Cahaya di Antara Halaman

Di rak yang berdebu, sunyi menyimpan suara,
ribuan kata tertidur menunggu dibangunkan,
tangan kecil membuka sampul yang lama
dan dunia pun perlahan mulai terbentang.

Huruf-huruf berbaris seperti semut di senja,
menuntun mata menuju pulau yang jauh,
tak ada kapal, tak ada tiket perjalanan,
hanya rasa ingin tahu yang setia menjadi layar.

Pernah aku tersesat di antara kabar dan riuh,
jempol lebih cepat daripada pikiran,
hingga kubaca satu kalimat sampai tuntas
dan kuketahui: diam sebentar adalah kebijaksanaan.

Guruku menulis harapan di papan yang retak,
bukan agar kami hafal, tetapi mengerti,
bahwa mengeja bukan sekadar bunyi,
melainkan keberanian untuk bertanya pada dunia.

Maka kunyalakan pelita dari lembar demi lembar,
kubagikan terang pada mereka yang belum sempat,
sebab bangsa tak tumbuh dari gedung yang megah,
melainkan dari sebuah bangku dan buku yang dibaca.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan