Di Antara Jadwal dan Hati Murid

Bel sekolah berbunyi nyaring tepat pukul tujuh pagi, tetapi Pak Wanton sudah menyelesaikan separuh urusan dunianya sejak matahari baru merayap di ufuk timur. Di ruang kerja Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum, tumpukan berkas pemetaan Kurikulum Merdeka, revisi jadwal pelajaran, dan berkas supervisi guru berbaris rapi menunggu sentuhannya. Namun, hari ini bukan sekadar tentang jadwal pelajaran.
Sebagai Waka Kurikulum di SMA MULTI, tugas Pak Wanton tak pernah sederhana. Namun, tanggung jawab itu terasa kian berlipat ganda karena ia juga memegang amanah sebagai wali kelas XI IPA 2. Kelas yang terkenal paling hangat, dinamis, sekaligus paling sering memicu riak cerita di sekolah.
“Pak Wanton, berkas pembagian jam mengajar semester depan harus ditandatangani Kepala Sekolah sebelum jam sepuluh,” ujar Bu Rina, staf kurikulum, sembari meletakkan sebendel kertas tebal di meja.
“Baik, Bu Rina. Nanti jam istirahat saya cek kembali detailnya,” sahut Pak Wanton ramah.
Ia melirik jam tangannya. Sepuluh menit lagi bel masuk pelajaran pertama. Pak Wanton bergegas merapikan kemejanya, mengambil spidol dan laptop, lalu melangkah cepat menuju ruang XI IPA 2. Di koridor, kepalanya masih dipenuhi susunan rumus fungsi kuadrat yang akan ia ajarkan, berpacu dengan draf perangkat pembelajaran yang belum selesai diverifikasi dinas.
Saat memasuki kelas XI IPA 2, suasana riuh mendadak surut. Namun, Pak Wanton menangkap ada sesuatu yang ganjil. Bangku di pojok belakang kosong. Rangga, salah satu muridnya yang paling cerdas dalam bidang sains, tidak tampak di tempat duduknya.
“Selamat pagi, anak-anak. Siapa yang tidak hadir hari ini?” tanya Pak Wanton lembut.
“Rangga, Pak. Sudah tiga hari ini dia tidak masuk tanpa keterangan,” jawab Dion, ketua kelas.
Sebagai wali kelas, ada naluri yang mengusik dadanya. Pak Wanton teringat bahwa minggu lalu nilai-nilai tugas Rangga mulai menurun drastis. Setelah menyelesaikan sesi mengajar matematika jam pertama, Pak Wanton kembali ke ruang kurikulum. Ia membuka laptopnya untuk memvalidasi instrumen asesmen nasional yang tenggat waktunya nanti sore. Di tengah kesibukan mengetik tombol papan ketik yang bising, pintu ruangannya diketuk.
Seorang wanita paruh baya berdiri ragu-ragu di ambang pintu. Itu adalah ibu dari Rangga. Pak Wanton segera menyambutnya dengan senyum hangat, menangguhkan sejenak layar laptop yang dipenuhi angka-angka tabel kurikulum.
Dari cerita sang ibu, terungkaplah beban berat yang dipikul Rangga. Sejak ayahnya di-PHK, Rangga harus bekerja membantu berdagang di pasar hingga larut malam demi mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga ia sering kelelahan dan malu untuk datang ke sekolah.
“Saya mohon maaf, Pak Guru. Saya pasrah kalau Rangga harus dikeluarkan karena sering bolos,” tutur ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Pak Wanton menggeleng pelan. Ia melepas kacamata minusnya, menatap ibu itu dengan tulus. “Tidak, Bu. Sekolah ada bukan untuk menghakimi, tapi untuk mencari jalan keluar bersama. Rangga anak yang berbakat. Jangan biarkan masa depannya terputus di sini.”
Sebagai Waka Kurikulum, Pak Wanton paham betul fleksibilitas aturan pembelajaran. Ia segera menyusun skema pembelajaran mandiri dan penyesuaian tugas berbasis proyek agar Rangga tetap bisa mengejar ketertinggalan tanpa mengabaikan kondisi keluarganya. Sebagai wali kelas, ia juga merangkul murid-murid XI IPA 2 untuk memberikan dukungan moral tanpa membuat Rangga merasa rendah diri.
Sore harinya, ketika gedung sekolah mulai sepi dan sinar matahari keemasan menerobos jendela ruang kurikulum, Pak Wanton masih terduduk di kursinya. Semua berkas kurikulum berhasil ia tuntaskan tepat waktu. File asesmen sudah terkirim ke dinas, dan skema bantuan belajar untuk Rangga telah tersusun rapi.
Rasa lelah fisik yang menggelayuti pundaknya perlahan menguap saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Rangga: “Pak Wanton, terima kasih banyak sudah memahami keadaan saya. Besok pagi saya siap masuk sekolah lagi, Pak.”
Pak Wanton tersenyum tipis. Merangkap dua jabatan besar di sekolah memang menguras tenaga dan pikiran. Namun, baginya, kurikulum terbaik bukanlah sekadar tatanan dokumen di atas kertas, melainkan kepedulian nyata yang sanggup merangkul dan menyelamatkan masa depan seorang anak manusia. Dengan hati tenang, ia merapikan mejanya dan bersiap pulang.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan