Jejak Gerimis dan Suara Kata

Hujan lebat di pengujung sore selalu menyimpan ceritanya sendiri di jalanan kota. Butiran air dingin yang menampar kaca helm tak pernah benar-benar mampu menyurutkan langkahku. Namaku Dewi. Di balik jas hujan biru tua yang sudah sedikit mengelupas di bagian bahu dan tas ransel anti-air yang sarat dengan tumpukan kartu kosakata bergambar flashcards, aku adalah seorang pengajar les bahasa Inggris.
Langkah ini bermula enam tahun silam, tepatnya pada tahun 2020 ketika badai pandemi Covid-19 melanda dunia. Kala itu, kepanikan memaksa semua orang mengunci pintu rumah rapat-rapat. Ruang kelas konvensional mendadak sepi, berganti menjadi kotak-kotak digital di layar gawai. Saat itu, aku memulai langkah pertamaku dengan bergabung di sebuah lembaga bimbingan belajar terkemuka. Duduk berjam-jam di depan laptop, mengajari anak-anak merangkai kalimat *simple present tense*, hingga merancang metode visual interaktif agar mereka tidak tertidur di depan kamera. Menembus keterbatasan jarak lewat layar kaca ternyata memercikkan kecintaan yang mendalam dalam hatiku terhadap dunia edukasi.
Seiring berjalannya waktu, kepercayaan diri mendorongku untuk melangkah lebih mandiri. Aku mulai membangun les privatku sendiri, mengumpulkan murid dari mulut ke mulut, dan mendedikasikan energiku sepenuhnya untuk membantu anak-anak mencintai bahasa internasional ini. Namun, dunia tidak pernah berhenti berputar pada ritme yang sama.
Tahun 2025 menjadi babak baru yang cukup menantang. Setelah masa pemulihan pascapandemi, geliat bisnis pendidikan les menjamur di mana-mana. Lembaga waralaba besar dengan modal raksasa, platform belajar berbasis aplikasi mutakhir, hingga pusat kursus berdiskon besar bermunculan bak cendawan di musim hujan. Satu per satu murid yang bertahun-tahun bersamaku mulai pamit. Jumlah murid pribadiku menyusut cukup tajam. Persaingan kian ketat, menuntutku untuk terus berpikir keras agar tetap bertahan.
Hari ini, hari Kamis, realitas hidup seorang pengajar lepas kembali terasa begitu nyata. Aku baru saja menyelesaikan tugas di pekerjaan purna waktu (*full time*) yang aku jalani untuk menopang stabilitas keuangan harian. Jam di sudut layar komputer kantor menunjukkan pukul 16.30. Tepat pukul 17.00, aku memiliki jadwal les privat tatap muka di kawasan perumahan barat, sebelum kemudian harus bergegas pulang untuk sesi les daring via Zoom pada pukul 19.30.
Kala aku melajukan sepeda motor menembus jalan raya, awan kelabu tebal seketika menumpahkan muatannya tanpa ampun. Hujan deras mengguyur. Jalanan macet total, genangan air setinggi mata kaki menciprat dari roda-roda truk. Tubuhku basah kuyup meski sudah berlindung di balik jas hujan. Ujung celanaku dingin menusuk kulit. Namun di kepalaku, hanya ada satu hal yang bergema: muridku sudah menunggu di ruang belajarnya.
Pukul 17.10, dengan napas tersengal dan sepatu yang sedikit berdecit karena basah, aku menekan bel rumah bertingkat itu. Pintu terbuka, memperlihatkan seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun berseragam putih-merah yang sudah lusuh karena seharian beraktivitas di sekolah. Rambutnya ikal dan matanya bulat ceria. Namanya Rasyid.
“Miss Dewi! Kok basah banget? Hujannya deras banget ya di luar?” seru Rasyid spontan, matanya membelalak menatap ujung tasku yang meneteskan air.
Aku tersenyum hangat, mengibaskan sisa air di lenganku. “Iya, Rasyid. Jalannya agak banjir tadi. Tapi Miss Dewi sudah sampai, kan? Kamu sudah siapkan buku catatanmu?”
“Sudah, Miss! Tapi… hari ini kita boleh main kartu aja nggak? Aku pusing banget, tugas matematika di sekolah bikin mau meledak,” rengeknya seraya menarik kursi kayu di ruang tamu.
Mengajar bukan sekadar menyuruh anak menghafal rumus tata bahasa. Mengajar adalah seni membaca suasana hati. Sebagai guru les, aku berhadapan dengan berbagai macam karakter anak. Ada murid yang sangat penurut, sekali diberi instruksi langsung tekun mencatat. Namun, ada pula yang seperti Rasyid hari ini, energinya meluap, mudah jenuh, dan suka menguji kesabaran.
“Boleh main kartu kosakata,” kataku seraya mengeluarkan tumpukan kartu bergambar dari tas anti-airku, “tapi dengan satu syarat: kita buat kalimat lengkap dari kata yang kita dapat. Kalau Rasyid menang tiga putaran, Miss kasih stiker bintang emas. ‘’Deal?’’
Mata Rasyid langsung berbinar. ‘’Deal!’’ Siapa takut!”
Setengah jam pertama berlangsung penuh tawa. Setiap kali Rasyid mencoba curang mengintip kartu lawan, aku menegurnya dengan nada jenaka namun tegas. “*Uh-oh, honesty is the best policy, remember? Nggak boleh ngintip, anak pintar.” Rasyid tertawa kecil, kembali duduk tegak.
Tantangan mengajar privat tentu tak hanya berhenti di meja belajar. Urusan komunikasi dengan orang tua murid sering kali menghadirkan dinamika tersendiri. Ada keluarga yang sangat suportif, selalu menyuguhkan teh hangat saat aku datang kedinginan, dan membayar uang les tepat waktu di awal bulan tanpa perlu diingatkan. Namun, tak jarang pula aku harus menelan pil pahit berhadapan dengan orang tua yang sering kali menunda kewajiban pembayaran selama berminggu-minggu, membuatku harus menyusun pesan pengingat dengan bahasa yang luar biasa sopan agar tidak menyinggung perasaan mereka.
Saat sesi bersama Rasyid berakhir pada pukul 18.30, ibunda Rasyid berjalan menghampiriku sambil membawa segelas teh hangat manis dan amplop putih rapi. “Mbak Dewi, terima kasih banyak ya sudah rela kehujanan buat ngajarin Rasyid. Ini honor les bulan ini, sudah saya lebihkan sedikit buat beli obat tolak angin biar nggak masuk angin ya, Mbak.”
Rasa haru seketika menyeruak di dadaku. Kehangatan sikap seperti inilah yang kerap menjadi pelipur lara di tengah lelah yang menumpuk. “Terima kasih banyak, Tante. Semoga Rasyid selalu semangat belajarnya,” jawabku tulus.
Namun, perjuangan hari itu belum tuntas. Begitu jarum jam mendekati pukul 19.00, ponselku bergetar hebat di saku. Notifikasi pesan kantor purna waktuku masuk secara beruntun: manajer divisi mendadak meminta revisi laporan mendesak yang harus diserahkan sebelum pukul 20.00. Di saat bersamaan, layar ponsel menampilkan pengingat jadwal les daring lewat Zoom dengan murid lain yang akan dimulai tepat pukul 19.30.
Jantungku berdegup kencang. Menjalani peran ganda antara pekerjaan korporat purna waktu dan panggilan jiwa sebagai guru les sering kali menciptakan situasi tubrukan jadwal yang menguji batas stamina dan ketenangan pikiran. Aku segera memacu sepeda motorku pulang ke rumah kontrakan secepat yang aku bisa dengan tetap memperhatikan keselamatan.
Tiba di kamar, aku menyalakan dua layar monitor sekaligus: di satu sisi dokumen kantor yang harus segera diselesaikan, di sisi lain tautan ruang pertemuan Zoom. Sebelum menyalakan kamera, aku menarik napas panjang, merapikan kerudung dan pakaianku, lalu memasang senyum paling tulus di wajahku.
“Good evening, everyone! How was your day?” sapaku riang begitu wajah-wajah polos murid daringku bermunculan di layar kaca.
Malam itu, di antara tumpukan tanggung jawab, dinginnya sisa air hujan di pakaianku, dan persaingan dunia pendidikan yang kian menantang, aku menyadari satu hal berharga. Usaha les ini mungkin sempat mengalami pasang surut, murid-murid mungkin silih berganti datang dan pergi, namun panggilan untuk mencerdaskan dan menemani generasi muda melangkah tak akan pernah padam dari jiwa seorang Dewi.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan