Judul buku : Pada Suatu Hari Nanti – Malam Wabah
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penerbit : Bentang Pustaka
Bapak Sapardi merupakan salah satu penulis kesukaan saya. Saya mengenal beliau saat beliau menjadi dekan fakultas sastra Universitas Indonesia tempat saya berkuliah. Sejak itu saya mulai menyukai puisi dan mengumpulkan buku karangan beliau.
Pada Suatu Hari Nanti – Malam Wabah adalah sebuah buku kumpulan cerita yang sangat unik. Satu buku dengan dua judul terbalik di bagian depan dan belakang.
Dalam bagian Pada Suatu Hari Nanti berisi 9 cerita dongeng yang sebagian telah dikenal oleh masyarakat Indonesia seperti Dongeng Rama-Sita, Ketoprak Sampek Kentaek, Ratapan Anak Tiri, Crenggi, Pada Suatu Hari Nanti, Dongeng Kancil, Hikayat Ken Arok, Malin Kundang dan Ditunggu Dogot. Cerita dongeng tersebut ditulis kembali dengan memutar-balikkan fakta dan menata ulang makna sehingga menjadi suatu cerita baru yang asik untuk dinikmati.
Dongeng Rama-Sita, dituliskan bagaimana Sita menjadi seorang perempuan yang sungguh menyukai Rahwana, seorang raksasa hitam besar dan berbulu. Sita tidak mau kembali kepada Rama dan tetap memilih pergi bersama Rahwana.
Cerita Malin Kundang, dituliskan bagaimana Malin Kundang sadar telah menjadi anak durhaka tepat ketika ibunya mengucapkan kutukan. Malin meloncat ke laut dan berenang kembali untuk menemui ibunya dan meminta maaf. Malin mencari ibunya di pasar namun tak kunjung jua bertemu.
Cerita Pada Suatu Hari Nanti berbeda dengan puisi berjudul sama yang ditulis beliau pada tahun 1991. Cerita ini tentang seorang perempuan cantik layaknya bidadari bernama Nawang. Nawang meninggalkan suaminya karena merasa telah diperdaya. Mengingatkan saya pada cerita Nawang Wulan dan Jaka Tarub.
Dalam bagian Malam Wabah berisi 13 cerita pendek. Pada bagian ini saya menjumpai cerita yang absurd dan memiliki akhir cerita yang menggantung. Cerita tentang rumah-rumah yang saling bergosip membicarakan rumah tua yang berhantu. Sepasang sepatu baru yang bercakap-cakap, bergosip tentang pemilik barunya. Meskipun begitu, sepatu baru itu menyayangi pemiliknya karena telah membeli sepatu itu setelah sekian lama dipajang hingga berdebu.
Cerita Malam Wabah, menceritakan sebuah kampung yang dilanda wabah penyakit. Untuk mengatasi wabah tersebut, warga kampung memutuskan untuk mengadakan upacara khusus. Entah makhluk apa yang menyebabkan penyakit menular dengan begitu cepat.
Cerita-cerita tersebut dapat merepresentasikan masyarakat Indonesia yang senang ngerumpi dan masih percaya dengan hal-hal mistis. Bapak Sapardi menuliskan cerita tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti dan mengalir begitu apik.







