
Menyemai Asa di Atas Puing Rekah : Catatan Sunyi Pendidikan Lombok Utara Pasca-Gempa
Menyemai Asa di Atas Puing Rekah : Catatan Sunyi Pendidikan Lombok Utara Pasca-Gempa
Tema Lomba: Selama Menjadi Guru
Kategori: Naskah Opini Guru
Fokus Pembahasan: Realitas dan Pemulihan Pendidikan Lombok Utara Pasca-Gempa 2018
Waktu berlalu begitu cepat, namun jejak trauma dan kehancuran akibat gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,0 SR yang mengguncang Lombok Utara pada tahun 2018 seolah enggan beranjak sepenuhnya. Bagi sebagian orang di luar sana, peristiwa itu mungkin telah menjadi catatan sejarah yang pelan-pelan buram dilindas isu-isu nasional baru. Namun, bagi kami yang mendedikasikan hidup di balik ruang-ruang kelas di Lombok Utara, gempa 2018 bukanlah cerita masa lalu yang telah usai. Ia adalah pemicu mata rantai ketimpangan pendidikan yang dampaknya masih sangat nyata kami rasakan hingga hari ini. Terngiang suara tangis ketakutan apakah hari esok masih ada, ataukah Lombok Utara tinggal cerita, dengan bermodalkan harapan yang masih tertanam di benak sanubari, kami tetap merajut harapan dibawah tenda sederhana yang beratapkan terpal ditempat pengungsian, menunggu Langkah para relawan yang berhati mulia, untuk menumbuhkan rasa masihkah ada harapan untuk melihat Lombok Utara esok hari, ataukah akan tenggelam dalam cerita Gempa 7.0 SR, meluluhlantahkan kabupaten Lombok utara sehingga tidak tersisa generasi masa depan yang mampu bangkit dari wilayah pedalaman di Lombok Utara.
Selama menjadi guru di bumi Tioq Tata Tunaq ini, saya menyaksikan langsung bagaimana pendidikan tidak hanya diuji oleh kurikulum yang terus berganti, tetapi oleh ketahanan fisik dan mental yang terus menerus diuji. Gempa delapan tahun silam tidak sekadar merubuhkan bangunan beton sekolah, melainkan meretakkan fondasi ekosistem belajar anak-anak kami.
Dampak Panjang yang Belum Tuntas
Hingga saat ini, persoalan infrastruktur pendidikan masih belum optimal sepenuhnya. Masih terdapat sekolah-sekolah yang terpaksa beroperasi dengan fasilitas seadanya. Bangunan sementara yang dulu dibangun sebagai solusi darurat, kini dipaksa menjadi bangunan “permanen” karena keterbatasan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi. Di musim kemarau, ruang kelas terasa membakar; di musim hujan, kebocoran dan genangan air kerap menghentikan proses belajar mengajar.
Kondisi fisik sekolah yang belum pulih 100% ini membawa dampak dominonya sendiri. Akses terhadap laboratorium, perpustakaan yang layak, hingga perangkat teknologi informasi yang menjadi tuntutan era digital saat ini masih menjadi barang mewah bagi banyak sekolah di pelosok Lombok Utara. Bagaimana mungkin kita menuntut kesetaraan mutu pendidikan nasional ketika sarana dasar untuk belajar pun masih tertatih-tatih di atas puing bekas gempa?
Namun, dampak yang paling kasatmata sekaligus paling sulit disembuhkan adalah luka psikologis dan degradasi motivasi belajar. Anak-anak yang saat gempa 2018 lalu masih duduk di bangku PAUD atau SD awal, kini telah tumbuh menjadi remaja. Mereka mengarungi masa-masa krusial perkembangannya di tengah keterbatasan sarana belajar, yang kemudian disusul oleh pandemi global beberapa tahun setelahnya. Akumulasi disrupsi ini menciptakan celah ketertinggalan belajar (learning loss) yang cukup mendalam.
Panggilan Jiwa Seorang Pendidik
Selama menjadi guru di tengah kondisi yang penuh keterbatasan ini, saya menyadari bahwa peran guru tidak boleh berhenti sekadar sebagai pengajar materi di papan tulis. Guru di Lombok Utara dituntut menjadi pelita di tengah kegelapan, pembakar semangat, sekaligus penyembuh trauma.
Setiap pagi, saat melangkahkan kaki ke sekolah, kami tidak hanya membawa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar. Kami membawa segudang harapan bahwa hari ini anak-anak akan belajar sesuatu yang berarti, bahwa mereka tidak boleh merasa berkecil hati hanya karena belajar di bawah atap yang sederhana. Kami belajar untuk lebih fleksibel, kreatif memanfaatkan media pembelajaran berbasis kearifan lokal, serta memprioritaskan pendekatan emosional agar siswa merasa aman dan dihargai.
Rekomendasi dan Harapan Pemulihan
Untuk mengembalikan kebangkitan pendidikan Lombok Utara secara utuh, diperlukan langkah konkret dan sinergis yang berkelanjutan:
- Percepatan Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan: Pemerintah daerah maupun pusat harus memprioritaskan penuntasan rekonstruksi gedung sekolah yang tangguh bencana di Lombok Utara tanpa menunda-nunda lagi.
- Pemerataan Fasilitas Digital dan Literasi: Perlu adanya intervensi khusus dalam penyediaan fasilitas teknologi dan bahan bacaan berkualitas untuk mengejar ketertinggalan literasi dan numerasi siswa.
- Dukungan Kesehatan Mental dan Kapasitas Guru: Program pendampingan psikososial yang berkelanjutan baik untuk siswa maupun guru perlu terus diperkuat, disertai pelatihan peningkatan kompetensi mengajar di daerah terdampak bencana.
- Dukungan Kesejahteraan Guru : Dengan bertarung ancaman ketidakpastian Nasib, kami tetap berusaha tegar untuk menembus batas kapasitas manusia dalam membina generasi masa depan bangsa, tidak ada kata menyerah dalam menanamkan karakter kepada peserta didik, walaupun di balik itu semua, kami Guru di Kabupaten Lombok Utara harus terus tetap puas dengan Keputusan, Status PPPK Paruh waktu, yang sampai saat ini belum jelas kemana arah dan muara akhirnya.
Penutup
Menjadi guru di Lombok Utara mengajarkan saya arti sejati dari sebuah pengabdian. Di balik setiap keterbatasan dan dampak gempa yang masih membayang, ada binar mata anak-anak yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka adalah masa depan Lombok Utara, masa depan Indonesia.
Gempa bumi boleh saja meretakkan dinding-dinding sekolah kami, namun ia tidak akan pernah sanggup meretakkan cita-cita dan semangat kami untuk terus mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah saatnya pemulihan pendidikan di Lombok Utara mendapat perhatian yang utuh dan berkelanjutan, demi senyum dan masa depan anak-anak di gumi Tioq Tata Tunaq.





