
Presentasi
“Minggu depan, giliran Aini yang bertugas presentasi di kelas,” ucap Bu Ika.
Saat Bu Ika menyebut namaku. Jantungku berdebar, tanganku berkeringat dingin. Selama ini aku tidak pernah berbicara di depan umum.
“Semangat, Aini. You can do it,” ujar Anisa.
Aku mengukir senyum di raut wajah. Seolah-olah dunia baik-baik saja. Aslinya deg-degan, pikiran lari ke mana-mana.
“Emang bisa, Aini ngomong di depan kelas. Selama ini dia diam saja, malu,” bisik Ratu.
“Ya, lihat saja minggu depan paling pingsan, hahaha,” ledek Silvi. “Kantin yuk, lapar mau makan,” ujar Ratu.
“Yuk,” sahut Silvi.
“Kamu dengar ya omongan Ratu dan Silvi?” tanya Anisa.
“Aku bisa nggak ya, Nis. Minggu depan presentasi, kamu tahu sendiri kan aku demam panggung,” jawabku.
“Jangan dengarkan apa kata orang, ya besti. Listen to me, you can do it!” ucap Anisa.
“It’s okay, girls,” kataku.
Aku dan Anisa ke kantin untuk cari jajan. Seperti biasa jajanan favorit di kantin ada siomay mang Febri. Kali ini aku mentraktir jajan Anisa karena ia telah menyemangatiku untuk presentasi minggu depan.
“Thanks, girls. Kamu sudah traktir aku,” ucap Anisa.
“You’re welcome, girls. Kamu bestiku terbaik yang aku kenal selama ini,” kataku.
Pukul 16.00 sore aku harus segera pulang ke rumah. Anisa yang biasa pulang kuliah jalan kaki. Kali ini aku tumpangi dengan kendaraan roda empat milik orang tua.
“Anisa, pulang bareng aku ya,” tawarku.
“Ya, Aini.” Anisa mengangguk, ia masuk ke dalam mobilku.
Selama di perjalanan pulang aku dan Anisa saling mengobrol perihal keluarga. Anisa yang menceritakan lebih dulu. Kalau keluarganya berasal dari keluarga kurang mampu. Ia bisa kuliah karena menerima beasiswa KIP-K dari Pemerintah. Dulunya Anisa sempat tidak ada keinginan lanjut kuliah. Terus Guru Biologi menyarankan untuk lanjut kuliah karena ia pelajar berprestasi pernah menang Juara 1 Olimpiade Biologi Tingkat Nasional.
“Hebat, kamu ya. Juara 1 Olimpiade Biologi Tingkat Nasional,” pujiku.
“Terima kasih, Aini,” ucap Anisa.
“Mimpi apa yang ingin kamu wujudkan, Nis?” tanyaku.
“Ada banyak keinginanku, Aini,” jawab Anisa.
“Sebut satu keinginan yang paling ingin diwujudkan,” kataku.
“Aku ingin memberangkatkan umroh abi dan umi, Aini,” kata Anisa.
“Semoga Allah mengabulkan keinginanmu ya, Anisa,” ucapku.
Tak terasa kami sudah sampai di rumah Anisa. Anisa keluar dari mobil, dan aku pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Pukul 17.00 aku sampai di rumah disambut oleh Bi Surti asisten rumah tangga. Mama dan Papa selalu sibuk bekerja dan memprioritaskan bisnisnya daripada anaknya. Aku langsung masuk ke kamar mengunci pintu. Senyap, tak ada satu suara yang membisingkan rumahku.
“Non, makanannya sudah siap,” seru Bi Surti.
“Ya, Bi. Aini menunggu Mama, Papa pulang,” ucapku.
Mama Papa tidak pernah pulang sore mereka selalu pulang larut malam. Aku di rumah tak pernah ada kesempatan Quality Time with Family. Orang tua selalu memprioritaskan kerja dan bisnisnya. Aku membuka laptop mulai mengerjakan tugas untuk presentasi di kelas. Aku video call Anisa yang sedang sibuk membantu uminya.
“Halo Anisa, aku dag dig dug ini gimana presentasi minggu depan,” ucapku.
“Tenang, mending sekarang kamu latihan sekarang. Anggap saja aku audiens kamu,” respons Anisa.
“It’s, okay. Girls.” Aku mulai latihan presentasi di depan kelas.
Satu minggu kemudian, aku sudah siap presentasi di kelas duduk dengan sikap tenang. Sementara, Ratu dan Silvi menahan gelak tawanya.
“Baik presentasi hari ini kita mulai yang akan dipandu oleh Silvi sebagai moderator dan Ratu sebagai presenter,” ucap Bu Ika.
“Whats, why me?” tanya Ratu.
“Kok dadakan, Bu?” tanya Silvi. “Siap tidak siap, kalian harus siap. Silakan Ratu sebagai presenter dan Silvi sebagai moderator,” kata Bu Ika.
“Selamat Aini,” ucap Anisa.
Aku menghela napas, kemudian menyaksikan presentasi dadakan dari Ratu dan Silvi.
Selesai






