SENANDUNG PENGABDIAN GURU DI TANAH RANTAU

Di bawah lipatan peta dan bentang jarak yang membentang,
aku merawat panggilanku di tanah perantauan.
Menyimpan rindu pada pelukan rumah,
menukar kehangatan keluarga demi sebuah pengabdian yang megah.
Langkah-langkah awal kerap diuji sepi dan lelah,
namun niat telah membulat, pantang berbalik arah.
Setiap tetes keringat di tanah asing ini menjadi saksi,
bahwa ketulusan tak pernah gentar oleh jarak yang menguji.
Di balik pintu-pintu kelas yang setiap pagi terbuka,
dua ribu nyawa hadir membawa seribu warna cerita.
Dua ribu kepala dengan riak karakter yang berbeda,
menuntut sabar yang tak boleh usai mengalir di dada.
Ada yang senyap melamunkan masa depan yang kabur,
ada yang gaduh mencari arah agar tak lekas hancur.
Satu persatu kuselami jelaga dan binar di mata mereka,
menuntun jemari mungil itu merangkai kata dan cita.
Mendidik bukan sekadar menorehkan tinta di papan,
melainkan menyalakan lentera di ruang-ruang yang temaram.
Menempa jiwa, memeluk murid dengan kelembutan,
Menjadikan jiwa perantauan sebagai bahan bakar keteguhan.
Kini di antara helai-helai lembar bahasa yang kuajarkan,
kutemukan makna sejati dari sebuah pengorbanan.
Meski jauh dari asal, ribuan anak bangsa menjadi penawar,
membuat jiwa guruku terus tumbuh, kokoh, dan mekar.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan