MEMILIN CERITA ANGKU

Angku,
dulu katamu langit tak pernah berjelaga.
Di batang aie, batu karang kelihatan terang,
airnya dingin, bening, langsung ditenggak
tanpa perlu dimasak di atas tungku.
Ikan-ikan berenang di sela jemari kaki,
mengejar bayang-bayang kita yang tertawa.

Angku,
dulu katamu kalau kita pergi ke parak,
daun-daun muda bisa langsung dipetik untuk kawan makan nasi.
Mudah saja menangkap ikan untuk dipalai,
atau berburu ayam hutan untuk dipanggang—
oh, alangkah nikmatnya makan di tepi ladang!
Air sumur di belakang sirongkok tak pernah kering,
cukup untuk menanak nasi dan menyeduh kopi.
Burung-burung punya banyak lagu,
membangunkan subuh sebelum azan berbunyi.

Lalu Angku,
kenapa di mataku bumi yang sama ini jadi asing?
Airnya keruh, daun-daun berabu,
dan dada kami yang kecil harus belajar menahan sesak?

Nan elok dipakai, nan buruak dibuang.
Bukankah begitu pesan tua-tua dulu?

Lalu siapa yang telah membuang eloknya bumi kita, Angku…
hingga kini yang tersisa
hanya abu yang mengepul di telapak tanganku?

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan