Niat Menggaet Barista, Malah Diprospek Calon Mertua

Aroma kopi bercampur wangi kertas novel terjemahan menjadi saksi bisu perjuangan Nala. Sudah dua minggu berturut-turut, mahasiswi tingkat akhir berponi rata ini rajin nongkrong di pojok Kopi Sabda. Misinya cuma satu: mencuri perhatian Arka, barista berkacamata minus dengan tatapan hangat yang selalu mengenakan celemek cokelat tua.

Arka adalah definisi cowok tenang idaman Nala. Setiap kali Arka mengantarkan cangkir keramik, dada Nala berdegup layaknya genderang perang. Namun, Nala terlalu pengecut untuk sekadar meminta nomor telepon secara langsung.

Sore itu, tekad Nala membubung tinggi. Di atas secarik sticky note berwarna merah muda terang, ia menuliskan kalimat paling berani sepanjang hidupnya:

“Kopimu manis, tapi senyum baristanya bikin diabetes. Kalau mau kenal lebih dekat, ini nomor teleponku: 0812-xxxx-xxxx. – Pengagum Meja Pojok :)”

Dengan trik gerakan tangan seringan bayangan ninja, Nala menempelkan catatan itu tepat di bagian bawah piring tatakan cangkirnya. Setelah membayar dengan kartu di kasir depan—sambil pura-pura sibuk membetulkan letak tas jinjingnya—ia bergegas keluar kafe dengan langkah riang dan pipi semerah tomat matang.

Malam harinya, ponsel Nala di atas meja belajar menyala. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari nomor asing masuk. Jantung Nala langsung melompat ke tenggorokan.

“Halo, Nala Meja Pojok. Ini yang bikin kopi sore tadi. Makasih catatannya, ya.”

Sambil menggigit bantal menahan jeritan girang, Nala mengetik balasan dengan jempol gemetar: “Eh, halo Kak Arka! Hehe, akhirnya dibaca juga. Maaf ya kalau norak.”

Tiga titik penanda ketikan bergerak di layar cukup lama sebelum pesan berikutnya muncul:

“Arka? Nala, ini Mbak Gina. Pemilik kafe yang tadi sore ngeracik flat white kamu di bar.”

Nala terdiam kaku. Matanya membelalak menatap layar.

Pesan lanjutan masuk bertubi-tubi:

“Arka itu cuma mahasiswa magang yang tugasnya ngelap meja sama antar cangkir. Saya yang dari kemarin merhatiin kamu lirik-lirik ke area mesin espresso, kirain kagum sama latte art saya. Kebetulan saya juga punya adik laki-laki yang umurnya seumuran kamu, mau saya kenalin nggak? Soalnya kalau nunggu Arka, dia udah tunangan minggu lalu sama anak pemilik toko bunga sebelah.”

Nala menatap langit-langit kamar kosnya dalam hening. Rencana romantis berbalut misteri itu resmi berakhir menjadi sesi biro jodoh dadakan bersama ibu bos kafe.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan