih gugup di depan kelas.
Ketika ia kembali, saya membantu mengangkat trofi yang ia raih. Tangan saya hanya membantu, tetapi rasanya seperti ikut menerimanya. Trofi itu bukan milik saya, dan saya tahu itu. Namun rasa bangga saya penuh sekali, sebab ini hasil pembinaan saya. Saya memotretnya dengan semua yang ia bawa pulang: medali emas, trofi, dan tulisan uang pembinaan. Seorang panitia lalu mewawancarainya, sebab hanya ia yang meraih nilai tertinggi di kelas 8.
Sambil memotret, saya teringat Ahmad yang membaca soal sambil makan, lalu saya yang menyiapkan bahan pembinaan di sela jam kosong. Dua orang yang sama-sama enggan membuang waktu. Dulu saya mengira ukuran keberhasilan seorang guru ada pada dirinya sendiri: apakah ia mengajar dengan baik, apakah ia berprestasi. Hari itu ukurannya bertambah. Ahmad cermin saya, dan keberhasilannya terasa seperti keberhasilan saya juga. Mengajar ternyata tidak sesepele yang pernah saya kira. Saya yang tampak mengajar rupanya juga belajar, tentang daya juang yang usahanya jauh lebih besar daripada medali itu.
Setelah semua riuh selesai, kami berjalan dari gedung lomba menuju bus. Saya sengaja melambatkan langkah hingga Ahmad berada di depan. Dari belakang, diam-diam, saya mengangkat ponsel. Hasilnya potret seorang anak dari punggung, membawa trofi yang besar. Saya menjadikannya status WhatsApp dengan satu kalimat berbahasa Inggris: I know how hard you’ve worked. You deserve it. Artinya, saya tahu sekeras apa ia berusaha, dan ia pantas mendapatkannya. Saya menulis itu sebagai saksi yang melihat sendiri bagaimana semuanya diperjuangkan.
Di dalam bus, Ahmad melihat status itu. “Terima kasih ya, ustadz,” katanya. Hanya itu, dan itu cukup.
Saya semakin bersemangat mencari lomba berikutnya. Saya yakin setiap murid punya mimpi seperti Ahmad, dan semuanya berhak mengejarnya, termasuk mereka yang belum pernah berprestasi. Saya akan mencarikan lombanya, menjadi penanggung jawab, mendata dan mendaftarkan mereka, membina, dan mendampingi. Saya akan terus berjalan sedikit di belakang mereka, ponsel di tangan, berharap kembali menjadi saksi.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan