
Penunggu sebelah sudut di Ruang Guru
Dalam suatu kumpulan yang ramai dengan canda tawa,
Aku memilih diam di sudut ruang sana.
Bukan karena tak ingin bersatu ataupun saling menyapa,
Bukan juga tak ingin berteman atau saling berbagi pengalaman,
tetapi aku merasakan paling berbeda. kenapa?
Setiap waktu, perhatianku hadir
namun, yang diperhatikan tak menanggapi
setiap saat, canda tawaku terlampir
tetapi, tak ada pula yang menghargai
Dari sana, luka yang tak terlihat oleh mata
menusuk ke dalam jiwa
seolah-olah menjadi peringatan
bahwa aku ini manusia biasa yang tiada apa-apanya.
aku seorang guru,
yang setiap harinya mendidik dan membina kepada anak-anak
harus menjadi baik dimanapun kita berada
Akan tetapi,
Disaat aku melihat senyuman, selalu tidak dengan ketulusan
disaat mendengar pujian, ada sindiran yang menekan
persahabatan pun hanya status yang tertera
dan tak merasakan kehangatan
hanya dingin yang kuterima.
Darisana,
aku menilai bahwa kini persahabatan dalam duniaku itu,
tak ada yang tulus semuanya memang hanya status
Aku memilih menyendiri,
bukan karena membenci, hanya ingin menjaga hati
agar tak ikut menjadi seperti mereka yang diam-diam menyakiti.
Didepan kelas, aku tetap tersenyum,
menjaga keadaan kepada anak-anak untuk tetap saling bersatu
mengajarkan ilmu dengan kata-kata ceria untuk menutup pilu.
Kini aku harus mampu menguatkan diri sendiri
biarlah mereka berkata apa
biarlah aku dianggap berbeda
aku tak perlu membalas luka yang mereka cipta
cukup Allah yang mengetahui semuanya.






