
Selama Menjadi Guru
Selama Menjadi Guru
Ada yang bilang menjadi guru itu mulia. Ada pula yang bilang menjadi guru itu pengabdian. Saya tidak pernah terlalu nyaman dengan dua kata itu. Mulia terasa terlampau tinggi untuk saya sandang, dan pengabdian terasa seperti kata yang meletakkan saya di luar kehidupan nyata. Yang saya tahu, saya hanya datang. Setiap hari, saya datang. Dan di situlah segala sesuatu dimulai.
Saya tidak pernah merencanakan menjadi guru dengan cara yang romantis. Tidak ada momen dramatis di mana saya berdiri di depan cermin dan berkata, “Aku akan mengabdikan hidupku untuk dunia pendidikan.” Saya masuk ke dunia ini pelan-pelan, hampir seperti air yang meresap ke dalam tanah. Bermula dari sebuah tenda belajar sederhana di pinggir kali, lalu merambat ke ruang kelas yang dindingnya tak selalu rata, hingga akhirnya berdiri di samping seorang anak yang dunianya berbeda dari anak-anak lain, dan saya diminta untuk menjadi jembatannya.
Dari perjalanan itulah saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah cara saya mengenal diri sendiri, cara saya mencintai, cara saya kehilangan, dan cara saya terus mau kembali meski lelah sudah menumpuk setinggi langit-langit kelas.
Pertemuan yang Tidak Pernah Saya Duga
Pertemuan pertama yang paling saya ingat bukan di ruang kelas dengan papan tulis putih dan bangku berbaris rapi. Ia terjadi di halaman sebuah TPA di Cipeucang, di mana anak-anak yang belum pernah mengenal les atau bimbingan belajar duduk melingkar di atas tikar plastik lusuh. Saya yang waktu itu masih sangat muda, hampir tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya hanya duduk bersama mereka. Membacakan cerita. Membantu mereka menulis nama sendiri.
Di situlah untuk pertama kalinya saya memahami sebuah kebenaran sederhana: pertemuan dengan seorang murid selalu membawa sesuatu yang tidak pernah Anda tulis di dalam rencana pembelajaran. Ada anak yang datang dengan perut kosong tapi matanya penuh semangat. Ada yang datang dengan tubuh bersih tapi hatinya sedang sangat kotor oleh luka rumah. Dan ada yang tidak pernah berkata apa-apa, hanya duduk dekat saya, karena dekat itu sudah cukup.
Pertemuan-pertemuan seperti itu yang mengubah cara saya memandang pendidikan. Saya belajar bahwa guru bukan orang yang paling tahu di ruangan. Guru adalah orang yang paling mau mendengar.
Cinta yang Tidak Butuh Kata
Saya pernah mendampingi seorang anak di Sekolah X. Anak itu tidak bisa berbicara dengan lancar. Ia berkomunikasi dengan cara yang hanya ia dan orang-orang yang mau belajar bahasa tubuhnya yang bisa pahami. Setiap pagi, ia masuk kelas dan langsung mencari saya dengan matanya. Bukan karena saya guru yang hebat. Saya pikir ia mencari saya karena ia tahu saya akan tetap ada.
Ada suatu hari ketika ia berhasil menyelesaikan sebuah soal matematika sederhana yang sudah kami latih berminggu-minggu. Ia tidak berteriak. Tidak melompat. Ia hanya menoleh ke arah saya dan tersenyum tipis. Satu senyum itu lebih berat dari semua rapor yang pernah saya terima dalam hidup. Di situlah saya mengerti bahwa cinta dalam dunia pendidikan tidak selalu meletup-letup. Ia hadir diam-diam, dalam hal-hal kecil yang orang lain mudah lewatkan.
Saya pernah membaca bahwa mencintai pekerjaan adalah kemewahan. Saya tidak sepenuhnya setuju. Mencintai murid bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan. Karena tanpa itu, saya hanya akan menjadi seseorang yang berdiri di depan kelas dan berbicara ke dinding.
Keluarga yang Terbentuk Tanpa Saya Sadari
Di PKBM Y, BSD City, saya mengajar kelas yang siswanya datang dari berbagai latar belakang. Ada anak buruh, ada anak pedagang, ada yang tinggal bersama nenek karena orang tuanya bekerja di luar kota. Saya bukan hanya guru kelas mereka. Tanpa saya rencanakan, saya menjadi bagian dari keseharian mereka.
Anak-anak itu memanggil saya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang bilang “Pak Guru”, ada yang langsung sebut nama saya dengan polosnya. Dan saya tidak pernah mengoreksi mereka. Karena dalam panggilan yang berbeda-beda itu, ada sesuatu yang sama: kepercayaan. Mereka mempercayai saya dengan hari-hari mereka. Itu bukan hal kecil.
Ketika saya kemudian menjadi Supervisor di Profectus Jakarta, saya membawa memori tentang anak-anak itu. Setiap kali saya membimbing shadow teacher yang lebih muda, saya ingat bahwa di balik setiap laporan perkembangan dan catatan IEP yang kami susun bersama, ada seorang anak nyata yang sedang menunggu untuk dimengerti. Anak-anak itu bukan kasus. Mereka adalah keluarga yang dipinjamkan kepada kami untuk sementara waktu.
Perjuangan yang Tidak Selalu Terlihat
Saya ingin jujur tentang sesuatu yang jarang guru bicarakan: perjuangan itu nyata dan ia tidak selalu indah untuk diceritakan.
Ada malam-malam ketika saya duduk di depan tumpukan laporan perkembangan anak yang harus diselesaikan, sementara badan sudah sangat lelah. Ada rapat tim inklusi yang berlangsung lama tanpa kesimpulan yang memuaskan. Ada orang tua yang datang dengan penuh curiga, mempertanyakan apakah anak mereka benar-benar berkembang atau hanya didiamkan. Dan ada hari-hari ketika saya sendiri bertanya, apakah cara yang saya pilih sudah cukup?
Ketika saya sedang menempuh studi Pascasarjana Manajemen Pendidikan di tengah kesibukan mengajar dan menyupervisi, pertanyaan itu semakin sering datang. Kuliah malam, tugas yang menumpuk, dan esok pagi harus kembali mendampingi anak-anak yang kebutuhan mereka tidak bisa ditunda. Tidak ada jeda untuk bilang, “Besok saja, saya sedang capek.”
Tapi di sinilah yang aneh justru dalam titik-titik paling lelah itulah saya menemukan alasan untuk terus. Bukan karena saya kuat. Tapi karena ada wajah-wajah yang saya ingat. Anak yang kemarin belum bisa mengucapkan namanya sendiri. Anak yang hari ini tiba-tiba melambaikan tangan ke arah teman sekelasnya untuk pertama kali. Perjuangan saya selalu terasa kecil dibanding keberanian mereka.
Kehilangan yang Meninggalkan Bekas
Tidak banyak yang mau bicara tentang kehilangan dalam dunia pendidikan. Padahal ia ada. Ia nyata.
Kehilangan pertama yang paling saya rasakan adalah ketika seorang murid yang sudah lama saya dampingi harus pindah sekolah karena keluarganya berpindah kota. Tidak ada perpisahan yang dramatis. Hari itu ia masuk kelas seperti biasa, dan keesokan harinya namanya tidak ada lagi di daftar hadir. Seperti halaman buku yang tiba-tiba sobek.
Ada juga kehilangan yang berbeda: ketika sebuah program yang sudah saya bangun dengan susah payah harus dihentikan karena keterbatasan anggaran. Ketika rekan kerja yang sudah seperti saudara memutuskan untuk berhenti dan menempuh jalan lain. Ketika saya harus melepas murid yang sudah cukup mandiri untuk melanjutkan perjalanannya tanpa saya.
Kehilangan-kehilangan itu mengajarkan saya sesuatu yang tidak ada di kurikulum manapun: bahwa mendidik selalu berarti merelakan. Kita memberi yang terbaik, lalu kita harus ikhlaskan mereka pergi membawa semua yang telah kita tanamkan. Dan keikhlasan itu, pelan-pelan, menjadi salah satu keahlian terbesar seorang guru.
Hal-hal yang Membekas dan Tidak Pernah Pergi
Setelah bertahun-tahun berdiri di berbagai ruang kelas, mendampingi di berbagai sudut sekolah, dan menyupervisi di balik meja yang penuh berkas, ada hal-hal yang membekas dan tidak pernah benar-benar pergi.
Yang membekas adalah suara anak-anak yang akhirnya bisa membaca kalimat pertamanya dengan lantang. Yang membekas adalah wajah orang tua yang datang ke sekolah dengan kekhawatiran, lalu pulang dengan sedikit lebih lega setelah kita duduk bersama dan berbicara jujur. Yang membekas adalah malam-malam di mana saya menyiapkan alat peraga dari bahan seadanya, bukan karena tidak ada anggaran, tapi karena saya percaya bahwa kreativitas tidak pernah menunggu fasilitas sempurna.
Yang paling membekas adalah saat saya menyadari bahwa selama ini saya mengira sedang mengajar, padahal justru saya yang paling banyak belajar. Anak-anak berkebutuhan khusus yang saya dampingi mengajarkan saya tentang kesabaran yang sesungguhnya. Murid-murid di TPA yang belum pernah punya meja belajar mengajarkan saya tentang semangat yang tidak bergantung pada keadaan. Dan mahasiswa S2 yang duduk bersama saya di kelas malam mengajarkan saya bahwa belajar tidak mengenal akhir, tidak peduli seberapa jauh seseorang sudah berjalan.
Selama Menjadi Guru, Saya Belajar Menjadi Manusia
Saya tidak tahu persis kapan saya akan berhenti menjadi guru. Mungkin tidak pernah, karena saya percaya peran itu sudah menjadi bagian dari cara saya bernapas. Tapi kalau suatu hari seseorang bertanya, “Apa yang kamu dapat selama menjadi guru?” saya tidak akan menjawab dengan angka atau pencapaian.
Saya akan bilang: saya belajar mencintai dengan cara yang tidak menuntut balasan. Saya belajar kehilangan tanpa menjadi pahit. Saya belajar bahwa pertemuan yang sebentar pun bisa meninggalkan jejak yang bertahan lama. Saya belajar bahwa keluarga tidak selalu terbentuk dari ikatan darah, tapi juga dari ikatan ruang kelas, ikatan kesabaran, dan ikatan kepercayaan yang kita bangun satu hari dalam satu waktu.
Dan di atas semua itu, saya belajar bahwa perjuangan yang paling berarti bukan perjuangan yang disaksikan banyak orang. Perjuangan yang paling berarti adalah yang kita lakukan diam-diam, di sudut kelas yang tidak selalu bersih, bersama anak-anak yang tidak selalu dimengerti dunia, dengan hati yang tidak selalu penuh tapi selalu mau mencoba.
Selama menjadi guru, saya tidak menjadi lebih mulia. Tapi saya menjadi lebih manusia. Dan rasanya, itu sudah lebih dari cukup.




