Cece dan Lambose

 

Sejak pertemuan di awal masuk sekolah kemarin, Cece dan Tuti semakin akrab berteman. Hampir setiap hari Cece menjemput Tuti agar bisa pergi ke sekolah bersama. Tuti sangat senang dengan Cece, selain Cece berparas cantik, selama ini Cece juga selalu bersikap baik kepadanya. Tidak sekalipun Cece bersikap dan bertutur kasar kepada Tuti.
Beberapa bulan kemudian, kegiatan belajar di SMPN 7 Singkawang masih sama seperti awal masuk dahulu. Cece dan Tuti juga masih bersahabat dan mengikuti pelajaran tanpa hambatan. Namun, ada satu hal yang berbeda di kelas mereka. Wali kelas mereka hari ini masuk ke kelas dengan mendampingi seorang siswa yang tak dikenal oleh siswa di kelas tersebut. Tampaknya ada siswa baru yang akan diperkenalkan wali kelas hari ini.
“Anak-anak, hari ini ibu akan memperkenalkan teman baru untuk kalian,” ucap wali kelas kepada siswa kelas VII A. Siswa yang ada di kelas spontan riuh dan ada juga yang berbisik-bisik. “Anak-anak sekalian, mohon tenang, ibu akan menyampaikan informasi tentang teman baru kalian ini,” ungkap wali kelas menenangkan siswa. “Teman baru kalian ini bernama Aminah, ia baru saja pindah dari Jawa Timur karena ayahnya pindah tugas ke Singkawang ini,” papar wali kelas. Aminah pun segera menyapa seluruh siswa yang ada di kelas VII A, “Hai semua, salam kenal,” ucap Aminah yang masih malu-malu. Wali kelas pun mempersilakan Aminah untuk menempati tempat duduk yang kosong dan berharap ia bisa berkenalan dengan siswa yang lain.
Selepas belajar di kelas, bel tanda istirahat pun berbunyi. Seluruh siswa berhamburan menuju kantin sekolah. Ada juga yang masih setia di tempat duduknya karena akan menyantap bekal dari orang tua. Termasuk Cece dan Tuti yang setiap hari tidak pernah ke kantin karena mereka selalu membawa bekal.
Cece dan Tuti sambil bercanda menyantap bekal yang mereka bawa. Saat itu, di kelas juga ada siswa-siswa yang lain. Ada yang bermain, ada yang belajar, bahkan ada juga yang tertidur di kelas. Aminah yang merupakan siswa baru tampak canggung untuk menegur siswa lain di kelas. Cece dan Tutilah yang menegurnya terlebih dahulu. “Hai Aminah, kamu tidak ke kantin?” tanya Cece sambil tersenyum. “Oh tidak, saya malu rasanya mau ke luar kelas karena belum ada teman yang saya kenal,” jawab Aminah malu-malu. “Oh, ya sudah, gabung saja sini sama kami berdua, Cece ada bawa bekal banyak tuh,” ungkap Tuti kepada Aminah. Aminah yang masih malu-malu akhirnya mau juga bergabung dengan Cece dan Tuti yang memang pandai bergaul.

Hari tersebut dilalui Aminah dengan bahagia. Pasalnya ia telah memiliki teman yang sangat baik padanya. Bel tanda pulang berbunyi dengan nyaring. Siswa-siswa berdoa dan segera pulang ke rumah masing-masing. “Cece, Aminah, nanti sore kalian ada kegiatan atau tidak?” tanya Tuti. “Aku sih tidak ada,” jawab Cece. “Kalau kamu Aminah?” Tuti kembali bertanya. “Bagaimana ya, nanti kalau orang tuaku mengizinkan, aku ikut deh, emangnya ada apa?” tanya Aminah. “Begini, besokkan ada pelajaran Olahraga, aku akan mengajak kalian untuk bermain Lam Bo Se, jadi sore ini kita bikin tali karetnya, nanti aku jelasin deh apa itu Lambose, bagaimana?” tanya Tuti. “Oke deh,” jawab Cece dan Aminah serentak. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Sore harinya, Tuti telah mempersiapkan karet gelang yang sangat banyak dan beragam warnanya. “Assalamualaikum, Tuti,” ucap Aminah yang ternyata diizinkan untuk pergi ke rumah Tuti. “Walaikumsalam, silakan masuk Aminah, kita tunggu Cece ya,” jawab Tuti. Tak lama kemudian, Cece pun datang menggunakan sepeda miliknya. “Selamat sore semuanya, maaf telat tadi bantu mama dulu di warung,” ucap Cece.
Tuti pun segera menjelaskan tentang apa yang akan mereka buat dan apa yang akan mereka mainkan. “Baiklah, aku tanya dulu, Aminah kamu tau tidak apa itu Lambose?” tanya Tuti. “Apa itu ya, makanan atau binatang apa itu,” jawab Aminah dengan polos dan sambil tertawa. “Kalau kamu Ce?, tanya Tuti. “Kalau aku ya tidak tau lah, aku kan orang China,hehehe,” Jawab Cece bingung. Lambose itu permainan tradisional orang Melayu. Kita memainkan permainan ini menggunakan tali yang dibuat dari karet gelang. Besok aku ajarin kalian cara memainkannya. Sore ini kita buat dahulu talinya. Mereka bertiga pun sambil bercanda membuat tali untuk Lambose. Tali inilah yang nanti akan digunakan untuk bermain lambose di sekolah.

Keesokan harinya, siswa kelas VII A sudah berbaris di lapangan voli SMPN 7 Singkawang. Pak guru memimpin senam untuk semua siswa. Setelah itu, siswa diberikan materi tentang atletik oleh guru Olahraga. “Baiklah anak-anak, sekarang masih ada waktu 20 menit, bapak persilakan kepada kalian untuk bermain dengan teman-teman kalian sambil menunggu waktu istirahat,” ucap guru Olahraga kepada siswa kelas VII A. Tuti, Cece, dan Aminah segera ke pojok lapangan dengan membawa tali yang telah mereka buat kemarin.

“Cece, kamu kan tidak tahu ya apa itu Lambose,” ucap Tuti. “Lambose itu, anggap saja permainan lompat tali, tali yang kita buat kemarin inilah yang menjadi alat permainan kita,” jelas Tuti kepada Cece. “Oh, ini Lambose, ada juga di Jawa Timur, Cuma kami menyebutnya main lompat tali,” ungkap Aminah menjawab. “Jadi, Cece aja nih yang tidak tau Lambose, mari kita main,” ungkap Tuti. Tuti pun dengan sigap mengajari Cece yang masih kaku memainkan Lambose. Pada awalnya Tuti yang memperagakan untuk melompat di tali yang sedang berputar. Tali ini diputarkan oleh Cece dan Aminah. Cece tampak kaku, meskipun ia selalu terlihat gembira.

Sedang asyiknya mereka bermain, rekan-rekan mereka menghampiri mereka bertiga. “Hey kalian, main apa ini, kok kampungan banget sih?” ungkap seorang siswa mengejek mereka. “Memangnya kalian ini tidak tau teknologi ya, hari gini kok masih main yang kayak begituan?” ungkap teman yang lain. Tuti dan Cece yang merupakan siswa lama, berani menjawab ejekan teman-temannya. “Hey kalian, apa mau kalian ini, kami ini sedang memainkan permainan tradisional, bukan berarti kami ini gaptek ya, ingat itu,” ungkap Tuti dengan jengkel. “Ah, bilang aja kalau kalian itu kampungan, tidak modern kalian itu bertiga,” tambah siswa lain yang tepancing dengan amarah Tuti. Ejek-ejekan pun berlanjut sehingga Tuti dan rekan yang mengejekannya itu hampir berantem. Untung saja bu guru cepat datang dan melerai mereka.

Setelah bu guru melerai mereka, siswa yang nakal tersebut tidak lagi mengganggu mereka bertiga yang bermain Lambose. Cece yang kembali menikmati permainan, kini sudah mulai mencoba untuk ikut melompat. Cece yang merupakan remaja Tionghoa kini juga tau akan permainan tradisional yang ada di Singkawang. “Tuti, Aminah, asyik juga ya main Lambose ini, sekarang aku jadi tau cara mainnya,” ungkap Cece dengan penuh kegembiraan. “Besok kita main lagi ya, aku jadi suka main Lambose ini,” tambahnya. “OK, Ce, besok kita main lagi ya,” jawab Tuti penuh semangat.

Setelah berolahraga, siswa kelas VII A melanjutkan mata pelajaran selanjutnya. Kali ini, Bu Hesty yang masuk ke kelas mereka. Kebetulan saat ini mata pelajaran Seni Budaya dan Bu Hesty menjelaskan tentang permainan tradisional. “Anak-anak, ada yang tau permainan tradisional di Singkawang?” tanya Bu Hesty. Seketika kelas menjadi hening sejenak. “Bu, saya tau, ada permainan lompat tali, biasanya kami sebut dengan nama Lambose,” jawab Tuti dengan semangat. “Wah, benar kamu Tuti, Singkawang ini punya permainan tradisional yang namanya Lambose, walaupun saat ini banyak remaja yang tidak lagi mengenal permainan  tersebut,” jelas Bu Hesty. Bu Hesty pun kembali menjelaskan kepada siswa pentingnya mengetahui dan menjaga permainan tradisional ini.

“Anak-anak sekalian, kita di Singkawang ini pernah memiliki permainan tradisional yang sangat banyak, Lambose satu di antaranya. Saat ini, kalian boleh memiliki HP yang canggih, mainan yang modern, dan kalian juga boleh main di warnet. Akan tetapi, ingat bahwa permainan tradisional itu dapat membuat kalian saling mengenal satu dengan yang lain tanpa membedakan etnis, suku, dan agama. Oleh karena itu, ibu mengimbau kepada kalian semua untuk tetap menjaga kelestarian permainan ini agar kalian tidak bersifat individual dan selalu dapat menghargai perbedaan yang ada.” Papar Bu Hesty kepada siswa. Setelah mendengarkan penjelasa Bu Hesty, siswa-siswa yang lain juga mulai ikut bermain Lambose bersama Tuti, Cece, dan Aminah. Mereka tidak lagi membeda-bedakan teman dan tidak lagi mengejek teman yang memainkan Lambose di sekolah. Ternyata, benar kata Bu Hesty bahwa permainan tradisional, seperti Lambose sangat bermanfaat bagi siswa dalam menjalin persahabatan dan menjaga kelestarian budaya lokal.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan