Selama Menjadi Guru, Aku Belajar Pulang

Enam tahun aku menyusuri lorong yang sama,

tembok hafal langkahku, bedug hafal letihku.
Kukira aku datang membawa ilmu untuk mereka,
nyatanya mereka yang menuntunku mengenal arti rumah.

Empat tahun aku bersama di antara mereka,
menyelimuti yang menggigil, membangunkan yang terlelap,
dan duduk diam di sisi santri baru
yang menangis memanggil ibunya di tengah malam.

Kini senja menutup gerbang dan aku melangkah pulang,
namun separuh hatiku tinggal di bawah lampu asrama,
menghitung cahaya yang belum padam,
menjaga mimpi-mimpi yang tertidur di balik selimut tipis.

Kuajarkan mereka kata dari negeri yang jauh,
agar suatu hari suara mereka sampai ke mana-mana.
Namun pelajaran yang paling lama kuulang hanya satu: mereka berharga, bahkan ketika salah mengeja.
Pernah lelah menembus sampai ke tulang,
aku nyaris menyerah di meja yang sesak oleh kertas.
Lalu seorang santri menyodorkan senyum, terbata,
“Thank you, Miss,” dan lelahku luruh seperti embun disapa matahari.
Kelak mereka pergi, melintasi gerbang yang sama,
dan aku berdiri di ujung koridor, melambai tanpa meminta kembali.
Cukuplah namaku tersisa dalam doa-doa mereka,
sebab begitulah guru: menyala pelan, rela menjadi cahaya bagi yang lain.
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan