Ketukan Pintu Jam Delapan Pagi

Ketukan Pintu Jam Delapan Pagi
Oleh Sunartin

Sebagai seorang wali kelas sekaligus guru Bahasa Daerah di tingkat Menengah Atas Lembur Singkur, kesabaran saya diuji hampir setiap hari oleh seorang siswi bernama Sylvie. Sebuah nama yang indah berasal dari bahasa Yunani yang artinya ‘hutan’. Bayangkan saja, bel masuk sekolah berdering tepat pukul 07.00, namun Sylvie hampir selalu mengetuk pintu kelas pada pukul 08.00 WIB. saat pelajaran pertama sudah hampir usai atau bahkan berganti ke pelajaran berikutnya.

“Maaf, Bu, saya terlambat. Boleh saya masuk?”

Kalimat itu seperti  tombol ‘repeat’ yang tidak sengaja tertekan, terus berulang tanpa henti. Wajahnya datar, napasnya tersengal-sengal, dan seragamnya sering kali tampak kusut.
Aturan sekolah itu tegas. Bagi semua siswa yang datang  terlambat lebih dari tiga puluh menit tidak diperbolehkan langsung  mengikuti pelajaran kelas, tetapi harus menerima sanksi yang mendidik seperti membuang sampah, menyapu halaman, membersihkan toilet, shalat dzuha, dan lain-lain. Namun, Sylvie berbeda. Dia sangat ngeyel. Maunya langsung ke kelas saja.

“Tolong, Bu. Biarkan saya duduk di pojok papan tulis saja ya Bu…!. Saya janji tidak akan berisik. Saya mau ikut pelajaran Ibu,” pintanya setengah memohon, dengan sorot mata yang tajam dan keras kepala. Sifat ngeyelnya ini berlaku untuk semua mata pelajaran. Guru bahasa Inggris, guru Matematika, hingga guru Olahraga pun sempat mengeluhkan hal yang sama. Dia selalu memaksa masuk kelas.
Ketegaran Sylvie menghadapi cemoohan teman-temannya juga membuat saya heran.

“Ciee…ciee, tuan putri baru bangun tidur!” sorak Nabil dari bangku belakang saat Sylvie melangkah masuk.
” Sylvie, lo punya jam dinding gak sih di rumah? Atau perlu kita patungan beliin jam beker yang gedenya segede gaban?” timpal siswi lain disambut gelak tawa seisi kelas.

Diolok-olok seperti itu, Sylvie hanya cuek. Dia tidak membalas, tidak menangis, dan tidak cemberut. Dia langsung mengeluarkan buku tulisnya, menatap papan tulis dengan fokus, seolah dalam kelas hanya berisi dirinya dan guru yang sedang mengajar.

Hingga suatu hari, bangku di pojok belakang itu kosong. Satu hari, tiga hari, seminggu, sampai berjalan dua minggu, Sylvie tidak pernah memunculkan batang hidungnya. Surat izin tidak ada, kabar dari temannya juga tidak ada,  lewat WhatsApp pun nihil. Guru-guru mulai bertanya-tanya, dan anak-anak kelas yang biasanya mengejek kini mulai keheranan. Kelas terasa ada yang kurang tanpa ketukan pintu Sylvie di jam delapan pagi.
Sebagai wali kelas, rasa tanggung jawab dan penasaran mendorong saya untuk melakukan kunjungan rumah (home visit). Saya mengajak Nabil, ketua kelas yang dulu sering mengejek Sylvie, untuk menemani saya. Bermodalkan alamat  yang tertera di buku perangkat wali kelas, kami berangkat menggunakan sepeda motor.
Perjalanan ternyata jauh di luar bayangan kami. Setelah melewati jalan aspal yang berlubang, jalan seperti sungai kering, bebatuan sebesar kepala orang dewasa kami lalui, dan kamipun  harus menempuh jalan setapak tanah yang becek. Sepeda motor terpaksa kami titipkan di rumah warga, terakhir karena jalur selanjutnya sudah memasuki pedalaman hutan yang rimbun dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki.
“Bu, serius rumah Sylvie di dalam hutan sini?” tanya Nabil sambil menyeka keringat, napasnya mulai terengah-engah menanjak jalanan tanah yang licin.
“Sesuai peta dan petunjuk warga tadi, memang ke arah sini, Nabil,” jawab saya, berusaha menyembunyikan rasa lelah, sambil mengangkat rok yang belepotan lumpur. “Untung saya pakai daleman kulot. Sungguh di luar dugaan Nabil….!”
Setelah hampir empat puluh menit berjalan membelah rimbunnya pepohonan, kami pun tiba di sebuah lereng terjal. Sayup-sayup terdengar suara gemercik air di bawah jurang dangkal. Dari atas lereng, saya melihat sesosok gadis kecil sedang bersusah payah menaiki jalan setapak yang sangat curam. Kedua tangannya memikul ember plastik hitam berisi cucian baju. Tubuhnya yang pendek kekar menahan beban, kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit berjuang mencengkeram tanah agar tidak tergelincir.
” Sylvie?” panggil saya setengah berteriak.
Gadis itu menengadah. Wajahnya yang kelelahan seketika membelalak terkejut melihat saya dan Nabil berdiri di atas lereng. Begitu sampai di atas, Sylvie langsung meletakkan pikulannya dengan napas terengah-engah, dadanya naik turun bergemuruh.
“Ibu… Nabil… sedang apa di sini?” tanyanya terbata-bata.
Tanpa banyak bicara, Nabil yang tampak merasa bersalah langsung berinisiatif membawakan pikulan ember tersebut. Sylvie kemudian menuntun kami menuju rumahnya yang berjarak kurang lebih seratus meter dari mata air itu. Rumahnya berupa gubuk kayu sederhana, berdiri terasing di tengah keheningan hutan.

Saat melangkah masuk ke dalam rumah, ada hal mengejutkan yang selama ini disembunyikan akhirnya terungkap di depan mata kami.

Di atas ranjang kayu yang reot, terbaring seorang nenek tua yang kurus kering. Matanya menatap kosong ke langit-langit, dan setengah tubuhnya bagian kiri, kaku tidak bisa digerakkan. Nenek Sylvie mengalami stroke parah.
“Saya tinggal berdua saja dengan Nenek, Bu,” ucap Sylvie pelan sambil membetulkan selimut neneknya dengan lembut. “Ibu dan ayah saya sudah lama meninggal. Sejak dua minggu lalu, kondisi Nenek memburuk. Nenek tidak bisa ditinggal sama sekali karena sering tersedak kalau makan, dan saya harus menyuapinya dengan perlahan. Saya juga harus bolak-balik ke mata air di bawah lereng tadi, untuk mencuci baju kotor Nenek dan keperluan masak.”
Saya tertegun. Lidah saya mendadak kelu, membeku bersama air mata yang mulai menggenang dan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
“Maafkan saya, Bu, kalau selama ini selalu kesiangan,” lanjut Sylvie, matanya mulai berkaca-kaca. Sesuatu yang belum pernah saya lihat di sekolah. “Setiap pagi saya harus memandikan Nenek, memasak bubur, menyuapinya, dan memastikan Nenek aman sebelum saya tinggal.
Saya ngeyel mau tetap masuk kelas karena saya tahu, hanya dengan pendidikan, mudah-mudahan  saya bisa mengubah nasib kami. Saya tidak mau ketinggalan satu pelajaran pun, meskipun saya harus menahan malu diteriaki teman-teman…”
Di samping saya, Nabil sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak terbendung lagi air mata remaja laki-laki itu menetes. Dia teringat betapa kejamnya candaan yang sering dilontarkannya pada gadis tangguh di hadapan kami ini.
Waktu itu, saya meraih tangan Sylvie dengan erat. Mengagumi pundak kecilnya yang memikul beban hidup begitu berat, namun tetap memiliki semangat setinggi langit untuk bersekolah.
Keesokan harinya di sekolah, saya dan Nabil menceritakan kondisi Sylvie yang sebenarnya kepada seluruh warga kelas XI F. Suasana kelas mendadak hening, beberapa siswi bahkan menangis penyesalan.
Sejak hari itu, tidak ada lagi olok-olokan. Kelas kami sepakat membuat jadwal bergilir untuk membantu Sylvie di rumahnya ketika waktu libur hari Sabtu dan Minggu, dan pihak sekolah pun memberikan beasiswa khusus untuk Sylvie.
Sebab kini kami tahu, ketukan pintu jam delapan pagi dari Sylvie bukan simbol kemalasan, melainkan sebuah simbol perjuangan hidup yang luar biasa.

***************

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan