Sebab Tidak Semua Bunga Mekar Bersamaan

Aku datang membawa sekantong harapan,
menyebutnya pengabdian, menyebutnya masa depan.
Kukira tugasku hanya menuliskan ilmu di papan,
ternyata aku harus belajar membaca diam,
memahami bahasa yang tak terucap oleh lisan,
dan menemukan cahaya di mata yang hampir kehilangan keyakinan.

Di ruang itu, aku bertemu beragam musim.
Ada yang tumbuh cepat, ada yang nyaris tak berani berembus angin.
Ada yang berkali-kali mencoba, lalu menunduk karena merasa tak mampu,
ada yang menyimpan dunia yang tak pernah benar-benar kuketahui.
Maka kupelajari satu hal yang tak tertulis di buku pelajaran:
tak semua benih membutuhkan cara yang sama untuk bertahan.

Pernah aku merasa gagal,
ketika segala cara belum juga menemukan jalan.
Kusiapkan pelajaran, kususun rencana, kupersembahkan kesungguhan,
namun tak semua sampai sebagaimana yang kuharapkan.
Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri dalam keheningan,
barangkali bukan mereka yang harus berlari lebih kencang,
melainkan aku yang perlu belajar berjalan lebih perlahan.

Sementara itu, waktu terus meminta bagian.
Ada keluarga yang menunggu di balik pintu kepulangan,
ada rindu yang tertunda, ada lelah yang tak sempat kuceritakan.
Aku ingin menjadi pelita bagi banyak kehidupan,
tetapi terkadang lupa bahwa diriku pun membutuhkan terang.
Di antara kewajiban dan cinta yang sama-sama ingin kujaga,
aku belajar: pengabdian bukan tentang menghabiskan diri,
melainkan tentang tetap memberi tanpa kehilangan hati.

Kelak, mungkin aku tak hadir ketika mereka menemukan jalannya.
Tak melihat tangan yang dahulu gemetar menjadi berani,
tak mendengar kabar ketika mereka akhirnya percaya pada diri sendiri.
Mungkin namaku luruh bersama waktu,
seperti tulisan di papan yang terhapus sebelum senja.
Namun, jika pernah ada anak yang berhenti menyebut dirinya tak mampu,
lalu mencoba sekali lagi karena dahulu aku memercayainya,
biarlah itu menjadi bunga yang mekar tanpa perlu kusaksikan.

Sebab kini aku mengerti arti menanam:
bukan memastikan setiap benih tumbuh di hadapan mata,
bukan menagih bunga atas setiap musim yang telah kulewati,
melainkan menjaga harapan, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.
Aku adalah guru; tugasku menanam, bukan menentukan kapan mereka mekar.
Dan jika suatu hari seluruh jejakku hilang ditelan zaman,
semoga kebaikan yang pernah kutanam tetap hidup
di dalam manusia-manusia yang pernah kubantu menemukan dirinya.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan