Secarik Puisi dari Sepatu Rusak
Sudah tiga bulan sejak surat keputusan pemindahanku keluar. Aku dibuang atau setidaknya begitu caraku memandang keputusan dinas waktu itu, ke sebuah sekolah pinggiran kota yang dikepung ladang tebu dan jalanan berbatu. Setiap pagi, debu jalanan menyiksa paru-paru, dan jarak yang terbentang puluhan kilometer dari pusat kota seolah menguras habis seluruh energiku bahkan sebelum aku sempat menyapa murid-muridku. Berkali-kali aku menatap pantulan diriku di cermin ruang guru, menghela napas panjang sembari meratapi nasib. Tapi lagi-lagi aku membesarkan hati kalau ini adalah amanah untuk mendidik anak bangsa. Aku mencoba membujuk hatiku yang keras kepala agar mau menerima kenyataan bahwa di sinilah tempatku berada sekarang.
Pagi itu, udara terasa sangat lembap. Langit di luar jendela kelas tampak muram, diselimuti mendung abu-abu yang menggantung rendah. Pelajaran Seni Budaya kubuka dengan materi apresiasi sastra dan seni rupa. Sebuah materi yang sengaja kupilih untuk memancing kepekaan emosional anak-anak yang terbiasa hidup keras di lingkungan pertanian ini. Aku meminta anak-anak menuangkan apa yang mereka rasakan saat ini ke dalam bentuk karya bebas. “Bisa berupa gambar, bisa juga untaian kata, anak-anak. Tuliskan apa saja yang saat ini sedang mengetuk dinding hati kalian,” ujarku melempar senyum ke seisi ruangan.
Di depan kelas, aku sibuk memperhatikan jemari mereka yang mulai menari di atas kertas. Ada yang mengerutkan kening sembari menggigit ujung pensil, ada yang menggambar garis-garis tegas dengan krayon seadanya, dan ada pula yang saling berbisik mencari inspirasi. Sementara mataku, entah mengapa, mencuri pandang ke arah sudut belakang. Ke arah Agus.
Agus adalah anak yang pendiam, cenderung menarik diri dari keriuhan teman-temannya. Ia tidak mengobrol atau ikut bercanda seperti anak-anak di barisan depan. Tangannya yang agak gemetar memegang sebuah pena usang yang penutupnya sudah hilang. Ia tampak begitu khusyuk, menulis baris demi baris dengan kepala yang hampir menyentuh meja, seolah-olah seluruh dunianya saat itu sedang tumpah ke atas permukaan kertas putih tersebut. Aku memperhatikan punggungnya yang sedikit membungkuk. Kemeja seragamnya sudah menguning di bagian kerah, namun tampak rapi dimasukkan ke dalam celana.
Hingga tak terasa, waktu berlalu begitu cepat ketika seluruh kelas tenggelam dalam kreativitas mereka. Bel pulang sekolah berdentang nyaring, memecah keheningan yang sempat tercipta. Namun bersamaan dengan gaung bel itu, hujan yang tadinya rintik sejak pagi, mendadak tumpah dengan begitu derasnya dari langit. Air seperti dicurahkan tanpa ampun, menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga di atas atap seng ruang kelas kami. Banjir dalam sekejap menggenangi halaman sekolah yang bertanah merah, mengunci kami di dalam area sekolah.
Satu per satu murid dijemput oleh orang tua mereka yang datang membawa payung besar atau jas hujan plastik yang longgar. Perlahan, riuh suara anak-anak mereda, tersisa aku dan Agus di ruang kelas yang perlahan mendingin oleh embus angin yang membawa uap air. Suasana menjadi begitu lengang. Aku merapikan beberapa lembar tugas yang telah dikumpulkan di atas mejaku, sementara mataku tetap mengawasi sudut belakang. Agus tidak beranjak. Ia sengaja menarik kakinya ke belakang kolong meja, sebuah gerakan yang sangat kentara seolah ia sedang berusaha keras menyembunyikan si “mulut buaya” yang malang itu dari pandanganku. Ya, aku tahu julukan itu. Sepatu hitam Agus sudah lama robek di bagian depannya, membuat sol dan kulit atasnya menganga lebar seperti mulut buaya yang siap menerkam. Sepanjang jam pelajaran tadi, setiap kali ia melangkah, sepatu itu mengeluarkan bunyi “plak-plak-plak” yang menyedihkan, yang kerap kali menjadi bahan tawaan halus teman-temannya, meski Agus selalu berpura-pura tidak mendengarnya.
“Agus, belum pulang?” tanyaku lembut, memutuskan untuk memecah kekakuan dan menghampiri mejanya. Aku berjalan pelan, langkah sepatu hak tinggiku berketuk ritmis di atas lantai semen. Ia mendongak, terkejut mendengarku sudah berada di dekatnya. Wajahnya yang legam karena terbakar matahari tampak bersemu merah. Ia lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang teramat sopan namun menyimpan sejuta rasa sungkan. “Belum, Bu. Menunggu hujan agak reda. Takut karet sepatu saya putus kalau dipaksa menembus banjir jalanan.”
Dadaku mendadak sesak mendengarnya. Kata-katanya seperti hantaman keras yang menghancurkan seluruh dinding keangkuhanku. Di depan cermin tadi pagi, aku sibuk memoles bedak mahal, mematut diri, dan mengagumi sepatu hak tinggiku yang mengilat, merek ternama yang kubeli dengan ego yang membumbung. Sepanjang jalan menuju sekolah, aku tak putus-putusnya mengeluh tentang jarak, tentang mutasi yang kuanggap tidak adil, dan tentang debu yang mengotori penampilanku. Aku mengeluh tentang jarak, tanpa tahu ada muridku yang harus mengikat harga dirinya dengan seutas karet gelang hitam yang sudah melar, hanya demi bisa duduk di kelasku dan menyerap setiap ilmu yang kubagikan. Karet gelang itu adalah benteng terakhir yang menjaga agar sepatunya tidak benar-benar terbelah menjadi dua di tengah jalan.
“Sambil menunggu hujan, boleh Ibu lihat tugas Seni Budayamu?” tanyaku, berusaha menyembunyikan getar emosi yang mulai merayap di tenggorokanku.
Agus ragu sejenak. Ia menatap kertas di tangannya, lalu menatapku dengan tatapan tidak enak hati. Namun melihat anggukan kepalaku yang meyakinkan, ia akhirnya menyerahkan selembar kertas yang sedikit lembap karena hawa dingin dan sisa keringat di jemarinya. Di atas kertas bergaris itu, goresan penanya yang agak tebal membentuk bait-bait indah yang seketika membuat mataku berkaca-kaca.
Secarik Puisi dari Sepatu Rusak
Kau tak pernah mengeluh pada aspal yang membakar, Atau pada kerikil tajam yang membuat solmu makin menganga. Saat dunia melihatmu sebagai rongsokan tak berharga, Bagi langkahku, kau adalah sayap yang paling setia.
Maaf, jika hari ini kuikat tubuhmu dengan karet gelang, Bukan karena aku tak sayang, Tapi agar kita bisa bertahan sedikit lebih lama, Menemani mimpiku, sampai nanti berubah jadi nyata.
Hujan boleh membasahi kainmu yang kusam, Tapi jalan kita menuju masa depan tidak akan pernah padam. Terima kasih, sepatu rusakku, Kita belum kalah, kita baru saja melangkah.
Aku terpaku. Kamar rindu dan ruang kelas ini mendadak senyap, menyisakan suara deru hujan di luar yang seolah menjelma menjadi musik latar yang magis. Kata-kata Agus begitu jujur, menusuk langsung ke relung kalbu terdalam. Ini adalah sebuah karya seni tertinggi yang lahir bukan dari teori-teori sastra yang rumit di dalam buku teks, melainkan dari getirnya kehidupan yang ia hadapi setiap hari dengan kepala tegak. Di tengah segala keterbatasan yang sanggup mematahkan semangat orang dewasa sekalipun, anak ini memilih untuk bersyukur dan menaruh harapan besar pada masa depannya.
Aku menatap Agus dengan rasa bangga sekaligus haru yang tak terbendung. Butiran air hangat mulai menggenang di pelupuk mataku, siap runtuh kapan saja.
“Ini… indah sekali, Agus. Sangat indah,” ujarku dengan suara yang sedikit serak.
“Maaf kalau mengotori kertasnya, Bu,” bisiknya polos, salah mengartikan diamku sebagai bentuk kekecewaan karena kertas tugasnya yang agak lecek dan lembap.
“Tidak, Agus. Kamulah yang baru saja mengajari Ibu arti seni yang sesungguhnya. Seni untuk bertahan dan tidak menyerah pada keadaan,” kataku sembari meletakkan tangan di bahunya, menyalurkan seluruh rasa hormat dan dukungan yang bisa kuberikan sebagai seorang pendidik.
Sore itu, di bawah rintik hujan yang mulai mereda dan menyisakan bau tanah yang basah, sepulang dari sekolah pinggiran kota itu, aku tidak lagi mengeluhkan jarak yang jauh. Ego dan keluhanku runtuh seketika, lebur bersama air hujan yang mengalir di selokan. Sepatu hak tinggi yang kubanggakan pagi tadi seolah tak ada artinya, terasa begitu dangkal dan remeh dibanding keteguhan jiwa serta martabat yang tersimpan di balik sepatu rusak Agus.
Lewat secarik puisi itu, Agus tidak hanya menginspirasi kelas, tapi dia telah menyembuhkan hatiku yang sempat sakit karena ketidakikhlasan. Kini aku tahu, kepindahanku ke sekolah ini bukanlah sebuah kesialan atau hukuman dari atasanku, melainkan sebuah takdir indah yang sengaja dituliskan Tuhan untuk merajut cinta yang tulus pada profesi ini. Aku, perlahan tapi pasti, telah jatuh cinta pada duniaku yang baru, menjadi guru bagi mutiara-mutiara tersembunyi yang berkilau di balik lumpur keterbatasan seperti Agus.
Selama ini, aku sebagai guru sering kali keliru berpikir. Aku terjebak dalam ilusi bahwa tugas gurulah yang harus selalu berdiri di depan, memegang kendali penuh, dan menjadi satu-satunya sumber yang menginspirasi para murid agar mereka menjadi sesuatu di masa depan. Namun hari itu, lewat secarik puisi dari sepasang sepatu rusak milik Agus, akulah yang justru dipulihkan, akulah yang ditampar oleh kesederhanaan, dan akulah yang pada akhirnya terinspirasi. Keterbatasan fisik dan materi ternyata tidak akan pernah bisa merantai tingginya sebuah impian jika jiwa di dalamnya menolak untuk menyerah.
Dua minggu kemudian, bertepatan dengan momen Hari Pendidikan Nasional, suasana sekolah tampak lebih benderang dan semarak dari biasanya. Bendera merah putih berkibar gagah di tengah lapangan yang mulai mengering. Puisi indah milik Agus sengaja dipajang di mading utama sekolah atas rekomendasi dariku kepada kepala sekolah. Puisi itu diketik rapi dengan hiasan gambar sepasang sepatu bersayap di sudutnya. Banyak guru dan murid lain berdiri di sana, membaca dengan khidmat, dan tak sedikit yang berdecak kagum.
Di depan mading itu, Agus berdiri dengan senyum paling lebar yang pernah ia miliki sepanjang yang kuingat. Wajahnya memancarkan rona bahagia yang begitu tulus. Namun, ada yang berbeda hari itu. Di kakinya kini telah terpasang sepasang sepatu hitam baru, kulitnya sintetis yang kokoh, mengilat terkena cahaya matahari pagi, dan jahitannya sangat rapi. Itu adalah hadiah misterius tanpa nama yang ia temukan di dalam kolong mejanya beberapa hari yang lalu, dibungkus kotak kardus cokelat sederhana dengan tulisan: “Untuk Langkah yang Tak Pernah Kalah.”
Sepatu baru itu kini tidak lagi mengeluarkan bunyi ganjil “plak-plak-plak” yang mengundang tawa miring. Sepatu itu kini melekat pas, siap melangkah dengan senyap, mantap, dan gagah, menemani sang pemiliknya berjalan menuju masa depan yang cerah, menembus segala batas hingga mimpi-mimpinya kelak berubah menjadi nyata. Dan dari balik jendela kantor guru, aku menyaksikannya dengan air mata kebahagiaan yang mengalir pelan, bersyukur bahwa di sekolah pinggiran ini, aku menemukan kembali jiwaku yang hilang.








