Sabtu di Jalan Kapling Namb

Setiap Sabtu, pukul sembilan,
pintu kecil itu terbuka.
Tidak ada bel sekolah.
Tidak ada seragam.
Hanya anak-anak yang datang
dengan kaki tanpa sepatu
dan nama yang belum bisa mereka tulis.

Lima puluh anak.
Dua puluh lima di antaranya
belum pernah tahu
rasanya memiliki bangku sendiri,
belum pernah dipanggil namanya
saat guru mengabsen di depan kelas.

Di ruang berdinding hijau
yang catnya mengelupas sedikit demi sedikit,
mereka duduk di lantai.
Di atas meja kayu ada dua gunting
untuk belasan tangan kecil.
Mereka menunggu giliran
tanpa mengeluh.
Mungkin karena sejak lahir
mereka sudah terbiasa menunggu.

Seorang kakak mengangkat selembar kertas hijau.
Ia melipatnya pelan.
Belasan pasang mata mengikuti.
Seorang anak tersenyum
saat lipatannya berhasil,
miring, tetapi miliknya sendiri.

Ibu, aku sudah bisa menulis huruf A.
Besok aku ingin belajar menulis namaku.
Lusa aku ingin menulis namamu.

Empat orang kakak datang,
Mereka bukan guru bergaji.
Lima hari mereka bekerja,
dan Sabtu mereka berikan
kepada anak-anak yang tidak mereka lahirkan
tetapi mereka sayangi.

Pukul dua belas, kelas selesai.
Anak-anak pulang ke rumah
yang tidak jauh dari tumpukan sampah kota.
Mereka membawa kertas yang sudah terlipat,
huruf yang baru mereka kenal,
dan satu pertanyaan
yang belum ada yang bisa menjawab:

Kak, minggu depan kita belajar lagi, kan?

Bertunas, bertumbuh,
berkembang, dan berbuah.
Itulah doa kami untuk mereka.
Mereka sudah datang dan sudah mau belajar.
Sekarang mereka menunggu,
apakah kita juga mau datang.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan