Sedekah yang Kau Titipkan

Sedekah yang Kau Titipkan
Karya: Sun Hadi, S.Pd., M.Pd.

Ku pernah berdiri di tepi jurang bernama menyerah
menatap papan tulis yang memudar debu kecewaku
seragam lusuhku berbisik pelan: pulanglah,
di saku hanya tersisa janji, tak cukup untuk membeli beras.

Surat pengunduran diri telah ku tulis dengan tinta gemetar,
setiap hurufnya adalah luka yang ingin ku akhiri.
Lalu suara Ibu datang, bukan amarah, melainkan doa,
menahan tanganku diambang pintu, memberi pesan.

Jangan Nak, katanya lembut selembut embun di sajadah subuh
Jadilah Petila, meski minyakmu hanya setetes.
Biarlah perihmu menjadi cahaya bagi orang lain.

Maka ku tetap menjadi guru honorer dikota seberang,
jauh dari atap rumahku sendiri gajiku tak lebih.
Tugasku lebih dari sekedar mengajar
jika pagi, aku adalah kata yang bermakna
suaraku memecah sunyi kelas, melukis tinta emas dikehidupan.

Saat murid pulang suasana riuh tawa dan cerita,
aku berganti rupa, sapuku menghempaskan ribuan daun dan debu.
Ketika mentari terdiam dalam kegelapan, aku masih terjaga
bersama jangkrik dikesunyian malam.

Sekali seminggu pulang, anak dan istri diberanda,
lelah kubungkus dalam senyuman, tak tahu punggungku
retak, menahan beban dunia.

Tapi tahukah kau Ibu?
Di tengah getir, ku menemukan makna
di situlah sedekah yang kau titikan di pundakku.

Aku tidak kaya Ibu, tapi aku utuh dan bangga menjadi guru
tetap menjaga agar pelita tidak padam di negeri ini,
doaku terucap untukmu Ibu, semoga engkau tenang disana.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan