
Sunyi yang Hafal Namamu
Aku menyukaimu seperti bulan menyukai laut:
dari jauh, tanpa suara, hanya menarik pasang di dada.
Kau tak pernah tahu betapa deras sesuatu bergolak
setiap kali langkahmu lewat di ujung lorong.
Kusimpan namamu di balik lidah, sebagai doa yang tak selesai.
Di tengah keramaian, tawamu kujadikan peta;
kuikuti ke mana pun arahnya, lalu berpura-pura
kita hanya kebetulan berpapasan di sana.
Pernah kau menoleh, dan waktu berhenti memutar jarumnya.
Kukira seluruh semesta menahan napas bersamaku,
tetapi kau hanya mencari seseorang di belakangku,
dan aku belajar tersenyum pada yang tak ditujukan padaku.
Perasaan ini tak butuh panggung, tak butuh sorak.
Cukup tahu kau baik-baik saja, cukup mengenal
cara matamu menyipit ketika tertawa;
itu pun sudah lebih dari alasan untuk bersyukur.
Jika suatu hari angin membawa rahasia ini kepadamu,
jangan merasa bersalah, jangan tergesa membalas.
Aku hanya ingin kau tahu: pernah ada seseorang
yang menyukaimu paling pelan, dan paling tulus, dalam sunyi.






