Ketika Rahimku Masih Menyimpan Ruang Sunyi

Hidup di daerah yang menjunjung tinggi adat dan budaya sangat sulit bagi Ainil dan suaminya yang bernama Ade yang belum dikarunia seorang anak. Biduk Rumah tangga sudah mereka lalui tak terasa 9 tahun sudah mengalir dalam alunan asa yang bercampur aduk. Tapi kekuatan cinta, janji dan do’a membuat  mereka tangguh menghadapi semuanya meski banyak cibiran dari manusia-manusia yang tak punya hati nurani.
Sembilan tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Ainil dan Ade. Sembilan tahun mereka mengarungi bahtera rumah tangga, melewati hari-hari penuh kebahagiaan, menghadapi berbagai ujian, dan membangun mimpi bersama. Namun, di antara semua impian yang telah mereka wujudkan, ada satu harapan yang hingga kini belum menjadi kenyataan: hadirnya seorang anak di tengah-tengah keluarga kecil Ainil.
Ainil merupakan satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara, semua harapan digantungkan oleh keluarga Ainil kepadanya, karena di kampung Ainil seorang anak perempuang yang tidak mampu melahirkan anak dipandang sebelah mata. Ainil pun jarang pulang kampung, karena setiap pulang ketika bertemu tetangganya mereka selalau bertanya, kapan hamil, sudah berapa anaknya? pertanyaan ini membuat Ainil semakin terpuruk setiap harinya. Di samping itu, adat dikampungnya jika seorang anak perempuan tidak memiliki anak maka pupuslah keturunannya.
Ainil bersama suaminya setiap hari berdo’a dan berusaha agar Tuhan menganugerahkan seorang anak, namun, bulan demi bulan berlalu, kemudian tahun demi tahun berganti. Dua garis yang mereka harapkan tak kunjung muncul. Ainil menyadari mungkin ini kesalahan dirinya sebab Hormon yang ada pada badan Ainil tidak stabil sehingga menyebabkan ia tidak mengalami haid selama bertahun-tahun. Kemana saja ia telah berobat dan berusaha bersama suaminya, tidak  terhitung jumlah uang yang telah ia keluarkan bersama suaminya. Hingga akhirnya ia berobat kepada seorang dokter yang masih muda dan Alhamdulillah haid itu telah datang namun belum teratur. Jika tidak mengkosumsi obat maka haid tersebut tidak datang.
Ade suami Ainil sangat pengertian dengan kondisi istrinya. Ia tak pernah menuntut  banyak terhadap istrinya dia selalu berkata ” istriku mungkin kita belum diberi rezeki oleh Tuhan” perkataan tersebut sontak membuat hati Ainil sangat sedih, dunia Ainil terasa runtuh, tapi apalah daya ini bukan kuasanya Ainil.
Dalam Tahajudnya Ainil selalu menangis kepada memohon pada Tuhan-Nya
“Ya Allah, apakah aku tidak pantas menjadi seorang ibu?” bisiknya lirih.
Pertanyaan itu telah berkali-kali muncul di benaknya. Ia tahu bahwa dirinya tidak seharusnya menyalahkan takdir, tetapi terkadang hatinya terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat.
Tanpa disadarinya, sesekali Ade terbangun dari tidurnya lalu ia memandang lirih kepada istrinya yang sedang menangis lirih akan hadirnya seorang anak dalam keluarga kecilnya.
terkadang Ade mendekat, lalu duduk di samping Ainil.
“Sayang, kenapa menangis sendirian?” tanyanya lembut.
Ainil buru-buru menghapus air matanya.
“Tidak apa-apa, Uda,” jawabnya pelan.
Ade menggeleng. Ia menggenggam tangan istrinya erat-erat.
“Ainil, kita sudah bersama selama sembilan tahun. Aku tahu kamu menginginkan seorang anak. Aku juga menginginkannya. Tapi, jangan pernah berpikir bahwa kamu kurang berharga hanya karena kita belum dikaruniai keturunan.”
Tangis Ainil pecah. Ia menyandarkan kepalanya di dada Ade.
“Aku takut, Uda. Aku takut kita tidak akan pernah punya anak. Aku takut uda kecewa menikah denganku. Aku takut suatu hari nanti uda menyesal karena aku belum bisa memberikan apa yang uda inginkan.”
Ade terdiam sejenak. Ia mengangkat wajah Ainil, menatap mata istrinya yang sembap.
“Dengarkan aku, Ainil. Aku menikahimu bukan hanya untuk mendapatkan seorang anak. Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Kalau suatu hari Allah menitipkan seorang anak kepada kita, aku akan bersyukur. Namun, selama penantian ini, kamu tetap istriku yang paling aku cintai. Kamu bukan kegagalan dalam hidupku. Kamu adalah bagian terindah dalam hidupku.”
Kata-kata itu membuat Ainil kembali menangis, tetapi kali ini tangisnya berbeda. Ada kelegaan yang perlahan tumbuh di antara luka-luka yang selama ini ia sembunyikan.
Ade memeluknya erat, seolah ingin meyakinkan bahwa ia tidak sedang menjalani penantian itu sendirian.
Malam itu, mereka berbicara panjang lebar tentang perasaan yang selama ini jarang mereka ungkapkan. Mereka menyadari bahwa selama bertahun-tahun, keduanya sama-sama berusaha terlihat kuat, padahal masing-masing menyimpan ketakutan dan kesedihan yang tidak jauh berbeda. Sejak malam itu, Ainil berusaha mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia belajar bahwa menjadi seorang perempuan tidak semata-mata diukur dari kemampuannya melahirkan seorang anak. Ia tetap seorang istri yang berharga, seorang perempuan yang memiliki kasih sayang, impian, dan kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Meski demikian, keinginan untuk memiliki anak tidak pernah benar-benar hilang.
Setiap kali melihat seorang ibu menggendong bayinya, hati Ainil masih terasa hangat sekaligus perih. Apalagi tahun ini di sekolah tempat Ainil mengajar semua sahabat dekatnya pada hamil, ini membuat hati Ainil semakin luluh.
Satu hari sahabat dekatnya berkata kepada Ainil ” Kak” ya dek kata Ainil “sahabatnya berkata, ada yang ingin aku sampaikan kepada kakak! ya apa itu dek “janji kakak tidak akan menangis ” Ainil menjawab janji” ada apa dek, kak sekarang aku hamil kak, Ainil sangat sok antara sedih dan bahagia mendengar kabarnya. Sampai di rumah Ainil menangis lalu menceritaka kepada suaminya, Bahwa sahabat dekatnya sudah Hamil. Suami Ainil dengan lembut berbisik lirih “sayang sabar ya, mungkin Allah belum memberi kita rezeki” setelah itu Ainil tertidur di pangkuan Ade, ia selalu berdo’a agar diberi sesok anak di rahimnya.
Di tengah penantian itu, Ainil dan Ade memutuskan untuk memeriksakan diri bersama ke dokter. Mereka ingin memahami keadaan kesehatan masing-masing dan mengetahui langkah apa yang dapat mereka tempuh. Ainil tidak lagi merasa bahwa seluruh tanggung jawab berada di pundaknya. Ade pun menyadari bahwa perjuangan memperoleh keturunan adalah perjalanan yang perlu mereka hadapi bersama.
Mereka juga mulai membiasakan diri untuk saling bercerita ketika kesedihan datang. Jika Ainil merasa rapuh, Ade akan mendengarkan tanpa menghakimi. Jika Ade merasa lelah, Ainil akan menggenggam tangannya dan mengingatkan bahwa mereka tidak harus selalu terlihat kuat.
Setiap malam, mereka masih menengadahkan tangan dalam doa.
“Ya Allah, jika Engkau berkenan, anugerahkanlah kepada kami keturunan yang saleh dan salehah. Namun, jika penantian ini masih harus kami jalani, kuatkanlah hati kami. Jangan biarkan ujian ini menjauhkan kami dari-Mu dan jangan biarkan kesedihan merenggangkan cinta di antara kami.”
Doa itu menjadi teman setia dalam perjalanan mereka.
Tahun kesepuluh pernikahan mereka pun semakin dekat. Belum ada kepastian tentang kapan seorang anak akan hadir. Terkadang Ainil masih menangis, terkadang Ade masih terdiam lama ketika melihat anak-anak bermain. Namun, mereka tidak lagi membiarkan kesedihan menjadi dinding yang memisahkan hati mereka.
Hari itu, Ainil menyadari sesuatu yang selama ini sulit ia pahami. Penantian bukan berarti ia harus berhenti bahagia. Berharap bukan berarti ia tidak menerima takdir. Dan menerima takdir bukan berarti ia harus mengubur impiannya.
Ia masih ingin menjadi seorang ibu. Ade masih ingin menjadi seorang ayah. Mereka masih memohon agar suatu hari nanti Allah mempercayakan seorang anak kepada mereka. Namun, mereka juga mulai belajar bahwa kehidupan mereka tidak harus berhenti hanya karena satu harapan belum terwujud.
Sembilan tahun telah mengajarkan Ainil dan Ade bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan ketika semua keinginan terpenuhi. Cinta juga tentang bertahan ketika jawaban belum datang, menggenggam tangan ketika hati mulai lelah, dan memilih untuk tetap bersama meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah.
Malam itu, sebelum tidur, Ainil kembali berdoa. Air matanya masih menetes, tetapi hatinya terasa lebih tenang.
“Ya Allah, aku masih merindukan anak yang belum pernah kupeluk. Aku masih membayangkan wajahnya, suaranya, dan langkah-langkah kecilnya di rumah ini. Jika suatu hari Engkau menghadirkannya, izinkan aku memeluknya dengan penuh syukur. Namun, selama aku masih menunggu, ajari aku untuk tetap bersyukur atas suami yang Engkau hadirkan dalam hidupku.”
Di sampingnya, Ade menggenggam tangan Ainil.
Tidak ada yang tahu kapan penantian itu akan berakhir. Tidak ada yang bisa memastikan apakah esok akan membawa kabar bahagia atau mereka masih harus menempuh perjalanan panjang.
Namun, satu hal yang pasti: anak yang mereka impikan itu, meskipun belum hadir di dunia mereka, telah lama memiliki tempat di dalam hati keduanya.
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan