Di balik mata anak yang tak sempat bermain
Tersimpan reruntuhan lagu-lagu yang diredam
Tak ada layang-layang menari di langit
Hanya dentum yang mengoyak musim kanak
Ia tak mengenal warna selain abu dan merah
Tak hafal dongeng selain nama-nama syuhada
Satu-satunya taman yang ia kenal
Kuburan kecil di bawah pohon zaitun tua
Rumah-rumah yang runtuh bukan lagi berita
Melainkan huruf-huruf pertama dalam alfabet luka:
A – Adzan yang tersendat di sela ledakan
B – Bom yang menyusup lewat jendela
C – Cinta yang terbungkus kafan mungil
Namun dari serpihan yang berserak
Tumbuh puisi di dinding yang retak:
“Tuhan, beri aku malam yang sunyi,
Bukan karena aku takut,
Tapi agar ibu bisa tidur tanpa mendekap bayang”
Bumi ini telah menampung terlalu banyak jasad kecil
sementara dunia sibuk menyetel ulang volume TV
Namun anak itu tetap menatap langit
Berharap suatu pagi, ia bisa berteriak bukan karena nyeri
Melainkan karena berhasil menemukan kupu-kupu

Tinggalkan Balasan