Kata-Kata yang Kehilangan Makna

Di sebuah kota yang selalu sibuk, orang-orang berbicara hampir sepanjang hari.

Di pasar, di sekolah, di kantor, di televisi, bahkan di jalanan, kata-kata berhamburan seperti daun kering diterbangkan angin.

“Jujur.”
“Adil.”
“Peduli.”
“Bersama.”
“Untuk rakyat.”

Kata-kata itu begitu sering diucapkan hingga tak seorang pun lagi bertanya apakah maknanya masih hidup.

Di sebuah sekolah tua di pinggir kota, seorang guru bahasa bernama Pak Andri memperhatikan murid-muridnya. Hari itu ia menulis satu kalimat di papan tulis:

“Bahasa adalah cermin manusia.”

“Kalau begitu,” tanya seorang murid bernama Nara, “kalau bahasa kita semakin kasar, apakah berarti moral kita juga semakin buruk?”

Pak Arga tersenyum tipis.

“Tidak selalu. Tetapi perhatikanlah sebuah bangsa yang mulai terbiasa berbohong. Lama-kelamaan, kebohongan akan menemukan kata-kata yang terdengar indah.”

Kelas mendadak sunyi.

“Orang tidak lagi berkata ‘mencuri’,” lanjutnya. “Mereka menyebutnya ‘mengambil kesempatan’. Tidak lagi berkata ‘berbohong’, tetapi ‘menyesuaikan informasi’. Tidak lagi berkata ‘mengkhianati’, melainkan ‘mengubah strategi’.”

Nara menatap papan tulis.
“Jadi, Pak, masalahnya bukan hanya kata?”
“Benar.”
Pak Andri  menghapus sebagian kalimat itu.
“Masalahnya ketika kata digunakan untuk menyembunyikan kebenaran.”

Bertahun-tahun kemudian, Nara menjadi seorang jurnalis. Ia melihat sendiri bagaimana bahasa dapat mengubah wajah sebuah kenyataan.

Sebuah kesalahan disebut prosedur.
Ketidakadilan disebut kebijakan.
Kepentingan pribadi disebut kepentingan bersama.

Dan luka masyarakat sering kali hanya disebut sebagai angka.

Suatu malam, Nara duduk di depan komputernya. Ia sedang menulis sebuah berita penting. Redakturnya meminta judul yang lebih lembut.

“Jangan terlalu tajam,” pesan atasannya.
Nara terdiam.
Jarinya menggantung di atas papan ketik.
Di kepalanya kembali terdengar suara Pak Andri.

Bahasa adalah cermin manusia.

Nara kemudian menulis:
“Ketika Kebenaran Dipaksa Berbicara dengan Bahasa Kebohongan.”

Ia tahu tulisannya mungkin tidak disukai.

Tetapi malam itu ia mengerti sesuatu.

Bahasa bukan sekadar susunan kata.
Bahasa adalah pilihan.

Dan setiap pilihan kata menunjukkan keberanian atau ketakutan seseorang dalam memandang kebenaran.

Sebuah bangsa mungkin kehilangan banyak hal karena kemiskinan, peperangan, atau bencana.

Namun bangsa akan benar-benar kehilangan arah ketika kata-kata tentang kejujuran masih terdengar indah, sementara kejujuran itu sendiri telah ditinggalkan.

Nara menekan tombol kirim.
Di luar jendela, kota masih bising.
Orang-orang masih berbicara.
Tetapi malam itu, setidaknya satu suara memilih untuk tidak berdusta.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan