
Menanti Aliran di Lembah Sigi
Angin sore berembus pelan melintasi hamparan tanah di Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi. Udara hangat bersisa terik siang masih menggantung tebal di atas hamparan persawahan. Di ufuk jauh, jajaran pegunungan berdiri megah membentang melingkupi Lembah Palu, menjadi saksi bagaimana musim kemarau panjang membalut tanah ini dengan kabut panas dan kekeringan yang tak kunjung usai.
Pak Sultan berdiri bersedekap di tepi jalan aspal desa yang tampak sepi. Pandangannya tertuju pada barisan pematang sawah berundak yang membentang luas di sampingnya. Saluran irigasi beton yang sejajar dengan jalan desa terlihat melongpong tanpa aliran air deras. Hanya ada sedikit genangan air keruh dangkal yang mengendap kotor di dasar parit. Biasanya, parit semen itu menjadi jalur utama yang mendistribusikan air segar bagi hektaran lahan warga di Tanambulava. Namun, musim kemarau panjang tahun ini mengubah segalanya.
Masalah utamanya bermula dari Sungai Gumbasa, urat nadi kehidupan pertanian masyarakat Kabupaten Sigi. Sungai besar yang menampung limpahan air dari kawasan pegunungan hulu itu belakangan ini kerap kali menyusut drastis, bahkan berhenti mengalir sampai ke saluran-saluran sekunder desa. Ketika debit air di pintu bendung Gumbasa merosot, pasokan air ke Sibalaya Utara pun ikut tersendat berhari-hari.
“Masih kosong, Tan?” tanya Pak Kumis, seorang petani senior yang melangkah mendekat dari arah tikungan jalan. Di bahunya bersandar sebuah cangkul yang pegangannya sudah tampak halus tergerus usia.
Pak Sultan menghela napas panjang sembari mengusap pelisirnya. “Masih begini, Mis. Pasokan dari Gumbasa belum sampai ke hilir sini. Katanya air di atas dibagi bergiliran, tapi tanah yang kering sudah menyerap air duluan sebelum sempat lewat di parit kita.”
Kedua lelaki itu menatap lesu ke arah persawahan. Di beberapa petak, permukaan tanah tampak mencokelat dengan sisa-sisa jerami gundul bekas panen paksa. Hanya ada sedikit genangan becek yang tak menentu di beberapa ceruk tanah, memantulkan bayangan langit sore yang pucat. Daun-daun kelapa yang menjulang di batas pekarangan melambai perlahan, seperti ikut mengekspresikan ketidakberdayaan tumbuhan menghadapi sengatan kemarau.
Suasana di Desa Sibalaya Utara terasa amat sunyi sore itu. Jalur jalan aspal dengan marka putih tipis di tengahnya membentang lengang, hanya diapit oleh tiang beton listrik dan parit irigasi yang mengering. Pohon pisang dan rimbun dedaunan hijau di pinggir jalan menambah kontras antara daya tahan alam dan kekeringan lahan yang dipijak warga. Dulu, setiap memasuki waktu ashar, saluran air Gumbasa selalu bergemuruh dipenuhi riak air yang sejuk. Para petani akan saling bertukar sapa di pematang sambil mengarahkan air ke petak masing-masing. Kini, percakapan warga di warung-warung kopi desa lebih sering diwarnai kecemasan akan keberlangsungan musim tanam berikutnya.
Masyarakat Desa Sibalaya Utara Kecamatan Tanambulava pada umumnya bukanlah orang-orang yang mudah mengeluh. Berada di kawasan lingkar bencana Sulawesi Tengah telah membentuk watak mereka menjadi tangguh dan pantang menyerah. Namun, urusan tanah dan air adalah soal perut dan masa depan keluarga. Tanpa aliran air Sungai Gumbasa yang stabil, bibit padi yang hendak disebar terancam membusuk dalam tanah yang mongkok, dan modal yang dikeluarkan terancam amblas begitu saja.
“Kalau sampai lusa air Gumbasa belum mengalir ke parit desa, sepertinya kita harus mulai memakai mesin pompa,” usul Pak Kumis pelan sambil berjongkok di tepi selokan semen. “Memang agak berat di ongkos solar, tapi daripada tanah ini makin mengeras seperti batu.”
Pak Sultan menatap parit beton di bawah kakinya. “Itu masalahnya, Mis. Sumur dangkal warga di dekat kebun juga mulai menyusut. Kalau terlalu banyak pompa yang menyedot bersamaan, air bawah tanah bisa habis. Kita cuma bisa berdoa semoga debit air dari hulu Gumbasa segera kembali normal.”
Matahari mulai meluncur lebih rendah di balik batas bukit, melukiskan pancaran sinar keemasan yang redup di atas air sisa yang nyaris mengering di petakan sawah. Lanskap pedesaan Sibalaya Utara di saat senja tetap menyimpan sisi keindahan yang magis—kombinasi keheningan jalan desa, tiang listrik yang kokoh berdiri, serta bayangan vegetasi hijau dan gunung di latar belakang. Namun di balik pesona alam tersebut, tersimpan pergulatan batin para petani yang menggantungkan nasibnya pada harmoni iklim.
Beberapa anak kecil melintas mengayuh sepeda di jalan aspal, tawa mereka terdengar renyah memecah keheningan sore. Bagi anak-anak itu, parit kering dan sawah becek hanyalah arena bermain yang menyenangkan tanpa perlu merisaukan rumitnya pasokan air irigasi atau urusan gagal panen. Pak Sultan tersenyum tipis melihat keceriaan itu, seolah mendapat dorongan semangat baru untuk tidak menyerah pada keadaan.
Pak Sultan berdiri tegak, merapikan letak topi di kepalanya. Ia memandang ke arah selatan, menatap jauh ke wilayah asal aliran Sungai Gumbasa yang membelah Kabupaten Sigi. Di sanalah titik awal dari segenap harapan warga Tanambulava. Mereka percaya, meski kemarau panjang kali ini menguji kesabaran sampai ke batas teratas, tanah Sigi selalu punya cara untuk bangkit dan memberikan kehidupannya kembali.
“Mari kita kembali dulu ke rumah, Mis. Nanti malam selesai shalat jamaah di masjid, kita bicarakan hal ini bersama Kepala Dusun dan kelompok tani. Kita susun jadwal penggunaan pompa sambil memohon doa agar hujan segera mengguyur Lembah Palu,” kata Pak Sultan penuh ketenangan.
Pak Kumis mengangguk mantap sambil menepuk tanah di tangannya. Kedua petani itu pun berjalan beriringan menyusuri bahu jalan aspal yang mulai temaram. Di belakang langkah mereka, hamparan sawah Sibalaya Utara terdiam tenang dalam senja, menyimpan keteguhan warga yang senantiasa setia menanti kembalinya aliran air Sungai Gumbasa membasahi persawahan mereka.






