NAMA YANG BELUM SEMPAT DIPANGGIL

NAMA YANG BELUM SEMPAT DIPANGGIL
Cerpen keluarga • Kehilangan • Kasih sayang • Keikhlasan
Penulis : FAULINA, S.Pd

Ada nama yang disiapkan dengan penuh cinta, tetapi tak pernah sempat dipanggil oleh orang yang memilihnya. Nama itu tersimpan di antara doa-doa, di dalam percakapan yang terputus, dan di hati seorang anak perempuan yang sedang belajar menerima kehilangan. Aku baru memahami artinya ketika ayah pergi, tepat saat aku menunggu kelahiran anak pertamaku.

Sejak dua garis merah muncul di alat tes kehamilan, rumah kami terasa berbeda. Aku dan suamiku menyambut kabar itu dengan bahagia. Ia bekerja di luar kota, sehingga hari-hari kehamilanku lebih sering kulewati sendiri. Namun, aku tidak benar-benar sendirian. Ada Ayah yang selalu hadir, seolah-olah kehadiran cucu pertamanya adalah tugas paling penting yang pernah ia emban.

Setiap pagi, Ayah datang untuk mengantarku mengajar. Ia memastikan aku duduk nyaman, mengingatkanku agar tidak terburu-buru turun dari kendaraan, lalu menanyakan hal-hal kecil yang kadang kuanggap berlebihan.
“Kalau capek, bilang. Jangan sok kuat,” katanya.
Aku biasanya tertawa. “Ayah ini, aku hamil, bukan sakit.”

Ayah hanya menggeleng, tetapi senyumnya tidak pernah hilang. Sepulang mengajar, ia kembali menjemputku. Kadang ia sudah menunggu di tempat yang sama sebelum jam pulang, kadang ia menelepon berkali-kali hanya untuk memastikan aku tidak berdiri terlalu lama.

Suamiku sering menelepon dari luar kota. Ia meminta maaf karena tidak bisa menemaniku setiap hari. Aku selalu menjawab bahwa aku baik-baik saja, sebab ada Ayah yang mengurus banyak hal. Saat itu, aku belum tahu bahwa kebiasaan sederhana—perjalanan pergi dan pulang bersama Ayah—kelak menjadi kenangan yang paling ingin ku ulang.

Ayah begitu bersemangat menanti cucu pertamanya. Ia sering mengusap perutku dengan hati-hati, seperti takut sentuhannya akan mengganggu bayi di dalam sana. Kadang ia berbicara kepada perutku, menceritakan hal-hal yang bahkan belum kupahami mengapa perlu diceritakan kepada bayi yang belum lahir.
“Oppung tunggu, ya,” ucapnya suatu sore.
Aku tersenyum mendengar sebutan itu. “Nanti kalau sudah lahir, dia panggil Ayah Oppung.”
“Harus,” jawabnya cepat. “Biar dia tahu siapa yang paling dulu menunggunya.”

Ayah sudah menyiapkan sebuah nama yang menurutnya indah. Ia mengucapkannya berulang kali, mencoba bagaimana bunyinya jika dipanggil dengan suara lembut, lalu tertawa sendiri membayangkan cucunya berlari kecil menyambutnya. Nama itu bukan sekadar rangkaian kata baginya. Di dalamnya ada harapan, doa, dan bayangan tentang masa depan yang ingin ia saksikan. “Nama itu harus punya arti baik,” katanya. “Biar kelak dia tumbuh menjadi orang yang membawa kebaikan.”

Aku mendengarkannya sambil mengelus perut. Aku ikut bahagia, tanpa pernah membayangkan bahwa nama yang disiapkan Ayah itu akan menjadi bagian dari kesedihan yang begitu panjang. Hari-hari terus berjalan. Kandunganku semakin besar dan tubuhku mulai mudah lelah. Aku lebih sering berhenti sejenak saat berjalan, sulit menemukan posisi tidur yang nyaman, dan kadang merasa cemas memikirkan persalinan. Ayah tetap mengantarku dan menjemputku, karena suamiku bekerja di luar kota dan meskipun aku tahu ia juga punya urusan dan rasa lelahnya sendiri.
Aku pernah memintanya beristirahat saja di rumah.
“Biar aku cari cara lain, Yah. Ayah tidak perlu bolak-balik terus.”
Ia menatapku sejenak. “Selama Ayah masih bisa, Ayah antar.”
Jawaban itu terdengar sederhana. Baru setelah semuanya terjadi, aku menyadari betapa banyak kasih sayang yang disembunyikan di balik kalimat pendek tersebut.

Lalu, suatu hari, keadaan berubah. Ayah mengeluh tidak enak badan. Awalnya kami berharap ia hanya kelelahan. Namun, setelah pemeriksaan, kabar yang datang membuat seluruh keluarga cemas: jantung Ayah bermasalah dan ia harus dirawat di rumah sakit. Kondisinya memburuk hingga ia dipindahkan ke ruang ICU.

Kata ICU terasa dingin saat kudengar. Aku membayangkan Ayah terbaring di balik pintu yang tidak bisa kulewati sesuka hati, dikelilingi alat-alat yang berbunyi dan tenaga medis yang berusaha menolongnya. Aku ingin segera datang, menggenggam tangannya, dan mengatakan bahwa aku ada di sini. Aku ingin membalas semua perjalanan yang selama ini ia tempuh untukku, meski hanya dengan duduk di samping ranjangnya.

Tetapi tubuhku sedang hamil besar. Keluarga mengkhawatirkan kondisiku. Perjalanan, kelelahan, dan kemungkinan apa pun yang dapat membahayakan kehamilanku membuat semua orang berhati-hati. Aku berusaha memahami alasan mereka, tetapi hatiku menolak menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa menemui Ayah.

Aku terus bertanya tentang keadaannya. Setiap kali telepon berbunyi, jantungku berdegup lebih cepat. Aku menunggu kabar baik: Ayah sudah sadar, Ayah sudah bisa berbicara, Ayah bertanya tentang aku. Aku membayangkan nanti, setelah kondisinya membaik, aku akan datang menemuinya. Aku akan memarahinya dengan lembut karena membuat kami khawatir, lalu menangis di pelukannya.

Di dalam kepalaku, masih ada banyak waktu. Aku percaya Ayah akan bertahan sampai aku bisa datang. Aku percaya ia akan menunggu cucunya lahir. Bukankah ia yang paling bersemangat menyambut bayi itu? Bukankah ia sudah memilih nama dan berkali-kali berkata bahwa ia ingin mendengar cucunya memanggil, “Oppung”?

Aku menggenggam harapan itu erat-erat, seolah-olah dengan memercayainya aku bisa membuat Ayah tetap tinggal.
Malam itu, kabar yang kutakuti akhirnya datang.

Aku sedang berbaring, berusaha mencari posisi yang tidak membuat punggungku sakit. Perutku terasa berat. Rumah sunyi, tetapi pikiranku tidak pernah benar-benar diam. Sejak Ayah masuk ICU, aku seperti hidup di antara dua ketukan: detak jantungku sendiri dan bunyi telepon yang kutunggu. Lalu telepon itu berdering. Aku segera meraihnya. Suara di seberang terdengar berat dan terputus-putus. Aku berusaha menangkap setiap kata, tetapi ada satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku seakan kehilangan tenaga. “Ayah sudah tidak ada.” Adikku menelepon

Untuk beberapa detik, aku tidak mengerti. Aku memandangi layar telepon, menunggu seseorang mengatakan bahwa itu salah dengar, bahwa Ayah hanya sedang kritis, bahwa aku masih punya kesempatan. Namun, tidak ada kalimat yang bisa mengubah kabar itu.

Ayah meninggal karena sakit jantung setelah dirawat di ICU. Dan aku—anak perempuannya yang selama ini selalu ia antar dan jemput—bahkan tidak berada di sisinya pada saat-saat terakhir.

Tangisku pecah. Aku mencoba bangun, tetapi tubuhku gemetar. Tanganku memeluk perut yang besar, sementara pikiranku berlari ke rumah sakit, ke ranjang tempat Ayah terbaring, ke tangan Ayah yang mungkin ingin kugenggam untuk terakhir kali. Aku ingin berteriak memanggilnya. Aku ingin berkata, “Yah, aku di sini. Tunggu aku sebentar saja.” Namun, semua kata itu hanya berputar di dalam dada.

Hal yang paling menyakitkan bukan hanya kenyataan bahwa Ayah pergi. Hal yang paling menyakitkan adalah kesempatan yang tak akan pernah kembali. Aku tidak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali. Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih. Aku tidak sempat mengatakan bahwa aku menyayanginya, bahwa aku masih membutuhkan nasihatnya, bahwa aku ingin ia melihat cucu yang selama ini ia tunggu.

Aku membayangkan Ayah di rumah sakit, sementara aku berada jauh darinya dengan perut besar dan langkah yang terbatas. Aku bertanya-tanya apakah ia sempat menyebut namaku. Apakah ia sempat bertanya tentang bayi itu? Apakah ia menunggu aku datang? Pertanyaan-pertanyaan itu menyiksa karena tidak ada jawaban yang bisa kupastikan.
Lalu aku teringat nama yang sudah ia siapkan.

Nama indah itu—yang dahulu ia ucapkan dengan senyum dan mata berbinar—mendadak terasa seperti pesan yang tertinggal. Ayah sudah merencanakan begitu banyak hal untuk cucu pertamanya, tetapi ia tidak akan hadir saat nama itu diumumkan. Ia tidak akan berdiri di sampingku ketika bayi itu lahir. Ia tidak akan menggendongnya sambil berkata bahwa ia adalah Oppung yang paling bahagia.

Aku menangis sampai napasku tersengal, lalu berhenti karena teringat ada kehidupan kecil di dalam tubuhku. Bayiku masih bergerak. Di tengah kehilangan yang terasa seperti meruntuhkan seluruh dunia, ada seseorang yang masih membutuhkanku untuk bertahan.

Aku tidak langsung menjadi kuat malam itu. Aku juga tidak tiba-tiba bisa menerima semuanya. Aku hanya duduk, memeluk perutku, dan berusaha bernapas. Untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa seseorang bisa merasa hancur sekaligus harus menjaga kehidupan yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Di dalam hati, aku berkata kepada Ayah, “Yah, aku belum sempat datang. Aku belum sempat melihat Ayah. Maafkan aku.”. Kalimat itu terus kuulang, seakan-akan permintaan maafku dapat menyeberangi jarak yang kini tidak mungkin lagi kutempuh.

Hari-hari setelah kepergian Ayah berjalan dengan cara yang aneh. Waktu tetap bergerak, matahari tetap terbit, dan orang-orang tetap menjalani kegiatan mereka. Namun, bagiku, ada bagian dunia yang berhenti. Aku sering menatap tempat biasa Ayah menungguku sepulang mengajar. Setiap kali melihat kendaraan yang mirip miliknya, aku spontan menoleh, sebelum ingat bahwa ia tidak akan datang lagi.

Aku menyesali banyak hal. Seandainya aku memaksa datang ke rumah sakit. Seandainya aku mencari cara lain untuk menemuinya. Seandainya aku menelepon lebih lama, mengucapkan lebih banyak kata, atau setidaknya berpamitan melalui seseorang. Pikiran-pikiran itu datang tanpa diundang, terutama pada malam hari ketika rumah menjadi sunyi.

Aku tahu keluargaku berusaha melindungiku dan bayi yang kukandung. Aku tahu mereka tidak ingin sesuatu terjadi pada kami. Tetapi pengetahuan itu tidak serta-merta menghapus rasa bersalah. Aku terjebak di antara memahami alasan mengapa aku tidak bisa datang dan menyalahkan diri sendiri karena tidak berada di sana.

Suamiku datang memeluk dan berusaha menguatkanku, lalu melakukan apa yang ia bisa agar aku tidak menghadapi kesedihan seorang diri. Namun, ada kehilangan yang tak bisa diselesaikan oleh nasihat siapa pun. Ada rindu yang hanya bisa ditangisi, sampai perlahan-lahan kita belajar membawanya tanpa membiarkannya menghancurkan seluruh langkah.

Ketika hari kelahiran semakin dekat, aku kembali mengingat Ayah. Aku membayangkan ia berdiri di depan rumah sakit dengan wajah cemas, bertanya berkali-kali apakah aku baik-baik saja. Aku membayangkan ia menggendong cucunya, mengucapkan nama yang telah dipilihnya, lalu tersenyum bangga.

Bayangan itu menyakitkan karena tidak akan terjadi seperti yang kuimpikan. Namun, aku mulai menyadari bahwa kasih sayang Ayah tidak lenyap hanya karena tubuhnya tak lagi ada. Ia sudah hadir dalam banyak hal: dalam keberanianku menjalani hari, dalam perhatian yang kuterima, dalam perjalanan pergi-pulang mengajar, dan dalam nama yang ia pilih dengan penuh harapan.

Aku tidak bisa mengubah hari terakhir Ayah. Aku tidak bisa memutar waktu untuk duduk di samping ranjangnya. Tetapi aku masih bisa menjaga hal-hal baik yang ditinggalkannya. Aku bisa menceritakan kepada anakku siapa Oppung-nya: seseorang yang mengantar ibunya bekerja ketika ia masih berada di dalam kandungan, seseorang yang menunggu kelahirannya dengan sabar, seseorang yang memilih namanya bahkan sebelum sempat melihat wajahnya.

Mungkin kelak anakku akan bertanya mengapa ia tidak punya kenangan bertemu Oppung. Aku akan menjawab bahwa tidak semua orang yang kita cintai sempat tinggal cukup lama untuk membuat kenangan bersama kita. Sebagian meninggalkan cinta lebih dahulu, lalu kita menghabiskan hidup untuk mengenalnya melalui cerita.

Saat akhirnya aku menimang anakku, perasaanku bercampur menjadi satu. Ada bahagia yang sulit dijelaskan, ada lelah yang memenuhi tubuh, dan ada ruang kosong yang terasa semakin besar karena Ayah tidak berada di sampingku. Aku menatap wajah kecil itu lama-lama, lalu menyebut nama yang pernah disiapkan Ayah—nama yang kini menjadi pengingat bahwa ia pernah mencintai seseorang yang bahkan belum sempat ia peluk.  “Ini nama pilihan Oppung,” bisikku kepada anakku. “Oppung sudah menunggumu jauh sebelum kamu lahir.”

Air mataku jatuh di pipi. Kali ini, tangisku tidak hanya berisi penyesalan. Ada rindu, tentu saja. Ada luka yang mungkin tidak akan benar-benar hilang. Namun, ada pula rasa syukur karena anakku kelak akan mengenal cinta seorang kakek melalui kisah-kisah yang akan kuceritakan.

Aku akhirnya memahami bahwa mengikhlaskan bukan berarti berhenti merindukan. Ikhlas bukan berarti aku tidak lagi menangis ketika mengingat Ayah, atau tidak lagi berharap bisa memeluknya sekali saja. Ikhlas adalah belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kuubah, meskipun hatiku berkali-kali meminta waktu mengulang dirinya.

Aku mungkin tidak sempat melihat Ayah untuk terakhir kali. Aku tidak sempat menggenggam tangannya di ICU, dan ia tidak sempat mendengar cucu pertamanya memanggil, “Oppung.” Penyesalan itu akan selalu menjadi bagian dari ceritaku. Tetapi aku tidak ingin menjadikan penyesalan sebagai satu-satunya warisan yang kubawa dari Ayah. Aku ingin mewariskan kasih sayangnya.

Kelak, ketika anakku tumbuh besar, aku akan bercerita tentang seorang laki-laki yang selalu datang menjemput ibunya, yang mengingatkan agar ia tidak kelelahan, yang menyiapkan nama indah dengan mata berbinar, dan yang pergi sebelum sempat menyambut cucunya. Aku akan bercerita bukan agar anakku larut dalam kesedihan, melainkan agar ia tahu bahwa dirinya telah dicintai bahkan sebelum dilahirkan.

Dan setiap kali ia menyebut kata “Oppung”, aku akan membayangkan Ayah tersenyum dari tempat yang tak bisa kujangkau. Aku tak tahu apakah bayangan itu benar, tetapi untuk saat ini, bayangan tersebut cukup untuk menghangatkan hatiku. Ayah memang tidak sempat menggendong cucu pertamanya. Namun, ia telah meninggalkan pelukan yang akan kusampaikan melalui cerita, doa, dan cinta yang terus kujaga.

Aku masih merindukannya. Aku masih berharap bisa bertemu dengannya sekali lagi. Tetapi kini aku belajar melangkah sambil membawa rindu itu—bukan untuk melupakan Ayah, melainkan untuk menerima bahwa cinta yang besar kadang mengajarkan kita perpisahan yang paling berat.

Dan di antara tangis yang belum sepenuhnya reda, aku akhirnya berani berbisik, “Yah, aku akan baik-baik saja. Aku akan membesarkan cucu yang begitu Ayah tunggu. Aku akan menceritakan semuanya kepadanya. Aku akan belajar ikhlas, meski mungkin butuh waktu seumur hidup.”. Untuk pertama kalinya sejak Ayah pergi, aku tidak meminta waktu mengembalikannya. Aku hanya meminta kekuatan agar bisa meneruskan cinta yang telah ia tinggalkan.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan