SAMUDERA DI HATI IBU

Matahari baru saja terbit, tetapi Ibu sudah sibuk di dapur kecil kami yang mulai digerogoti usia. Bau harum nasi goreng mentega kesukaanku menyeruak, mencoba mengusir hawa dingin sisa hujan semalam. Aku berjalan ke meja makan dengan langkah berat, wajahku ditekuk karena kesal dengan tugas sekolah yang menumpuk dan ponselku yang mendadak rusak.
Ketika Ibu menyodorkan sepiring sarapan dengan senyum hangatnya yang biasa, aku justru menggeser piring itu dengan kasar hingga sedikit nasinya tumpah ke meja. Aku berteriak egois, mengeluhkan mengapa hidup kami begitu sulit dan mengapa Ibu tidak bisa membelikanku ponsel baru seperti orang tua teman-temanku.
Ibu tidak membalas teriakanku dengan amarah, tidak pula membelalakkan matanya yang tampak sangat lelah. Beliau hanya diam, menghela napas panjang yang halus, lalu perlahan memunguti butiran nasi yang tercecer di meja dengan jemarinya yang mulai kasar. Senyum lembut itu kembali terukir di wajahnya, seolah kalimat kasarku sama sekali tidak melukai hatinya.
“Maafkan Ibu ya, Nak, belum bisa membelikan apa yang kamu mau. Dimakan ya sarapannya, nanti kamu terlambat ke sekolah,” kata Ibu dengan suara yang begitu tenang dan teduh.
Sore harinya, aku pulang dengan suasana hati yang masih buruk karena nilai ujianku merosot. Aku langsung masuk ke kamar dan membanting pintu, mengurung diri tanpa menyapa Ibu yang sedang menyetrika tumpukan baju milik tetangga demi upah yang tak seberapa. Dari dalam kamar, aku bisa mendengar ketukan pelan di pintu, disusul suara Ibu yang menawarkan segelas teh manis hangat. Aku sengaja mengabaikannya dan berpura-pura tidur.
Malam semakin larut ketika rasa haus memaksaku keluar dari kamar untuk mengambil air minum ke dapur. Rumah sudah sangat sepi, tetapi lampu di pojok ruang tengah masih menyala remang-remang. Aku menghentikan langkah saat melihat Ibu sedang duduk bersimpuh di atas sajadah tuanya.
Kedua tangan Ibu tengadah ke atas, dan bahunya tampak bergetar pelan menahan tangis. Dalam keheningan malam itu, aku mendengar Ibu membisikkan doa dengan suara lirih yang bergetar penuh ketulusan. Beliau tidak meminta kekayaan atau kemudahan untuk dirinya sendiri, melainkan memohon agar aku selalu diberi kesabaran, kesehatan, dan kelancaran dalam meraih masa depan. Ibu bahkan meminta maaf kepada Tuhan karena merasa belum menjadi orang tua yang baik untukku.
Mendengar bait demi bait doa Ibu, dadaku terasa sesak luar biasa dan air mataku runtuh seketika. Aku menyadari betapa egois dan butanya aku selama ini, sementara Ibu selalu meluaskan hatinya seperti samudra untuk menampung segala keluh kesah dan kemarahanku tanpa pernah mengeluh balik.
Aku melangkah mendekat, lalu bersujud di samping sajadah Ibu, memeluk kakinya yang lelah dengan tangis yang pecah. Ibu terkejut, namun sedetik kemudian beliau langsung merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang sangat hangat, mengusap punggungku dengan penuh kasih sayang tanpa sepatah kata pun yang menyalahkan. Di dalam pelukan itu, aku belajar bahwa kesabaran seorang ibu adalah bentuk cinta paling tulus yang tidak akan pernah ada habisnya.
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan