Pintu yang Diketuk Hati

Di tempat yang jauh, di sebuah rumah yang sunyi, duduklah seorang pria.

Ia mengenakan pakaian berwarna ungu yang lembut, namun bahunya terkulai berat. Di matanya kacamata yang menutupi pandangannya  seolah ia tak ingin siapa pun tahu apa yang terasa di dalam. Sendirian di tempat tidurnya, ia menundukkan kepala, dan air mata jatuh satu per satu. Sudah begitu lama ia memikul semuanya sendiri. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bertanya.

Namun di tempat yang lain, jauh dari sana, ada seseorang yang tiba-tiba merasakan kesedihan itu  bukan dengan mata fisik, melainkan dengan hati.

Tanpa berjalan sejenjang pun, ia seolah berdiri di depan pintu rumah itu. Ia mengetuk  pelan, namun tegas.

Pintu terbuka. Pria itu menatapnya, bingung. Siapa kamu? tanyanya, suaranya masih bergetar.

Seseorang itu tersenyum lembut.
Aku tidak datang untuk menanyakan ceritamu, katanya. Aku hanya ingin mendoakanmu.

Pria itu terdiam. Matanya yang selama ini tertutup, perlahan terbuka. Tidak ada yang pernah datang hanya untuk itu. Tidak ada yang pernah melihatnya.

Angin berhenti berdesir. Ruangan yang tadi terasa sepi, kini terasa hangat. Kau tidak sendirian, ucapnya pelan. Aku melihat bebanmu. Dan aku mendoakanmu.
Pria itu menunduk lagi  kali ini bukan karena kesedihan, tapi karena dihatinya ada sesuatu yang perlahan terangkat. Seperti pintu yang tertutup rapat, kini terbuka lebar.

Cahaya tidak perlu berjalan jauh untuk sampai. Ia hanya perlu bersinar. Dan kadang  satu ketukan dari hati yang tulus, mampu mengubah kesepian seseorang selamanya.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan