
MENENUN SUNYI DI TANAH SERAMBI
MENENUN SUNYI DI TANAH SERAMBI
Karya: Leli Marlina
Dua puluh delapan purnama, Serambi digerus sepi yang dingin,
Tiga tahun tanpa upah, perut dilatih bersahabat dengan angin.
Di Langkahan, saat mesiu mengoyak malam tanpa ampun,
Kapur di tanganku keras kepala, menulis hidup di ruang yang hampir runtuh.
Ijazah Ekonomi hanya kertas di hadapan nasib yang bengis,
Malam kugiling ilmu, pagi kuhajar letih yang tak pernah habis.
Dua puluh lima tahun kutahan diri di sistem yang beku dan tuli,
Jam-jam kupatahkan jadi harap, jatuh pelan di tanah berdebu ini.
Di SMA Kuala, mata anak-anak belajar menelan lapar,
Seragam kusam menyimpan mimpi yang tak berani mereka dengar.
Tikar tipis jadi saksi, bukan kelas, tapi medan bertahan,
Di situ kutanam ilmu, pelan, di tanah yang tak pernah ramah.
Lalu aku tiba di SMANSA Bireuen, bukan untuk istirahat,
Magister kurengkuh diam-diam, di sela tubuh yang hampir sekarat.
Kupantik guru-guru agar api tak padam sebelum waktunya,
Kugandeng tangan renta P3K—mengangkat mimpi yang nyaris punah.
Dan suatu malam, sunyi tak lagi sanggup menahan retak,
Kabar itu datang—pelan, tapi mematahkan seluruh jarak.
Chandra Sentosa menang—OSN bukan sekadar piala,
Ia luka yang selesai—dibayar lunas oleh air mata yang lama.
Aku tak pernah berdiri di panggung, tak pernah meminta nama,
Pengabdian bukan sorak—ia kerja sunyi yang tak butuh siapa-siapa.
Jika suatu hari tubuh ini hilang tanpa jejak dan cerita,
Carilah aku—di kepala muridku, saat mereka menolak kalah.






