SURAT WASIAT

Surat Wasiat untuk Aini, Aan dan Aila
Bismillahirrahmanirrahiim.
Anak-anakku tersayang,
Surat ini Ibu tulis
ketika badan terasa banyak yang sakit.
Migren melanda berhari-hari, badan lemas,
asam lambung mengancam nafsu makan,
kaki acapkali kebas kesemutan.

Namun demikian
rasa sakit ini tidaklah seberapa
dibanding kecemasan andai suatu hari
Ibumu tak lagi membersamai kalian bertiga.
Ibu takut pondasi iman kalian rapuh dan runtuh
di tengah dunia yang kejam ini.

Ibu cemas setengah mati Nak,
tatkala hantaman badai membuat goyah lututmu,
hingga kalian tersesat dan lupa pada sajadah.
Ibumu akan hancur
bila kata-kata beracun dari orang-orang
akan mematahkan semangat juangmu,
menghancurkan harga dirimu,
lalu kalian berputus asa dari Rahmat-Nya.
Ibu takkan tenang di alam sana,
jika buah hati yang Ibu lahirkan dengan bertaruh nyawa
justru dikalahkan oleh kerasnya dunia, Naaaaaaaaak!

Maafkan Ibumu ini, Sayang!
Ibumu ini manusia biasa, Nak. Banyak kurang, banyak salah.
Ibumu ini hanya seseorang yang senantiasa belajar.
Belajar dari banyak kejatuhan.
Kadang jatuh sendiri,
kadang jatuh karena lalai dari mengingat-Nya,
kadang pula jatuh karena dijatuhkan orang.

Anakku,
tubuh Ibumu yang ringkih ini
telah memberi isyarat tentang batas kebersamaan.
Waktu Ibu untuk memeluk kalian sudah semakin sempit.
Lantaran itu
di setiap sepertiga malam,
di atas sajadah yang basah air mata,
Ibu titipkan nama kalian satu per satu
kepada Allah Yang Maha Menjaga.
Hanya Dia yang takkan pernah meninggalkan kalian
saat Ibu nanti sudah tiada.

Anak-anakku,
demi air mata yang Ibu teteskan malam ini,
genggam erat-erat imanmu!
Jika nanti badai hidup datang begitu pekat
hingga kalian merasa tak sanggup lagi bernapas,
jadikan sabar dan shalat sebagai penolong.
Wasta’iinuu bis shabri was shalaah!

Dunia ini terlalu singkat, Nak.
Jangan pernah menyia-nyiakan umur
hanya untuk meratapi celaan manusia
atau
mengemis pujian mereka.
Pada akhirnya,
seisi bumi ini akan meninggalkan kita,
dan
yang kita butuhkan hanyalah helaan napas
yang diakhiri laa ilaaha illallah.

Anak-anakku Aini, Aan dan Aila!
Ibumu ini tidak bisa mewariskan materi,
tapi berjuang keras untuk mewariskan kebiasaan baik.
Karena yang akan menemani kita di kubur nanti
bukan nama besar,
melainkan amal yang kita titipkan ke langit hari ini.

Anakku belahan jiwaku!
Jika suatu hari nanti
ada orang yang memandangmu sebelah mata,
menghujatmu, merendahkanmu,
atau menuduhmu yang tidak tidak,
Ibu mohon dengan sangat,
jangan biarkan hatimu dikotori dendam dan kebencian.
Basuh lukamu dengan wudhu, maafkan mereka.
Jadikan setiap cacian itu cermin untuk berbenah diri.
Biarlah seluruh dunia salah menilaimu,
asalkan di mata Allah, jiwamu tetap mulia dan bersinar.

Anak-anakku, Kesayanganku!
Pulang terbaik bukanlah saat nama kita disanjung-sanjung
tapi saat kita dipanggil dalam keadaan diridhai.
Itu saja harapan Ibumu ini.
Jaga shalat, jaga lisan, jaga hati.

Maafkan ibumu yang banyak khilaf ini.
Perbanyak pula mintakan maaf
pada orang-orang sepanjang pergaulan Ibu.

Ingat ya, Nak!
Rumah kita sebenarnya bukan di sini, bukan dunia ini.
Jangan terlena, jangan sibuk menghias diri,
sehingga lupa menyiapkan bekal pulang ke rumah yang sebenarnya.
Kubang Putih, 16 Agustus 2026
Dari Ibumu,
satu-satunya wanita
yang mencintai kalian
sepenuh jiwa raga.
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan