Menjadi Guru di Era Gen Z dan Gen Alpha: Belajar Bareng, Bertumbuh Bareng

Saat bel pergantian mata pelajaran berbunyi, disitulah otak saya mulai kembali membuat sebuah skenario “nanti ngajar gamesnya apa ya biar gabosen?”. Walau perencanaan pembelajaran sudah dibuat serapih mungkin dalam modul ajar, terkadang saya masih selalu overthinking jika rencana ini akhirnya membuat murid menjadi kehilangan semangat belajarnya. Bagi sebagian murid khususnya di sekolah saya pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah pelajaran yang membosankan, kaku, dan identik dengan “menghafal pasal-pasal dalam UUD”. Bahkan mendengar kata “pasal” dalam pelajaran Pendidikan Pancasila bagi siswa seperti mendengar suara horor yang paling ditakuti dan hal paling dihindari ketika ulangan.

Hal tersebut sejalan dengan temuan Putri dan Suprianto (2024) menunjukkan bahwa rendahnya minat belajar Pendidikan Pancasila dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dalam kajiannya, mereka mengutip Bellanisa (2015) yang menjelaskan bahwa peserta didik masih menganggap remeh pembelajaran Pendidikan Pancasila, yang ditunjukkan melalui kurangnya perhatian selama proses belajar berlangsung. Selain itu, mereka juga mengacu pada penelitian Agustin (2023) yang menemukan bahwa pembelajaran yang dikaitkan dengan pengalaman nyata peserta didik lebih efektif dalam meningkatkan minat belajar dibandingkan pembelajaran yang hanya menekankan aspek teoritis

Dari temuan realitas di lapangan yang saya alami serta diperkuat dengan studi lapangan dari beberapa peneliti jurnal yang saya baca bahwa ini adalah salah satu tantangan bagi saya sebagai guru. Saya perlu belajar dan memahami kondisi untuk dapat membuat strategi agar bosan itu menjadi menyenangkan, kaku itu menjadi fleksibel dan memberikan ruang kebebasan bagi murid yang tidak kebablasan. Pendidikan pancasila bukan sekadar teori yang dijelaskan di ruang kelas saja namun memberikan pengaruh bagi murid diluar sana yakni dalam hal adab dan akhlak. Maka, hal yang pertama saya lakukan ada saya mulai menjadi role bagi murid karena murid melihat karakter guru itu secara langsung di lapangan dan yang kedua adalah saya berusahan mencoba mengintegrasikan sebuah kasus yang sedang viral atau pengalaman nyata yang saya alami dengan materi yang sedang dibahas.

Tantangan lain yang harus saya hadapi ini adalah generasi murid yang saya hadapi saat ini. Kebanyakan dari mereka saat ini adalah adalah murid yang hidup di era digital yakni Gen Z dan Gen Alpha. Menurut HS. Hammad (2025) dalam sebuah buku yang berjudul Seni Mengajar Gen Z dan Gen Alpha bahwa generasi Z atau Gen Z adalah generasi pertama yang hidup di dunia yang terkoneksi secara global dengan teknologi. Mereka tumbuh bersama ponsel pintar dan media sosial yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari. Alih-alih menonton televisi, mereka lebih banyak mengkonsumsi konten sesuai seleranya pada berbagai macam platform dan media sosial yang mereka miliki untuk mencari informasi atau sekedar hiburan. Sedangkan generasi alpha adalah generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang lebih maju secara teknologi. Mereka adalah generasi yang lahir setelah iPad diluncurkan pada tahun 2010 serta terbiasa berinteraksi dengan kecerdasan buatan seperti (AI) sejak dini.

Dengan pola kehidupan gen Z dan gen alpha yang sehari-hari berinteraksi dengan teknologi serta media sosial ini menjadi jalan bagi saya untuk mampu mengintegrasikan teknologi dengan materi pemberlajaran. Hal yang biasa saya lakukan adalah bertanya kepada murid seperti “Kalian Tahu Tidak?”. Dengan bertanya kepada murid, ternyata memberikan stimulus bagi mereka agar mengingat sebuah peristiwa yang pernah dilihat sebelumnya di media sosial. Selain itu, dengan memberikan stimulus dengan bertanya mendorong anak aktif untuk menjelaskan apa-apa saja informasi yang mereka dapatkan melalui media sosial.

Alhasil setelah saya lakukan rutin setiap harinya, ternyata memberikan dampak bagi murid untuk aktif di kelas. Hal tersebut disebabkan murid diberikan kebebasan berpendapat di kelas dan lambat laun mendorong dirinya untuk mampu berfikir kritis dan tidak apatis dengan kondisi sosial yang terjadi di negara ini. Disini lah peran guru sebagai fasilitator untuk tetap memberikan arahan serta rambu-rambu bagi murid dalam menyuarakan pendapatnya karena gen Z untuk murid kalangan SMP masih perlu bimbingan dalam menyaring sebuah informasi yang diperoleh dari media sosial agar tidak terjebak dalam informasi palsu atau hoax. Selain itu, saya selalu melakukan evaluasi dengan bermain games secara berkelompok atau individu seperti media digital yang sering saya gunakan adalah baamboozle, wordwall, quizziz sedangkan games lainnya seperti ular tangga, mission unbreakbale, harta karun, truth or dare dsb.

Memerdekakan murid bukan berarti membiarkannya tanpa arah, melainkan membantu mereka menemukan alasan untuk mencintai negerinya sendiri. Pancasila bukan sekedar hafalan dan teks yang selalu wajib di baca ketika upacara bendera, tapi diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan ketika murid saya perlahan mulai menerapkannya disitulah tugas saya sebagai pendidik terasa paripurna. Perjuangan ini tidak akan selalu mudah, tapi melihat mereka bertumbuh menjadi manusia yang good and smart citizen membuat setiap peluh layak diperjuangkan.

Referensi:
Basir, M. K., Judijanto, L., Muhtadi, H. D. A., & Rachmandhani, M. S. (2025). Seni Mengajar Gen Z dan Gen Alpha: Memahami Karakter & Kepribadian Sekaligus Pola Asuh Anak Didik agar Siap Menghadapi Tantangan Zaman. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Putri, B. A., & Suprianto, O. (2024, December). Analisis Faktor Rendahnya Minat Belajar Pendidikan Pancasila Siswa Kelas V Di SD Negeri Serang 11. In PROSIDING SENADIKA: Seminar Nasional Akademik (Vol. 1, No. 1, pp. 378-387).

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan